| Sabtu, 03 Juni 2006 | SALA |
Warga Delanggu Pasang Sesaji Tulak BalakKLATEN - Warga di beberapa desa di Kecamatan Delanggu, Klaten, Kamis (1/6) malam, dengan kusyuk melakukan ritual memasang sesaji tulak balak atau tolak bala. Sesaji yang ditanam di depan rumah dan digantung pada atas ambang pintu rumah itu, datang dari mulut ke mulut yang bersumber diyakini dari Yogyakarta. ''Kalau saya membaca selebarannya, resepnya datang dari Mbah Maridjan, setelah bertemu dengan Sri Sultan Hamengku Buwono X. Kesepakatannya, warga harus membuat tumbal keselamatan. Ini bukan meneror, memojokkan, atau menakut-nakuti. Namun, ini malah ngelingke bagi kami untuk menjalankan naluri Jawa, peninggalan leluhur,'' tutur Bisri, yang dibenarkan FX Suparno selaku Ketua RT 3 RW 2, Desa Mendak, Delanggu, Klaten, di kediamannya. Dia menyebutkan, imbauan memasang sesaji tumbal tulak balak itu diterima dan begitu cepat menyebar, baik dari mulut ke mulut maupun melalui selebaran fotokopi. Tanpa merendahkan apa isi selebaran berisi imbauan itu, ajakan memasang sesaji dianggap sebagian besar warga setempat sebagai iktikad baik untuk mengingatkan tradisi peninggalan leluhur, yaitu penyelenggaraan ritual-ritual adat dalam menjalani peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan. Menurutnya, sesaji tumbal tulak balak masih banyak dikenal warga Delanggu dan Klaten kebanyakan, tetapi sudah sangat jarang dilaksanakan. Begitu juga ritual-ritual lain, misalnya ketika hendak menanam padi, panen raya, dan peringatan-peringatan seperti selapanan untuk bayi, sepasara untuk bayi, dan perkawinan. ''Yang terjadi serentak malam Jumat Kliwon kemarin (Kamis malam-Red), telah mengingatkan kami untuk konsekuen bertanggung jawab sebagai wong Jawa. Jangan sampai kita kelangan jawane. Dalam situasi begini, kita wajib berusaha meminta keselamatan kepada Tuhan. Caranya bermacam-macam. Seperti yang pernah ditinggalkan para leluhur kita itu lo,'' tutur Bisri, seorang tokoh masyarakat setempat. Gunungan Sesaji tumbal tolak bala yang bersama-sama ditanam di depan rumah dan dipasang di atas ambang pintu rumah itu, terdiri atas dua keping uang logam bergambar gunungan, dua lembar daun dadap serep, dua helai lawe warna putih, dua siung bawang putih, dua biji pisang raja hijau, dua biji apem, dan dua lembar daun salam. Dengan berbagai macam komponen tumbal sesuai dengan selebaran ''dari'' Mbah Maridjan itu, diyakini bisa menolak bencana, terutama berkait dengan gempa bumi (tektonik-Red) susulan ataupun letusan Gunung Merapi. (Won Poerwono-50s) |