logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 15 Juni 2006 BANYUMAS
Line

Tungku Briket Gergajian Kayu Mulai Diminati

SOLUSI untuk bahan bakar alternatif di tengah menggilanya harga bahan bakar minyak menjadi sebuah kabar yang menggembirakan, terutama bagi sebagian orang yang berpenghasilan menengah dan kerap menggunakan bahan bakar minyak dalam memenuhi kebutuhannya.

Kegelisahan itu rupanya ditangkap dan direspons oleh Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Banjarnegara, dengan membuat tungku berbahan bakar serbuk gergajian dan serutan kayu. Bahan bakarnya, yang merupakan limbah industri kayu itu, dirasakan cukup ekonomis dan mudah didapatkan.

''Selain membuat tungkunya, kami juga telah membuat briket gergajian kayu sebagai bahan bakarnya, sehingga memudahkan pengguna. Dengan briket, maka akan lebih praktis daripada menata sendiri serbuk ke dalam tungku,'' papar Sekretaris HKTI Kabupaten Banjarnegara, Sutrisno.

Pusat pembuatan tungku dan briket kayu gergajian itu berada di Desa Pucang, Kecamatan Bawang, Banjarnegara. Pengelolanya adalah para anggota HKTI di desa tersebut, yang dikoordininasi oleh Dwi Imam Budiarto. ''Ide itu memang diilhami dari berbagai tungku sejenis yang telah digunakan oleh sejumlah orang. Namun, kami bisa lebih maju dengan membuat serbuk gergajian sebagai bahan bakarnya dalam bentuk briket,'' tutur Budiarto, sembari menunjukkan cara pembuatan tungku dan briketnya.

Sejumlah keuntungan bisa diperoleh, dengan menggunakan tungku berbahan bakar alternatif tersebut. Di antaranya lebih hemat, karena harga briketnya terhitung murah, yakni Rp 500, dan untuk memasak sehari cukup tiga buah briket. Praktis, sehari hanya membutuhkan uang sebesar Rp 1500 saja untuk keperluan masak satu rumah.

''Dibandingkan dengan bahan bakar minyak, jelas hal itu lebih murah. Namun, diakui, memang hal itu belum memasyarakat, karena belum semua orang tahu ada bahan bakar alternatif tersebut,'' jelasnya.

Cocok

Dia mengemukakan, tiga buah briket seharga Rp 1500 itu bisa dibakar selama tiga jam, dengan panas yang konsisten. Proses masak dengan menggunakan tungku tersebut juga lebih cepat. Bagi industri rumah tangga, lanjut dia, yang biasa menggunakan bahan bakar minyak, jelas lebih hemat bila menggunakan tungku briket gergajian kayu tersebut.

Hanya, kata dia, harga tungkunya bagi sebagai masyarakat ekonomi lemah memang masih agak mahal. Untuk ukuran besar (setengah drum minyak), biasanya untuk industri rumah tangga dihargai Rp 150 ribu, sedangkan yang berukuran sedang (tinggi 36 cm, diameter 18 cm) seharga Rp 50 ribu, dan yang berukuran kecil sebesar kaleng biskuit dihargai Rp 15 ribu.

''Meski sudah mulai banyak yang menggunakannya, namun kami masih terkendala masalah permodalan. Dahulu bersama HKTI, kami membutuhkan dana Rp 5 juta untuk uji coba dan proses perwujudan ide itu,'' urainya.

Dalam waktu dekat ini rencananya alat untuk membuat briket gergajian kayu tersebut akan didatangkan lagi.

Alat itu adalah hasil pengembangan dari alat yang sekarang telah ada untuk membuat briket yang lebih bagus kualitasnya. (M Syarif SW-36h)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA