logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 03 Juni 2006 NASIONAL
Line

Pemberi Nasi Bungkus Tak Hanya Seorang

  • Tidak Semua yang Makan Keracunan

KLATEN - Nasi bungkus yang mengakibatkan ratusan warga Klaten keracunan, ternyata tidak hanya berasal dari satu orang. Dengan peristiwa semacam itu, warga penerima nasi bungkus diminta mencatat identitas penyumbang.

Kepala Desa Ngandong Joko Daryono Sp, Jumat (2/6) menuturkan, sore itu pukul 17.00, dia menerima telepon dari seseorang berinisial BM, warga sebuah perumahan di Klaten Selatan. Kepada dirinya, BM mengatakan akan memberikan bantuan 400 nasi bungkus untuk warga.

Setelah itu, beberapa pemuda desa, yaitu Sugeng Widodo dan Karmin berangkat mengambil nasi bungkus tersebut. Selain mereka, dua warga Desa Ngandong, Mujiyo dan Gandung juga ikut mengambil.

Nasi tersebut baru didistribusikan kepada warga pukul 19.30. ''Empat orang yang mengambil nasi bungkus ikut makan dan kemudian keracunan,'' tutur dia.

Saat ditanya tentang orang yang membagikan nasi bungkus dengan menggunakan mobil plat "H", dia mengaku tidak tahu. "Mungkin ada orang lain yang juga membagikan nasi bungkus,'' tandas dia.

Sementara itu, juga diperoleh keterangan bahwa tidak semua orang yang memakan nasi bungkus keracunan. Sandiyo (55) warga Jetakan, Desa Karangturi, Kecamatan Gantiwarno menyatakan ikut menikmati makanan tersebut. Namun lelaki itu tidak keracunan.

Diteliti

Secara terpisah, Kapolda Jateng Irjen Pol Dodi Sumantyawan HS SH mengatakan, pihaknya masih terus menyelidiki kasus tersebut. Saat ini sampel makanan yang diduga mengandung racun sedang diteliti di laboratorium forensik.

''Kalau sampai korbannya ratusan, tentu ada indikasi keracunan. Namun untuk mengetahui jenis racunnya, harus diteliti dulu,'' ungkap dia.

Dia mengatakan, polisi sudah mengetahui identitas orang dari Kota Semarang yang disebut-sebut sebagai pemberi nasi bungkus. Dia berinisial SR, seorang pegawai Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas) Jateng. ''Tapi kami belum tahu apakah orang itu mengatasnamakan lembaga atau pribadi,'' tandas dia.

Penjelasan tersebut disampaikan Kapolda menjelang penyerahan bantuan Kapolri oleh Wakapolri Komjen Pol Adang Dorodjatun. Pada hari itu, Polri memberikan bantuan berupa truk angkut personel 13 unit, mobil patroli 7 unit, kendaraan dapur lapangan 1 unit, bus 1 unit, ambulans 2 unit, beras 7,5 ton, mi instan 200 dus, air mineral 150 dus, 150 makanan kaleng, dan obat-obatan 52 peti. ''Mobil patroli akan segera kami tempatkan di daerah-daerah pinggiran untuk memperkuat pengamanan,'' kata dia.

Dicatat

Kapolda mengimbau agar warga mencatat semua pemberi bantuan. Dengan cara tersebut, pemberi bantuan juga merasa dihargai. Selain itu, cara itu bisa meminimalkan hal-hal yang tak diinginkan.

Secara terpisah, Kepala Badan Kesbanglinmas Jateng Ristanto SSos mengakui, SR memang pegawai instansinya. Namun Ristanto tidak pernah memerintahkan pembagian nasi bungkus yang diduga mengandung racun tersebut. ''Dia bertindak atas nama pribadi,'' ungkap dia.

Dia menyatakan keyakinannya bahwa kasus keracunan itu tidak ada unsur kesengajaan. Makanan tersebut juga disantap oleh keluarga SR. Setelah menyantap makanan itu, keluarga SR juga keracunan.

Sementara itu, berdasarkan data yang masuk ke Satlak PB Klaten, jumlah pengungsi yang menjadi korban keracunan mencapai 380 orang. Mereka adalah warga Kecamatan Gantiwarno dan Wedi. Saat ini, pasien yang semula dirawat di RSJD Dokter Soedjarwadi, RSUD Dokter Soeradji Tirtonegoro, RS Islam Klaten, dan sejumlah rumah sakit lain, sudah pulang.

Menurut dokter Agung P dari RSJ Solo, pasien yang keracunan biasanya cepat sembuh apabila tidak terlambat ditangani.

Sementara itu, seorang sukarelawan di Posko Universitas Negeri Semarang dan Universitas Diponegoro Semarang, menemukan bahan makanan yang sudah kedaluwarsa.

Sukarelawan posko yang berlokasi di Pendapa Balai Desa Kemudo, Kecamatan Prambanan Klaten itu mengecek tanggal kedaluwarsa, sehingga makanan tak jadi dibagikan. (G6,F5-41m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA