-- Judul di atas hanyalah kalimat puitis yang mengkiaskan sesuatu, namun
tetap perlu dimaknai secara mendalam, terutama dalam perjalanan berbangsa
dan bernegara saat ini. Di masa Orde Baru, Pancasila masih diteriakkan,
dipelihara menjadi semacam ''bangunan suci'', diindoktrinasikan dan dijaga
kelestariannya minimal dalam tataran ide, kendati dalam tataran praksis
Pancasila sebagai dasar negara tak lebih sebagai tameng atau topeng untuk
menutup keburukan perilaku kita sendiri yang banyak dinodai oleh praktik-praktik
korupsi dan ketidakadilan lainnya.
|
 |
-- Inilah ironi yang benar-benar membentangkan kesenjangan: Badan Kehormatan
(BK) DPR RI disibukkan penanganan dugaan kasus suap yang melibatkan para
wakil rakyat, sementara rakyat sendiri sibuk berpikir mengumpulkan apa
pun bantuan yang bisa didistribusikan kepada korban gempa bumi di Yogyakarta
dan sebagian daerah Jawa Tengah. Membuat garis ironi pada dua hal tersebut
mungkin tidak terlalu relevan, karena kedua-duanya adalah satu dan lain
hal, juga terjadi dalam frame waktu yang berbeda.
|
Terpaan pragmatisme dan hedonisme masyarakat selama ini telah menggerus
nilai-nilai solidaritas sesama warga. Boleh jadi azab dan cobaan berupa
bencana alam inilah salah satu cara Allah memberikan peringatan agar seluruh
warga bangsa ini kembali merajut tali persaudaraan.
|
 |
DI tengah rasa sedih dan kepedihan yang mendalam sebagai bangsa
yang terus - menerus ditimpa musibah, kita perlu merenung dan mengambil
hikmah dari semua bencana alam yang melanda bangsa ini. Tidak lupa pula
kita harus memiliki solidaritas, saling bahu - membahu dan meningkatkan
kebersamaan sebagai wujud rasa kemanusiaan kita.
|