logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 09 Juni 2006 SEMARANG
Line

Taman Safari Madupari Bantir Sumowono (1)

Rekreasi Berbasis Konservasi

Rencana Masyarakat Peduli Pariwisata (Madupari) Jateng untuk membangun taman safari di Bantir, Sumowono, Kabupaten Semarang memperoleh respons. Ada yang menilai gagasan besar itu cuma proyek mimpi, tapi tak sedikit yang mendukung dan berada di belakang rencana itu. Bagaimana sebenarnya konsep Taman Safari Bantir itu? Wartawan Suara Merdeka Achiar M Permana menuliskannya secara berseri mulai hari ini.

MUNGKINKAH Anda bisa berhadapan dengan jaguar (Ponthera onca) atau harimau (Felis tigris) dengan jarak kurang dari lima centimeter tanpa khawatir terluka? Di taman safari, baik di Taman Safari Indonesia (TSI) I Cisarua, Bogor (Jabar), atau TSI II Prigen, Pasuruan (Jatim), Anda bisa mengajak keluarga berkeliling dengan mobil dan bisa berhadapan dengan karnivora-karnivora buas itu, yang cuma dibatasi kaca mobil.

Bila Taman Safari yang digagas Madupari di Bantir, Sumowono, Kabupaten Semarang, selesai dibangun, tentu tak perlu jauh-jauh ke luar provinsi untuk menikmati sensasi semacam itu.

Ya, di lahan seluas 400 hektare (ha), yang sebagian besar milik Perhutani Unit I Jateng, itu akan dibangun taman safari yang mengoleksi tak kurang dari 30 spesies satwa eksotis tropis dari lima benua.

''Tahapan pembangunan taman safari tersebut, kini sampai pada penyempurnaan Detail Engineering Design (DED). Kalau tak ada halangan, peletakan batu pertama dilakukan 19 Juli mendatang. Sesudah itu, dilanjutkan proses pembangunan dan mudah-mudahan akhir tahun ini mulai bisa dibuka untuk para pengunjung,'' kata Dr Ir Djarot Hasojo Reksowardojo MS, tim ahli Taman Safari Madupari, ketika berkunjung ke Biro Kota Suara Merdeka, Kamis (8/6).

Doktor penangkaran satwa Fakultas Peternakan Undip itu menjelaskan, kini, sebagian besar lahan masih berupa hutan pinus, yang nanti akan ''disulap'' dengan vegetasi sesuai habitat sejumlah hewan yang dikoleksi. Proses pembangunannya bertahap atau per blok, sehingga taman safari di Bantir itu bisa menerima pengunjung. Meskipun pelaksanaannya belum tuntas, kalau tidak menemui aral yang signifikan, diperkirakan pembuatan taman safari itu selesai dalam waktu 2-3 tahun.

Selain tanah milik Perhutani, yang telah menjalin memorandum of understanding (MoU) dengan Pemkab Semarang, taman safari itu juga akan menjangkau tanah milik masyarakat, yang akan segera dibebaskan dan tanah Kodam IV/Diponegoro.

''Luasan tanah milik Kodam tidak seberapa, hanya untuk akses masuk ke Taman Safari,'' ujar Djarot.

Kini, izin untuk menggunakan tanah milik Kodam itu dalam proses di Mabes TNI AD, sesuai prosedur baku yang harus ditempuh. ''Dengan demikian, anggapan bahwa penggunaan tanah Kodam cenderung sebagai pembenaran penghilangan aset AD sangat tidak masuk akal,'' tegas dia, menanggapi pernyataan aktivis LSM Gempar sebelumnya.

Calon lokasi taman safari itu berjarak lima kilometer dari Sumowono menuju ke arah Boja. Dilihat dari letaknya, relatif mudah diakses dari berbagai tempat. Pembangunan taman safari di Bantir itu diharapkan akan membentuk jalur wisata alternatif, mulai dari pemandian Muncul, Bukit Cinta-Rawapening, Museum Kereta Api dan Palagan Ambarawa, Bandungan, Candi Gedongsongo, hingga pemandian air hangat Gonoharjo dan Curugsewu di Kendal.

''Sebelum ketemu Bantir, Tlogo Tuntang sempat menjadi salah satu alternatif lokasi taman safari. Memang lokasinya mudah diakses, namun luas lahan yang tersedia tidak memadai,'' tandasnya.

Potensi Alam

Djarot menjelaskan, gagasan membangun taman safari merupakan ide lama Madupari sejak tiga tahun silam. Berawal dari niat mulia untuk ikut berperan serta dalam mengembangkan pariwisata di Jawa Tengah. Selama kurun waktu itu dilakukan kajian komprehensif, sehingga diperoleh simpulan dengan bobot kelayakan yang bisa dipertanggungjawabkan.

Pembangunan taman safari, kata doktor lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) itu, merupakan upaya strategis untuk mengembangkan objek wisata, khususnya dalam kerangka memanfaatkan potensi alam sekaligus melestarikan flora dan fauna di dalamnya. Kawasan itu bisa menjadi tempat rekreasi apresiasi terhadap alam serta sebagai wahana pendidikan dan penelitian bagi masyarakat luas.

''Konsep dasar taman safari itu kan men-display satwa dalam habitat asli atau mirip asli, sehingga pengunjung memperoleh kesan sedang bertualang,'' terangnya.

Taman Safari Madupari dikonsep berbasis konservasi (conservation center) untuk flora dan fauna tropis dunia, khususnya Indonesia. Selain itu, kawasan tersebut juga disiapkan sebagai lingkungan penapis (filter environtment). Dengan demikian, keberadaan taman safari akan membantu wilayah Kabupaten Semarang, khususnya dalam upaya menciptakan kawasan hijau, yang konservasif, indah, produktif, rekreatif, dan edukatif.

''Visi itu sejalan dengan strategi konservasi taman satwa dunia atau World Zoo Conservation Strategy,'' tutur Djarot. Ditambahkannya, dalam hal strategi konservasi dan pengelolaan satwa, Taman Safari Madupari meratifikasi Zoo Future 2005, yang merupakan konsep taman satwa masa depan. Selain itu, juga mengacu kepada konsensus South East Asia Zoological Park Association (Asosiasi Taman Satwa Asia Tenggara), dan Sendi-sendi Pengelolaan Taman Satwa di Indonesia. (Achiar M Permana-56h)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA