| Kamis, 15 Juni 2006 | OLAHRAGA |
Pemain Persis Dievakuasi ke Polres
PROBOLINGGO- Pertandingan lanjutan Kompetisi Divisi I Grup III antara Persis Solo dengan tuan rumah Persibo Bojonegoro di Stadion Sudirman berakhir ricuh. Setelah lepas dari kepungan suporter, para pemain berikut ofisial Persis yang terus dilindungi tameng polisi baru bisa keluar dari stadion pada pukul 19.00 atau 1,5 jam setelah pertandingan selesai pada pukul 17.30 WIB. Untuk menghindari adangan kemarahan para suporter tuan rumah, mereka terpaksa dievakuasi ke Mapolres setempat dengan menggunakan bus milik tuan rumah sebelum diantar ke perbatasan untuk melanjutkan perjalanan ke Solo. Mereka tidak sempat mampir ke hotel tempat menginap. Barang-barang dan bekal mereka diurusi salah seorang ofisial dengan pengawalan ketat. Akibat kericuhan tersebut, lima suporter Persibo diamankan polisi, seorang petugas Satpol PP Pemkab Bojonegoro menderita luka-luka dan lima tameng Satpol PP pecah karena terkena lemparan batu. Di depan stadion terjadi kericuhan lagi dan suporter Persibo bentrok dengan petugas Dalmas Polres Bojonegoro, karena mereka melakukan aksi lempar batu sehingga mengenai sejumlah kendaraan termasuk kendaraan Dinas Komandan Kodim 0813 Bojonegoro Letkol Inf Suratin BW, yang juga Ketua Persibo dan bus yang ditumpangi pemain Persis. Pertandingan berakhir imbang 1-1. Laskar Sambernyawa memimpin terlebih dulu melalui tendangan ujung tombak asal Afrika Kotto Ekoka Charles pada menit ke-32. Sepuluh menit kemudian ''The Boro'' baru bisa menyamakan kedudukan melalui pemain tengah, Hendri Puji Lesmono. Dengan hasil imbang itu, Persis yang meraih poin 25 dari 13 pertandingan turun ke peringkat dua klasemen sementara. Persebaya yang menang 1-0 melawan Persedikab Kabupaten Kediri di Stadion 10 November, kemarin, kembali mengambil alih pimpinan klasemen. Dari 12 kali bertanding, Persebaya mengoleksi 26 poin. Kedua kesebelasan punya peluang besar melaju ke babak ''8 Besar'' dibanding tim lainnya. Keras Sejak Awal Tim tuan rumah Persibo yang ingin membuka peluang untuk bisa lolos ke babak delapan besar berusaha memenangkan pertandingan. Mereka juga ingin membalas kekalahan 0-1 ketika bermain di Stadion Manahan Solo pada putaran pertama lalu. Dengan permainan ngotot dan cenderung kasar serta dukungan dari sekitar 5.000 supoter, anak-anak asuhan Sanusi Rahman mampu menguasai pertandingan pada awal babak pertama. Namun mulai menit ke-15, Agung Setyabudi dkk sudah mulai panas dan menemukan kepercayaan diri mampu mengimbangi permainan lawan. Persis unggul lebih dulu pada menit ke-32. Ujung tombak Kotto Ekoka Charles mampu menjebol gawang lawan yang dikawal Nogroho Brahmantiko setelah terjadi kemelut di daerah kotak pinalti, 1-0. Tertinggal 0-1, Hery Purnomo dkk meningkatkan tempo permainan. Dukungan para suporter tampaknya juga memberikan suntikan semangat pada para pemain tuan rumah hingga tampil kesetanan. Hasilnya pada menit ketiga menjelang turun minum, pemain tengah Hendri Puji Lesmono mampu melesakan bola ke gawang hingga tidak bisa disentuh kiper Persis, Ari Supriyarso, 1-1. Memasuki babak kedua, Persis mendapat teror dan lemparan penonton. Konsentrasi mereka terpecah antara permainan di lapangan dengan upaya untuk menyelamatkan diri dari teror. Kemarahan penonton juga dialamatkan pada wasit Syarifudin. Wasit asal Bandung itu dianggap berat sebelah dan memihak Persis. Apalagi setelah dia tidak memberikan hadiah penalti ketika salah seorang pemain tuan rumah dijatuhkan lawan di kotak terlarang. Seakan tidak menghiraukan imbauan Kapolres Bojonegoro AKBP Hery Wibowo, pendukung tuan rumah menjebol beberapa pagar pembatas pada 10 menit menjelang bubar. Namun ulah mereka untuk masuk lapangan masih bisa dihalau petugas. Hingga permainan 45 babak kedua selesai tidak ada gol tercipta, skor tetap bertahan imbang 1-1. ''Anak-anak sudah tampil optimal. Hasil imbang 1-1 sudah cukup bagus demi keamanan anak-anak,'' kata Ketua Umum Persis, FX Hadi Rudyatmo. (G8,D11-28) |