| Sabtu, 03 Juni 2006 | KEDU & DIY |
Budi Daya Jeruk Siem (3-Habis)Sambas Dijadikan sebagai Pusat JerukKABUPATEN Sambas yang luasnya empat persen dari luas Kalimantan Barat terbagi dalam 17 kecamatan dan 183 desa. Dari jumlah penduduk sekitar 500.000 jiwa, 82%-nya berprofesi petani. Daerah itu dapat dibilang menjadi anak emas Provinsi Kalbar. Apa sebab? Karena menjadi daerah penghasil buah jeruk siem. Oleh provinsi setempat, Sambas dijadikan Citrus Centre atau pusat jeruk. Di daerah itu, tepatnya di Desa Segedong, Kecamatan Tebas, pemerintah provinsi menyediakan sebuah bangunan luas berisi mesin pembuat juice (jus) jeruk, laboratorium hama penyakit, dan agro klinik jeruk. Fasilitas itu untuk mengurusi masalah-masalah jeruk, seperti masalah penanganan hama dan penyakit. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Sambas, Ir Suardi Yusuf mengatakan, awalnya usaha pertanian jeruk di Sambas pada tahap pertama (tahun 1972) dan kedua (tahun 1992) gagal. Penyebabnya selain karena masalah teknis, juga nonteknis. Dia mengakui, meroketnya komoditas jeruk dari daerah itu sejak tanaman jeruk di Pulau Jawa terserang virus CVPD. ''Pasar di Jakarta disuplai jeruk Pontianak,'' katanya. Ketika ditanya mengapa Pemkab setempat memilih buah jeruk sebagai komoditas andalan? Menurut Suardi Yusuf, karena tanaman jeruk bisa menggerakkan beberapa lini usaha. Sebab selain menyerap tenaga kerja berupa petani, juga melibatkan pembuat keranjang. Dari usaha itu pasti ada tenaga buruh pengangkut. Unsur lain yang berkembang di daerah itu, kata dia, banyak pemodal yang menanamkan uang di daerahnya. ''Di sini juga banyak yang membuka usaha angkutan jeruk,'' ujarnya. Dia menyebutkan, saat ini lahan pertanian jeruk di Sambas seluas 10.000 ha. Selain itu ada lahan jeruk seluas 1.000 ha milik perusahaan inti plasma. Walau ada usulan agar luas lahan milik petani dikembangkan sampai 20.000 ha, menurutnya, akan dibatasi sampai 10.000 saja. Dengan pertimbangan, karena daerah lain di Pulau Jawa juga ada yang mengembangkan jeruk. Kalau luas lahan tidak dibatasi, dikhawatirkan akan menyulitkan dalam hal pemasarannya. Sekarang saja sudah muncul kekhawatiran bakal sulit masuk Jakarta, karena sudah ada isyarat mulai tahun depan seluruh buah yang masuk Jakarta harus dalam kemasan. Selama ini, hasil jeruk dari Sambas 90% dijual ke Jakarta dan 10% ke Semarang. Karena sudah mendapatkan jalan pemasaran yang menjanjikan, akhirnya Pemkab setempat berusaha mempertahankan kualitas buah jeruknya. Untuk keperluan itu, Pemkab Sambas mendatangkan seorang konsultan dari Balai Jeruk Batu (Malang), Ady Cahyono. Pria yang berstatus PNS pusat penelitian hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Deptan, tersebut di Sambas sejak April lalu. ''Saya di sini sebagai pemandu teknologi jeruk,'' kata Ady Cahyono, saat ditemui di Citrus Centre, Sambas. Camat Tebas, Sambas, Drs Yamin Marhan menuturkan, luas lahan pertanian jeruk di daerahnya 5.037 ha milik 9.000 petani. Saat ini yang sudah berbuah seluas 2.500 ha. Adapun hasil panen saat ini, setiap pohon rata-rata baru mencapai 20-25 kg buah jeruk. Semula bibit jeruk di daerah itu berasal dari Purworejo. Kronologisnya, bibit jeruk Purworejo dibeli Dinas Pertanian Jakarta lalu dibagikan ke beberapa daerah, termasuk Kabupaten Sambas. Petani jeruk setempat, M Aris mengatakan, semula karena menggunakan benih cangkok, tanaman jeruk di daerah itu setiap tahun hanya panen satu kali. Tetapi kini setelah menggunakan bibit hasil okulasi maka satu tahun bisa panen empat kali. Usia tanamannya sampai 15 tahun siap panen, asalkan kondisinya sehat. Diperoleh keterangan, di Sambas saat ini banyak penangkar bibit okulasi. Dengan demikian, tidak perlu membeli bibit dari luar daerah. Salah satu pengusaha pembibitan tanaman jeruk, Madun menyatakan untuk mengokulasi jeruk yang baik, digunakan batang bawah berupa jenis densi dari Jawa. Pada bagian atas jenis siem asli Sambas. Mantri tani Kecamatan Tebas asal Bantul (DIY), Muhadi secara terpisah mengutarakan, di Kecamatan Tebas rata-rata panen jeruknya mencapai 1.200 ton/bulan. Diperkirakan dua tahun lagi seluruh lahan jeruk di Sambas (11.000 ha) akan panen semua. Kalau itu benar, hasil buah jeruk dari daerah tersebut akan mencapai 200.000 ton/tahun. Saat ini harga jeruk Sambas kelas AB (berukuran besar) Rp 2.500/kg, kelas C Rp 2.000/kg, kelas D Rp 1.500/kg, sedangkan kelas E Rp 1.000/kg. Dengan harga jual tersebut, banyak petani yang meraup penghasilan cukup besar. Salah seroang petani yang sukses dalam usaha jeruk adalah Tukim, warga Segedong, Kecamatan Tebas. Panen jeruk sekitar satu hektare pada April lalu menghasilkan uang Rp 100 juta lebih. Maka, pria itu langsung berniat pergi haji tahun depan. (Eko Priyono-39s) |