| Kamis, 15 Juni 2006 | OLAHRAGA |
Bintang Masa Lalu Bernostalgia di JermanGERMANY 2006 dimanfaatkan beberapa mantan pelatih dan pemain untuk bernostalgia. Atmosfer sepak bola yang terus memanas, tampaknya membuat mereka tak tahan untuk ikut berkiprah. Kedatangan para bintang masa lalu itu bukan sebagai penasihat atau melakukan aktivitas yang ada hubungannya dengan persiapan tim. Mereka menyempatkan diri ke Deutschland sebagai orang biasa. Ketika Prancis ditahan Swiss 0-0 di Stuttgart, Aime Jacquet terlihat di tengah-tengah suporter Les Bleus. Jacquet terekam kamera dalam ekspresi kecewa tatkala Zinedine Zidane cs gagal memanfaatkan peluang emas. Kendati tak lagi menangani tim, dia sepertinya tak bisa melupakan sepak bola. Jacquet sangat dihormati karena jasanya membawa Les Bleus merebut Piala Dunia 1998 di kandang sendiri. Setelah prestasi besar itu, dia menyingkir dan menutup kariernya sebagai pelatih. Marcel Desailly, palang pintu Prancis di Piala Dunia 1998, juga tak mau berdiam diri. Dia berada di Stuttgart dan bersedia pula mengeluarkan komentarnya tentang kekuatan pasukan Raymond Domenech. Menurut Desailly, prospek tim besutan Domenech kurang menjanjinkan. Dia menilai, dalam seleksi pemain, Domenech keliru karena tak memasukkan Ludovic Giuly. Padahal, Giuly telah membuktikan kemampuannya bersama Barcelona. Johan Cruyff juga memanfaatkan event akbar ini sebagai media bernostalgia. Mantan kapten Belanda ini merasakan pahitnya kekalahan pada final melawan Jerman (Barat), 32 tahun silam. Seperti Jacquet, eks bintang Ajax Amsterdam ini tak lagi mau menangani tim. Cruyff lebih suka jadi komentator. Dia pun tak menolak ketika dipercaya Joan Laporta, bos Barcelona, sebagai penasihat. ''Peluang Belanda untuk juara sangat terbuka. Saya senang dengan penampilan beberapa pemain muda, terutama Arjen Robben,'' kata Cruyff. Dukungan Maradona Maradona, yang tampil di Piala Dunia 1982, 1986, 1990 dan 1994, juga tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengunjungi Jerman. Dia bahkan menjadi suporter khusus Tim Tango. Tak tanggung-tanggung, pemain legendaris itu mengajak istri, putri dan saudaranya. Mereka menyaksikan langsung kemenangan pasukan Jose Pekerman atas Pantai Gading. Maradona tetaplah Maradona. Kendati kehidupannya dipenuhi kontroversi, untuk negara dia tetap loyal. Dia tak malu ikut berjingkrak-jingkrak tatkala Hernan Crespo dan Javier Saviola mencetak gol. Dari Brasil, Pele juga hadir di arena Piala Dunia 2006. Selama di Jerman, Pele menyempatkan diri membintangi sebuah iklan di televisi bersama anak-anak. Dia pun sangat akrab dengan Franz Beckenbauer, ketua panitia Germany 2006, dan Ketua FIFA Sepp Blatter. Giovanni Trapattoni, eks manajer Italia, berada di Jerman dengan dua tujuan. Pertama jelas untuk bernostalgia dan bertemu kawan-kawan lama. Yang kedua, melakukan berbagai persiapan bareng Lothar Matthaeus. Atas inisiatif Beckenbauer, klub Austria, Salzburg, mengontrak Matthaeus sebagai pelatih dan Trapattoni jadi manajer. Rudi Voeller dan Berti Vogts selalu menyaksikan langsung ketika negaranya berlaga. Voeller menangani Tim Panser 2000-2004, sedangkan Vogts 1990-1998. Voeller, kini direktur olahraga Bayer Leverkusen, masih bersedia dimintai komentar. Sebaliknya, Vogts jarang sekali. Meski demikian, bekas bek itu diberi tugas Persatuan Sepak Bola Jerman (DFB) sebagai pemantau tim.Sampai kapan pun mereka tak mungkin melupakan sepak bola. (Edi Indarto, dari Frankfurt-22) |