logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 15 Juni 2006 SEMARANG
Line

Menengok Bisnis Pembuatan Arang

Supri Sehari-hari Bergaul dengan Asap

HARGA Bahan Bakar Minyak (BBM) yang terus melambung sejak beberapa tahun lalu, ternyata membawa berkah bagi Supri (43), warga Dusun Dempel, Desa Candi, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang.

Bagaimana tidak? Kenaikan harga BBM memunculkan ide usaha membuat arang yang sebelumnya tidak terpikirkan. Usaha tersebut baru digelutinya sekitar dua tahun ini setelah dia belajar kepada seseorang mengenai proses membuat arang. Namun, saat itu belum terpikirkan karena harga arang masih sangat murah.

Setelah mendengar kabar arang banyak diminati kembali untuk rumah tangga dan bisnis warung makan, Supri nekat memulai usaha tersebut dengan modal seadanya. Bahkan, usaha lamanya sebagai pemotong kayu mulai ditinggalkan, meski sesekali ada pesanan untuk memotong kayu masih dijalaninya.

Untuk mendapatkan kualitas arang yang bagus, setidaknya dibutuhkan empat hari proses pembakaran yang harus dijaga setiap saat. Sebab, jika panas api pembakaran berkurang, arang tidak akan terbentuk dengan sempurna.

Proses pembuatan arang dimulai dengan menumpuk kayu (bakal arang), kemudian dibakar dan ditutupi tanah atau pasir. Timbunan arang yang dibuat layaknya gunung kecil itu memiliki diameter lingkaran sekitar 1,5 meter dan tinggi setengah meter.

Pembakaran arang menggunakan jerami yang diperolehnya dari para petani, tidak jauh dari tempat tinggalnya. Pembakaran itulah yang harus dijaga Supri bersama dua karyawannya secara bergantian selama empat hari.

''Dalam satu kali proses pembakaran saya membuat dua timbunan arang sekaligus dengan total arang yang didapat sekitar 1,5 ton,'' papar Supri saat ditemui di lokasi pembakaran.

Tidak semua orang terbiasa berada di lokasi tempat pembuatan arang. Ini karena di sekitar tempat itu dipenuhi asap hasil proses pembakaran. Bahkan, mereka akan terbatuk-batuk atau menutup hidung dan mulut agar tidak menghirup asap. Namun, bagi keluarga Supri dan dua karyawannya, kondisi itu hal biasa.

Kayu Kelengkeng

Selain proses pembakaran yang harus dijaga agar diperoleh arang kualitas baik, bahan baku kayu pun harus diperhatikan. Bahan baku yang digunakan untuk membuat arang adalah kayu pohon kelengkeng, yang juga diperolehnya dari beberapa tempat di sekitar Salatiga. Menurutnya, kayu kelengkeng merupakan bahan baku terbaik untuk menghasilkan arang kualitas bagus yang banyak dicari pembeli.

''Kalau kayu lain tidak menghasilkan panas dengan sempurna.''

Harga jual kepada pembeli atau tengkulak yang umumnya langsung mendatangi lokasi pembuatan arang Supri Rp 1.500/kg. Konsumennya berasal dari Salatiga, Semarang, Ungaran, dan beberapa daerah lainnya.

Dari bisnis tersebut, Supri mengaku mampu mempekerjakan dua karyawan dan menghidupi keluarganya. (Surya Yuli P-37)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA