| Kamis, 15 Juni 2006 | KEDU & DIY |
Pondok Pesantren Asmawi Dibangun Kembali
BANTUL - Peresmian pembangunan asrama putri Pondok Pesantren Yayasan Mohammad Idris Asmawi oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X di Dusun Tajeman, Wonokromo, Pleret, Kabupaten Bantul, Rabu (14/6), dianggap sebagai tanda kebangkitan masyarakat Bantul yang sejak 27 Mei 2006 terpuruk akibat diguncang gempa bumi berkekuatan 5,9 skala Richter yang meluluh-lantakkan infrastruktur di Kabupaten Bantul. Peresmian itu ditandai dengan pembukaan selubung papan nama asrama putri. Sri Sultan menandaskan bahwa peresmian itu dapat dijadikan sebagai pepenget/pepeling bagi masyarakat Bantul, bahwa dalam keadaan bagaimanapun juga, apabila kita guyub rukun bergotong-royong dengan semangat Bandungbondowoso, ternyata mampu juga membangun sebuah asrama dengan luas 8x14 dalam 5 hari. Sementara itu, pimpinan pondok pesantren KH Muchtarom Idris dalam laporannya menjelaskan, pondok pesantren yang diasuhnya itu dibangun kembali, karena roboh rata dengan tanah saat diguncang gempa. Berdasarkan hasil kesepakatan warga, asrama putri ini segera dibangun kembali. Keberhasilan pembangunan fasilitas pendukung pondok pesantren ini, menurut KH Muchtarom Idris, merupakan wujud masih kentalnya semangat gotong royong warga Bantul, sehingga pembangunan pondok pesantren yang luasnya 8x14 m itu dapat diselesaikan dalam waktu 5 hari, meski sebagian bahan baku dindingnya dari bambu. Jumlah Santri Yang menuntut ilmu di pondok pesantren ini 83 santri putra/putri berasal dari berbagai daerah dari seluruh Indonesia, seperti Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Semarang, Jawa Barat, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, dan dari DIY sendiri. Pondok pesantren ini berdiri tahun 1990, bersamaan dengan berdirinya Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT). Sampai sekarang telah ratusan santri menamatkan pendidikan di pondok pesantren tersebut. Keberhasilan penyelesaian pembangunan asrama ini atas kerja sama seluruh pihak, baik masyarakat sekitar pondok, orang tua santri dan relawan. Sementara bahan bambu dan tenaga untuk mengolah bambu didatangkan dari Magelang. Lebih lanjut KH Muchtarom Idris mengatakan, kebutuhan mendesak untuk berjalannya pengajaran di pondok pesantren ini adalah penambahan bangunan asrama dan pembangunan kembali Sekolah Dasar Islam Terpadu yang ikut hancur diguncang gempa. Di samping itu, kebutuhan mendesak saat ini adalah tenda, karena sampai sekarang, santri dan ustad masih berdesak-desakan tidur di bawah tenda yang jumlahnya sangat terbatas. (sgt-24) |