logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 03 Juni 2006 NASIONAL
Line

Pengobatan Sangkal Putung Dipadati Korban Gempa


SM/Rukardi RAWAT PASIEN: Siti Rohmah (44) merawat pasien korban gempa bumi di pondoknya, Jl Empu Sendok No 1 Kelurahan Pudakpayung, Kecamatan Banyumanik, Semarang. (57m)

''SEBENARNYA, saya pingin berangkat ke Jogja, tapi kalau berangkat, bagaimana dengan pasien yang ada di sini?'' ujar Siti Rohmah menjawab permintaan seorang pasien korban gempa asal Kota Gudeg, Yogyakarta yang dirawatnya.

Sang pasien itu mengungkapkan, masih banyak korban yang hingga beberapa hari pascagempa belum mendapatkan penanganan medis. Banyak di antara mereka yang mengalami patah tulang.

Bu Siti, demikian Siti Rohmah akrab disapa, bukanlah dokter. Ia ahli pijat sangkal putung yang membuka praktik di Jl Empu Sendok No 1 Kelurahan Pudakpayung, Banyumanik, Semarang. Pascagempa bumi melanda DI Yogyakarta dan Jateng, banyak korban patah tulang yang mendatanginya.

''Para korban datang ke sini sejak Sabtu (27/5) malam. Sampai sekarang, jumlahnya mencapai belasan. Kebanyakan para korban dibawa keluarganya yang tinggal di Semarang,'' ungkap Bu Siti.

Kedatangan pasien korban gempa bumi ke pondoknya itu membuat Bu Siti semakin sibuk. Betapa tidak, pada hari biasa saja, jumlah pasiennya rata-rata 50 orang per hari. Istri Muhammad Edi Sunarso itu terpaksa harus bekerja hingga larut malam.

Maklum, di ''bengkel tulang'' itu, hanya Bu Siti yang punya keahlian menyembuhkan patah tulang. ''Ada yang patah dan retak tulang, ada pula pasien yang lepas persendiannya.''

Pasien korban gempa bumi di pondok Bu Siti, lebih banyak yang menjalani rawat jalan. Selain tidak terlalu parah, mereka merasa tenang beristirahat di rumah saudara di Semarang. Dari seluruh pasien, cuma dua yang terpaksa opname. Satu di antaranya, Sukamto (55) warga Desa Tegalumprit, Kecamatan Prambanan, Klaten.

Guru Biologi SMP Muhammadiyah 1 Prambanan itu patah tulang pada bagian paha kiri. Untuk memulihkannya, butuh waktu istirahat yang lama. ''Bu Siti meminta saya istirahat total dan tidak banyak bergerak. Makanya, saya mondok di sini,'' papar dia.

Sukamto lantas berkisah ihwal pengobatannya ke pondok Bu Siti. Saat terjadi gempa, dia tertimpa reruntuhan bangunan rumahnya. Selama kurang lebih 30 menit, tubuhnya terimpit tembok dan perabotan. Setelah berhasil diangkat dari reruntuhan oleh keluarganya, Sukamto dilarikan ke rumah sakit. Namun suasana kota saat itu kacau. Orang-orang panik oleh isu tsunami, sehingga berlarian ke jalan-jalan. Rumah sakit pun penuh korban.

''Bingung mencari pertolongan, saya ditidurkan di pinggir jalan di bawah tenda terpal,'' tutur dia.

Pada sore hari, seorang adik yang tinggal di Jl Cinde Semarang menjemput Sukamto. Dia segera dibawa ke Semarang untuk mendapat pengobatan. Bukan ke rumah sakit, melainkan ke pengobatan pondok sangkal putung Bu Siti. ''Kalau di rumah sakit, harus menjalani operasi dan pembedahan. Namun jika di sini, hal itu tidak perlu dilakukan. Bu Siti cuma mengurut dan membalut paha saya dengan perban.''

Kini setelah seminggu menjalani perawatan, Sukamto merasakan kemajuan. Rasa nyeri yang sebelumnya mendera, mulai hilang. Dia berharap, tulangnya yang patah bisa segera dipulihkan. ''Saya dengar semua korban gempa yang dirawat di rumah sakit dibebaskan dari biaya perawatan. Namun bagaimana dengan kami yang tidak dirawat di rumah sakit?'' tanya dia bimbang.

Dibanjiri Korban Gempa

Sementara itu, pengobatan alternatif sangkal putung di Desa Sroyo, Kecamatan Jaten, Karanganyar, juga dipenuhi korban gempa bumi dari Klaten dan Bantul, Yogyakarta. Sejak Sabtu (26/5) hingga kemarin, tercatat seribu korban mendatangi tempat pengobatan khusus patah tulang itu.

Sampai-sampai, para juru sembuh (tabib) kewalahan dalam memberikan pengobatan. Misalnya saja di klinik sangkal putung H Atmo Saidi, Jalan Raya Solo-Sragen KM 10,5 Karanganyar atau tepatnya di Desa RT 6 RW 9. Klinik yang kini dikelola istri Hj Atmo Saidi dan anak-anaknya itu, pada hari pertama pascagempa didatangi 300 korban patah tulang.

Saking banyaknya pasien, penanganan yang dimulai pukul 08.30, baru selesai pukul 01.30 dini hari. Pihak pengelola juga sampai kehabisan perabot atau bahan yang biasa digunakan dalam pengobatan, seperti kapas, plester, dan kardus. ''Pukul sembilan malam, kami sempat lari ke Klaten agar bisa memperoleh kapas,'' tutur Abdul Rochim, anak pemilik klinik sangkal putung Atmo Saidi, kemarin.

Pada hari kedua, ketiga, dan seterusnya, korban gempa yang datang semakin berkurang. Pada umumnya, mereka yang datang itu mengalami patah tulang pada tangan, kaki, dan punggung. Bahkan, di antara mereka ada yang langsung datang setelah mengalami musibah. Ada pula yang sempat menjalani perawatan di rumah sakit sebelum datang ke tempat itu. Untuk membedakan antara pasien korban gempa dan yang tidak, pengelola pengobatan alternatif sangkal putung melakukan pendataan.

Pada hari pertama hingga hari ketiga pascagempa, tidak satu pun korban patah tulang yang menginap. Mereka langsung dipulangkan pengelola klinik. Sebab kesibukan juru sembuh itu hampir tidak pernah berhenti. Selain itu, juga tidak ada tempat karena korban gempa dari Klaten dan Bantul terus berdatangan. Baru pada hari keempat, ada tempat bagi korban yang harus menginap.

''Korban patah tulang dengan kondisi parah, masih ada yang menginap sampai sekarang. Namun yang tidak terlalu parah, banyak yang langsung minta pulang,'' tutur H Hadi Samidi, pemilik klinik sangkal putung Hadi Samidi yang berada tidak jauh dari klinik Atmo Saidi.

Mudah dan Murah

Beberapa alasan mengapa para korban gempa yang patah tulang memilih datang ke sangkal putung adalah pengobatan alternatif itu dianggap lebih cepat dan lebih manjur, dibanding dengan pengobatan di rumah sakit. Selain itu, pengobatan alternatif sangkal putung juga dianggap lebih murah. Bahkan, digratiskan oleh pengelola klinik. Kalaupun membayar, sekadar sukarela. Adapun pengobatan di rumah sakit, tetap membayar terutama untuk biaya oper asi, meski pemerintah menyerukan gratis.

Bahkan kalau rumah sakit benar-benar gratis, birokrasinya masih tetap rumit. ''Saya ke sangkal putung karena di rumah sakit sudah penuh pasien. Lagi pula, penanganannya tidak total. Banyak pasien yang telantar karena keterbatasan dokter dan peralatan,'' tutur Parwoto, korban gempa dari Piyungan Bantul.

Hj Atmo Saidi mengungkapkan, penyembuhan patah tulang dengan metode sangkal putung itu sangat mudah, murah, dan cepat. Menurut dia, sangat mudah karena untuk mengembalikan posisi tulang, hanya menggunakan tangan tanpa per alatan dan obat-obatan. Cepat karena hasilnya bisa dilihat atau dirasakan beberapa hari setelah terapi. Murah karena alat yang dibutuhkan hanya kapas, plester, dan kardus.

Meski murah, mudah, dan cepat, katanya, akurasi kesembuhannya tetap bisa dibuktikan. ''Kalau sangkal putung tidak bisa menyembuhkan patah tulang, pasti tidak ada orang yang datang ke sini,'' tandas Ny Atmo Saidi yang mengaku meneruskan usaha suaminya sejak awal 2001 lalu.

Ketua RT 6 RW 9 Desa Sroyo Jaten, Topo Widiyanto mengemukakan, ada lima tempat pengobatan alternatif sangkal putung di wilayahnya. Antara lain milik Hadi Samidi, Atmo Saidi, dan Imam Suwardi. Pasiennya tidak hanya dari Jawa Tengah. Bahkan, ada yang dari luar negeri seperti Malaysia, Singapura, dan Jepang.

''Banyak korban gempa yang mengalami patah tulang datang karena mendapat rujukan dari korban lainnya yang sembuh setelah berobat ke tempat ini,'' ungkap dia. (Rukardi, Langgeng Widodo-56,41m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA