logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 12 Juni 2006 WACANA
Line

Merindukan Sekolah Bertaraf Internasional

  • Oleh Soedjono

Kita menanti sebuah perubahan menuju pada paradigma kemajuan kinerja sekolah yang menurut Lippid, Watson, dan Westley berada pada tahapan perubahan the development of need for change. Tahap ini berisi tentang kebutuhan yang dirasakan oleh orang-orang dalam organisasi untuk mengadakan perubahan.

DEPARTEMEN Pendidikan Nasional telah menunjuk sepuluh SMA di Jawa Tengah dan sekitar seratus sekolah di Indonesia untuk melaksanakan program Sekolah Nasional Bertaraf Internasional (SNBI). Ini bukan program yang terburu-buru karena rencana pelaksanaannya sudah santer terdengar sejak dua tahun lalu. Program ini digulirkan sebagai bentuk kesiapan masa depan bangsa dengan membekali siswa menghadapi tantangan global yang multi kompetisi.

Dengan program SNBI diharapkan akan dicapai proses peningkatan kualitas yang berkesinambungan sehingga peningkatan kinerja sekolah akan terus dipacu.

Kesenjangan yang dihadapi sekolah selama ini adalah sebagian besar siswa cakap berbahasa Inggris, namun di sisi lain gurunya gagap berbahasa internasional.

Bagaimana mungkin siswa terfasilitasi dengan baik jika gurunya tidak terampil. Padahal lulusan SNBI diharapkan mempunyai kompetensi yang mampu menjawab tantangan global dengan cakap berkomunikasi dan memanfaatkan teknologi komunikasi.

Yang ingin dicetak adalah sekolah nasional dengan kurikulum nasional namun diadakan adaptasi sehingga mampu menghasilkan lulusan yang kompetensinya diakui secara nasional maupun internasional.

Dalam pembelajaran dituntut menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.

Guru harus berupaya meningkatkan potensi diri sehingga mampu melayani siswa menjadi fasilitator dengan menggunakan media pembelajaran yang modern. Untuk mendukung terciptanya suasana pembelajaran yang kondusif guru harus membuat persiapan mengajar yang komprehensif.

Sistem pembelajaran tanpa persiapan yang masih dilakukan banyak guru harus mulai ditinggalkan. Mereka harus siap dengan persiapan dan media pembelajaran interaktif.

Penerapan manajemen berbasis sekolah dengan kepala sekolah sebagai manager harus mampu mengelola sumber daya yang ada di sekolah secara efektif dan efisien. Orang tua siswa dan pihak-pihak lain yang terkait merupakan mitra kerja yang harus diajak kerja sama. Kepedulian yang tinggi dari para stakeholder menjadi salah satu kunci sukses pelaksanaan SNBI.

Peran kepala sekolah sangat besar dalam memacu semangat warga sekolah mengikuti paradigma untuk maju dan terus meningkatkan potensi diri. Karena sesungguhnya yang ingin dibidik dari program SNBI adalah kemauan warga sekolah untuk mau belajar dan mengikuti perkembangan sain dan teknologi. Kelas berbahasa Inggris bukanlah syarat utama melainkan hanya sebagai salah satu ciri (berbeda dari suasana kelas imersi ).

Yang ingin dijadikan target dalam SNBI adalah perubahan masyarakat sekolah untuk selalu mengembangkan dirinya mulai dari kepala sekolah sampai guru.Guru harus profesional dalam menjalankan tugas dan bersinergi memfasilitasi siswa mencapai prestasi puncak sesuai dengan mutu lulusan yang diharapkan. Masyarakat modern sudah merindukan sosok guru yang mempunyai dedikasi tinggi, profesional, kreatif, dan menyenangkan.

Juga sosok guru yang tidak segan pulang sore karena harus melakukan remidial dan pengayaan.Bukan sosok guru yang terburu-buru saat masuk kelas dengan materi pembelajaran seadanya.

Prinsip penyelenggaraan SNBI tidak boleh bertentangan dari penyelenggaraan pendidikan menurut PP 20/2003, yaitu demokratis, berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak azasi manusia. Jadi dalam SNBI tidak akan terdapat kelas eksklusif.

Semua kelas inklusif karena pelaksanaan tidak berbasis kelas melainkan berbasis sekolah. Sehingga semua siswa akan mendapat pelayanan sama. Siswa yang berprestasi akan tetapi dari ekonomi kurang mampu juga akan dipikirkan. Program beasiswa akan terus ditingkatkan.

SNBI memprasyaratkan implementasinya harus menggunakan kurikulum nasional (modifikasi), wajib mengikuti UN, ujian internasional, proses pembelajaran dan manajemen berbasis pada kultur Indonesia.

Sekolah pelaksana tentu juga mempunyai program unggulan lain yang beragam sesuai dengan tuntutan mutu lulusan tersebut dan kondisi daerah di mana sekolah itu berada. Secara umum jabaran kegiatan yang terlihat dari program SNBI antara lain penerbitan buletin berbahasa Inggris, KBM yang bervariasi, dan penyusunan adaptasi kurikulum.

Dari gambaran kegiatan ini menunjukkan sekolah pelaksana perlu mempersiapkan diri secara matang untuk menyongsong kegiatan tahun ajaran baru yang akan mengubah wajah sekolah konvensional secara perlahan-lahan menuju sekolah modern. Dituntut sikap seluruh warga sekolah yang bijaksana untuk mau menerima perubahan.

Bahwa untuk tahun pelajaran 2006/ 2007 para guru harus siap tidak hanya dengan lesson plan dan media pembelajaran berbasis ICT akan tetapi juga kecakapan berbahasa Inggris. PP No 19/2005 menegaskan bila sekolah telah melampaui standar pendidikan nasional maka dinyatakan sebagai sekolah mandiri. Dengan demikian sekolah tersebut wajib meningkatkan kualitas pendidikannya sehingga berwawasan internasional.

Kita menanti sebuah perubahan menuju pada paradigma kemajuan kinerja sekolah yang menurut Lippid, Watson, dan Westley berada pada tahapan perubahan the development of need for change. Tahap ini berisi tentang kebutuhan yang dirasakan oleh orang-orang dalam organisasi untuk mengadakan perubahan. Bila ada konsultan sifatnya hanya membantu dalam mendiagnosis masalah sedangkan tanggung jawab terhadap perubahan tetap berada di tangan orang-orang yang berada dalam organisasi.

Demikian juga dengan kegiatan pendampingan yang melibatkan tenaga ahli dari luar hanya bersifat sementara.

Perubahan sering harus dilakukan karena terpaksa. Bagi warga sekolah yang belum siap melaksanakan SNBI memang harus terpaksa siap. Adanya pemaksaan yaitu ancaman atau kekuatan langsung terhadap para penolak ini karena jika tidak siap mereka akan tertinggal. Para guru harus mengajar siswa SNBI dan tidak ada pilihan siswa selain siswa SNBI. Perubahan selalu mengancam status quo, sesuatu yang mula-mula tercapai tanpa kerja ekstra keras sekarang harus kerja untuk meraih hasil sesuai dengan yang diharapkan.

Lazimnya agen dari perubahan internal adalah individu-individu yang berposisi tinggi dalam organisasi itu. Namun kelompok ini akan mengalami banyak kehilangan gara-gara perubahan. Sesungguhnya mereka telah naik ke posisi wewenang mereka dengan mengembangkan keterampilan dan pola perilaku yang didukung oleh organisasi itu.

Perubahan merupakan ancaman terhadap keterampilan dan pola tersebut. Bagaimana jika mereka tidak dihargai lagi dalam organisasi ? Pergulatan kekuasaan dalam organisasi itu sangat jauh menentukan kecepatan dan kualitas perubahan. Semua komponen sekolah harus mau belajar dan mengembangkan diri.

Dengan demikian tidak akan ada yang terpinggirkan dalam pelaksanaan SNBI. Kurt Lewin berpendapat suksesnya perubahan organisasi hendaknya mengikuti tiga langkah, yaitu melelehkan status quo, gerakan pada suatu keadaan baru, dan membekukan-ulang. Dalam SNBI, status quo adalah keadaan tidak mau belajar dan mengembangkan diri. Tahap yang harus dibekukan adalah kesungguhan untuk terus belajar dalam rangka mengasah kemampuan dan kompetensi yang akhirnya mampu memberi pelayanan pembelajaran kepada siswa dengan optimal.

Tahap perubahan yang tidak dapat ditinggalkan adalah generalization and stabilization of change yaitu meyakinkan orang-orang dalam organisasi bahwa perubahan yang telah dilakukan tersebut membawa manfaat bagi organisasi sebagaimana yang diharapkan. Apabila ada gejala perilaku orang-orang dalam organisasi kembali pada perilaku lama, berarti penurunan dalam proses. Perubahan suasana kerja yang konvensional dan adem ayem sebelum dilaksanakan program SNBI menjadi suasana kerja yang progresif dan dinamis yang begitu tiba-tiba dan cepat memerlukan sistem pengawasan yang serius. Hal ini untuk menjaga agar pelaksana SNBI tidak kehabisan energi.

Apa pun bentuk, nama, dan kegiatan yang dilakukan kita semua merindukan hadirnya sekolah nasional yang bertaraf internasional yang tidak eksklusif, profesional, relatif murah dan terjangkau masyarakat. Kita menunggu jawaban dalam bentuk unjuk kerja para praktisi sekolah.(14)

- Drs Soedjono, Kepala SMAN 3 Semarang


HexWeb XT DEMO from HexMac International

Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA