| Jumat, 02 Juni 2006 | SALA |
Aditya Dibunuh Ayah Angkatnya
SRAGEN- Misteri kematian Aditya Pratama, anak berusia satu tahun, akhirnya terungkap. Bocah lucu yang dilaporkan tewas tenggelam di sebuah ember itu, ternyata dibunuh. Pelakunya tak lain Priyono, ayah angkat yang dititipi bocah tersebut. Warga Blok C 3 No 18 Perumahan Puro Asri, Karangmalang sengaja menenggelamkan bocah yang sedang lucu-lucunya itu di ember yang biasa digunakan sebagai bak mandi. ''Saya jengkel, karena anak balita itu sering rewel dan terus-terusan keceh (bermain air),'' tutur pelaku Priyono, saat diperiksa penyidik Aipda Sigid Kurniadi SE. Korban dibunuh Selasa pukul 22.00, tetapi dilaporkan Rabu pukul 00.15 dini hari. Priyono mengaku menyesali perbuatannya dan sempat menangis saat diperiksa penyidik. Para tetangga sangat jengkel mendengar alasan sederhana pelaku, kenapa sampai hati menghabisi bocah tersebut. Di lingkungan perumahan itu, dia dikenal sebagai paranormal yang sering menerima tamu asal luar kota Sragen. ''Kalau orang sini malah kurang begitu percaya dengan kemampuan dia sebagai paranormal,'' tutur salah seorang warga perumahan. Pelaku kini diperiksa karena melakukan pembunuhan yang tidak direncanakan terhadap Aditya Pratama, yang diatur dalam Pasal 338 KUHP dengan ancaman hukuman 15 tahun. Kapolres AKBP Drs Suradiyana melalui Kasat Reskrim AKP Parni Handoko SH mengatakan, pembunuhan bocah itu terungkap setelah 19 jam melalui kerja keras tim penyidik. Tim Reskrim Polres yang melakukan olah TKP rumah Priyono di Blok C 3 No 18, menemukan berbagai kejanggalan. Sebab tinggi air di ember besar itu sebatas pinggang anak tersebut. Selain itu, di pinggang sisi kiri bocah itu terdapat bekas tamparan. Namun polisi tidak gegabah menuduh Priyono. Jasad Aditya kemudian dikirim ke Labfor UNS Solo. ''Hasil Labfor itu menguatkan keyakinan kami kalau Aditya meninggal akibat tindak kesengajaan,'' tutur AKP Parni Handoko SH. Ditenggelamkan Menurutnya, tanda-tanda bekas penganiayaan itu antara lain terlihat pada lempeng kiri terdapat bekas tertekan permukaan ember. Pinggang dan punggung terlihat memar, diduga karena ditekan dengan tangan. Rabu sekitar pukul 18.30, pelaku yang dicecar penyidik akhirnya menyerah dan mengakui perbuatannya. Pelaku mengatakan, dirinya menenggelamkan Aditya dengan cara menekan bagian tengkuk dan pinggang ke dalam ember, sehingga wajahnya terbenam ke dalam air. Selang lima menit, bocah itu kehabisan nafas dan meninggal. Polisi sempat bimbang, saat mendapat laporan keluarga Priyono kalau Aditya meninggal akibat tercebur di ember. ''Ketika pelaku lapor polisi, keluarga pelaku termasuk istri Priyono Iswati, tidak menaruh kecurigaan. Istri Priyono juga mengira kalau Aditya hanya mengalami kecelakaan biasa,'' tutur Kapolres. Setelah perkara pembunuhan anak balita itu terkuak, Kapolres memanggil kedua orang tua korban, Ali Wijaya dan Natarina alias Nana. Keduanya yang semula disebut sebagai TKI bekerja di luar negeri, ternyata PNS. Priyono menuturkan, Natarina bekerja sebagai staf Dinas Peternakan Kabupaten Temanggung dan Ali Wijaya petugas Dinas Perhubungan yang bekerja di Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Makassar. Sejak bayi, Aditya Pratama dititipkan ke keluarga Priyono. ''Memang sejak bayi, keluarga saya yang mengasuh Aditya,'' tutur Priyono. Setelah memeriksa pelaku, penyidik akan meminta keterangan Iswati, istri pelaku serta pasangan Ali Wijaya dan Natarina, orang tua biologis bocah nahas tersebut.(nin-67s) |