SUARA MERDEKA
 
INDEKS WACANA Jumat, 02 Juni 2006

-- Judul di atas hanyalah kalimat puitis yang mengkiaskan sesuatu, namun tetap perlu dimaknai secara mendalam, terutama dalam perjalanan berbangsa dan bernegara saat ini. Di masa Orde Baru, Pancasila masih diteriakkan, dipelihara menjadi semacam ''bangunan suci'', diindoktrinasikan dan dijaga kelestariannya minimal dalam tataran ide, kendati dalam tataran praksis Pancasila sebagai dasar negara tak lebih sebagai tameng atau topeng untuk menutup keburukan perilaku kita sendiri yang banyak dinodai oleh praktik-praktik korupsi dan ketidakadilan lainnya.

-- Inilah ironi yang benar-benar membentangkan kesenjangan: Badan Kehormatan (BK) DPR RI disibukkan penanganan dugaan kasus suap yang melibatkan para wakil rakyat, sementara rakyat sendiri sibuk berpikir mengumpulkan apa pun bantuan yang bisa didistribusikan kepada korban gempa bumi di Yogyakarta dan sebagian daerah Jawa Tengah. Membuat garis ironi pada dua hal tersebut mungkin tidak terlalu relevan, karena kedua-duanya adalah satu dan lain hal, juga terjadi dalam frame waktu yang berbeda.

Terpaan pragmatisme dan hedonisme masyarakat selama ini telah menggerus nilai-nilai solidaritas sesama warga. Boleh jadi azab dan cobaan berupa bencana alam inilah salah satu cara Allah memberikan peringatan agar seluruh warga bangsa ini kembali merajut tali persaudaraan.

DI tengah rasa sedih dan kepedihan yang mendalam sebagai bangsa yang terus - menerus ditimpa musibah, kita perlu merenung dan mengambil hikmah dari semua bencana alam yang melanda bangsa ini. Tidak lupa pula kita harus memiliki solidaritas, saling bahu - membahu dan meningkatkan kebersamaan sebagai wujud rasa kemanusiaan kita.

Pemerintah bertekad memberantas korupsi, namun rakyat seperti merasa pesimistis akan keberhasilannya. Bayangkan, lha wong yang memeriksa/mengadili perkara korupsi saja mau disuap atau malah minta disuap. Ya memang tidak semua, tetapi jumlahnya cukup banyak.

  Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA