logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 03 Juni 2006 KEDU & DIY
Line

Wartawan Kirim Tenda dan Ribuan Nasi Bungkus

MAGELANG-Para wartawan yang biasa meliput di Kabupaten dan Kota Magelang mengirimkan tenda dan ribuan nasi bungkus kepada para korban gempa bumi di Klaten.

''Kami mewujudkan keprihatinan pada para korban melalui penyaluran nasi bungkus kepada korban di desa-desa, terutama yang belum terjangkau bantuan,'' kata Hari Atmoko, Koordinator PWI Magelang, kemarin.

Selain ribuan nasi bungkus dan sejumlah tenda, wartawan Magelang dari berbagai media cetak dan elektronik itu juga memberikan puluhan dus air mineral, puluhan senthir berikut minyak tanahnya, serta ratusan paket roti kering dan pakaian pantas pakai.

''Semua bantuan murni dari wartawan Magelang. Tak ada kontribusi dari pihak lain. Kami ingin wartawan tak hanya menulis berita tentang korban gempa bumi, tetapi juga berusaha untuk memberikan bantuan secara ikhlas.''

Sasaran penyaluran bantuan itu adalah beberapa dusun di Desa Kerten, Kecamatan Gantiwarno, Klaten, yang luluh-lantak akibat gempa bumi Sabtu (27/5) pagi berkekuatan 5,9 skala Richter. Yaitu antara lain Dusun Sangiran, Gedongan, Petung, Kerten Tegal, Kerten Tengah, Kerten Kulon, Kalijuwe, Tenggil, dan Gunung Wungkal yang berbatasan dengan pegunungan daerah Sleman.

Dipandu Warga Desa

Dengan beberapa mobil, para wartawan ke lokasi bencana wilayah Kerten dipandu oleh Sukir, warga desa, sebagai penghubung dengan korban bencana.

''Kami mencari penghubung warga setempat, supaya penyaluran

tepat sasaran,'' ujar Hari Atmoko.

Hartoyo (60), warga Gunung Wungkal, mengemukakan, 52 KK atau 185 jiwa warga setempat yang menjadi korban gempa, baru tiga hari terakhir mendapatkan bantuan kemanusiaan dari berbagai pihak.

''Kami juga membutuhkan minyak goreng dan minyak tanah untuk lampu, karena sampai sekarang listrik masih padam,'' katanya.

Di Desa Kerten, sekitar 20 kilometer barat daya Ibu Kota Klaten, Kamis (1/6) tampak di tepi kanan dan kiri jalan sekelompok anak-anak korban gempa meminta-minta sumbangan kemanusiaan dalam berbagai bentuk kepada para pengguna jalan.

Untuk berteduh, mereka mendirikan tenda darurat di pekarangan rumah masing-masing. Sejumlah warga lainnya, selain membersihkan puing-puing kerusakan rumah, juga ada yang mulai bekerja di sawah.

Setiap RT mendirikan posko untuk menerima dan mencatat bantuan dari berbagai relawan, dan menyalurkan bantuan itu kepada setiap warga.

Sutanto, warga Dusun Petung, mengaku harus jemput bola untuk mendapatkan bantuan, karena wilayahnya terpencil atau jauh dari jalan. ''Kalau tidak begini, kami tidak memiliki logistik untuk kebutuhan sehari-hari,'' katanya saat mencegah rombongan wartawan Magelang yang sedang membagikan nasi bungkus di Dusun Gedongan. (pr-66)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA