| Sabtu, 03 Juni 2006 | NASIONAL |
BencanaTragedi Gempa di Pantai Selatan (7)Sekepal Nasi Bisa Bikin Ribut
HIDUP di pengungsian pascagempa tak pernah terbayangkan dalam benak Soraya, ibu muda dari Puton, Bantul. Bersama 1.000 warga lainnya, dia mendirikan tenda-tenda pinggir sawah. Mereka nyaris tak tersentuh bantuan, sampai kemudian datanglah bantuan dari pihak swasta yang langsung menyampaikan ke sana. ''Selama beberapa hari, kami hidup nelangsa. Bisa makan sehari sekali saja sudah sangat bagus. Itu pun harus berbagi dengan satu keluarga, suami dan anak-anak. Kadang, sekepal nasi (segenggam-Red) bisa bikin ribut,'' tutur PNS yang rumahnya rata dengan tanah tersebut. Itu baru soal makan, belum lagi tenda tempat berteduh. Selama lima hari, dia dan warga hidup di bawah tenda yang terbuat dari kain seadanya. Kalau hujan, semua harus berimpitan agar hangat. Plastik dipasang sebagai tambahan agar air tak begitu deras mengalir. Hewan melata seperti ular, kelabang, kalajengking, menjadi teman yang menakutkan. Mereka harus memasang mata kalau-kalau binatang berbisa itu masuk ke areal ''rumah sementara". ''Anak-anak yang kadang masih trauma, mendengar atau merasakan getaran sedikit saja langsung nangis. Kami sebenarnya juga sir-siran, tapi anak-anak harus terlindungi,'' ungkap Soraya. Setelah lima hari berteduh di bawah kain, baru datang bantuan tenda dari swasta pula. Sejumlah orang yang lebih beruntung, mencoba mencarikan atap yang lebih layak. Akhirnya, datang bantuan yang menurut Soraya bisa membuat hidup di pengungsian lebih aman dari panas dan hujan. Tempat berteduh, makan, minum menjadi kebutuhan utama di pengungsian. Sejauh ini, masih banyak tempat yang kekurangan logistik. Makanan anak-anak dan bayi seperti susu, bubur, sangat sulit diperoleh. Lauk-pauk Beras dan mi instan menjadi menu utama setiap hari. Kebutuhan lauk-pauk belum bisa terpenuhi. Padahal, mereka sangat memerlukannya, tak cukup hanya makan nasi dan mi. Ikan asin, garam, menjadi barang mahal di lokasi pengungsian. ''Kalau tidak ada lauk, kami mengambil daun-daun seperti singkong, pepaya untuk digodok sampai matang sebagai lauk,'' tutur Sulis yang mengungsikan keluarganya di perbukitan di daerah Pajangan, Bantul. Jangankan bumbu, garam saja tak tersedia. Hanya itu yang mereka makan setiap hari? Ya, hanya itu. Kalaupun ada tambahan lauk, harus menunggu penyumbang. Sesekali ada yang datang memberi nasi bungkus, abon, sambel kacang. Namun hanya sesekali. ''Kalau bantuan logistik tak ada, makan sekali sehari atau mbedhol telo untuk dibakar,'' jelas Sulis yang kini berteduh di kandang kambing. Sisi pinggir kandang ditutup dengan kain. Tempat tidur diletakkan di atas anyaman bambu. Bagian depan dibiarkan terbuka begitu saja. Menurut dia, biar lebih cepat berlari andai datang gempa susulan. Sebagian besar pengungsi yang memiliki anak balita, anak kecil, mengeluh. Tidak pernah ada bantuan untuk anak-anak. Ancaman kekurangan gizi jelas terpampang di depan mata. Soraya dan Sulis yang sama-sama punya anak balita, berharap pemerintah atau siapa saja bisa memberikan bantuan susu dan makanan bayi. Kebutuhan fisik tak bisa ditunda-tunda, begitu pula keperluan psikis dan rohani. KH Abdullah Gymnastiar yang lebih dikenal sebagai Aa Gym, langsung mendatangi para korban bencana di sejumlah pengungsian. Siraman rohani saat dia berada di Wonokromo, Pleret, Bantul, memberikan kesejukan tersendiri bagi masyarakat setempat. Dia merasakan beratnya musibah bagi para korban. Kendati demikian, masyarakat tidak boleh larut dalam kesedihan. ''Jangan terus-menerus menangisi reruntuhan. Pasti ada hikmah di balik musibah ini," ujar Aa Gym.(Agung PW-41m) | ||||