logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 03 Juni 2006 BUDAYA
Line

Ngamen Puisi untuk Korban Gempa Bumi

''Entah kota ini hendak berkemas ke mana/ pijar merapi yang membatu di ujung tugu/ gelombang laut yang mengirim isyarat/ lewat mimpi petualang dan angin selatan/ tak mampu lagi membangkitkan tembang-tembang.''

ADALAH pemandangan biasa, tiap kali terjadi bencana, elemen masyarakat menggalang solidaritas dan mengumpulkan dana. Tak terkecuali untuk bencana gempa bumi di Yogyakarta dan sekitarnya yang terjadi persis sepekan yang lalu.

Lembaga-lembaga mahasiswa, partai politik, dan organisasi massa, turun ke jalan memantik empati warga. Tapi, sejumlah aktivis mahasiswa Fakultas Sastra Undip mempunyai cara berbeda.

Untuk mengumpulkan dana, mereka mengamen puisi di kawasan kampus dan sekitarnya, belum lama ini.

Mengamen puisi barangkali bukan suatu hal biasa. Sehingga, aksi mereka menarik perhatian orang-orang yang melihatnya.

Selepas zuhur, para mahasiswa mulai mengamen dari depan kampus Fakultas Sastra. Mereka menyambangi warung demi warung yang berderet di Jalan Hayamwuruk. Sebagai pengiring pembacaan puisi adalah ''Matahariku'' dan ''Anak Merdeka'', tembang-tembang yang popular dalam dunia pergerakan.

Gitar dan Biola

Laiknya pengamen pada umumnya, mereka memainkan peranti musik gitar dan biola. Yang lain, menyorong kardus serta menyumbangkan suara. Di tengah-tengah lantunan tembang, Parlindungan, aktivis Teater Emka, maju ke muka, membacakan puisi-puisinya.

Selain karya sendiri, puisi-puisi dikutip dari karya penyair kondang Indonesia seperti Soetardji Cholzum Bachri, Angger Jati Wijaya, Djoko Pinurbo, dan WS Rendra.

Puisi di muka berjudul ''Malioboro'' karya Angger Jati Wijaya. Dengan puisi itu, Parlindungan dan kawan-kawan mengajak orang-orang yang mereka hibur ke atmosfer Yogyakarta, kota yang kini lantak oleh guncangan gempa.

Tak cuma di warung-warung, mereka masuk ke dalam kompleks kampus. Mahasiswa yang tengah duduk-duduk menunggu kuliah dijadikan sasaran.

Lantaran unik, mereka tak merasa terganggu. Sebaliknya, justru menyimak dengan saksama. Usai itu, uang pecahan pun disorongkan.

Ide mengamen puisi, kata Soni Wibisono, seorang aktivis, muncul begitu saja sesaat setelah mendengar kabar bencana gempa bumi di Yogyakarta dan sekitarnya.

Sebagai mahasiswa yang sehari-hari bersikutat dengan dunia sastra, mereka ingin mengimplementasikannya. (Rukardi-45)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA