logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 02 Juni 2006 WACANA
Line

Ketika Kita Jauh dari Allah

  • Oleh Jabir Alfaruqi

DI tengah rasa sedih dan kepedihan yang mendalam sebagai bangsa yang terus - menerus ditimpa musibah, kita perlu merenung dan mengambil hikmah dari semua bencana alam yang melanda bangsa ini. Tidak lupa pula kita harus memiliki solidaritas, saling bahu - membahu dan meningkatkan kebersamaan sebagai wujud rasa kemanusiaan kita.

Hal yang menarik adalah mengapa gempa bumi itu terjadi di tengah semua pihak siap siaga mencermati aktivitas gunung Merapi dengan segala teknologi canggih yang dimiliki, tetapi tetap saja belum bisa mendeteksi datangnya gempa. Merapi yang begitu dikawatirkan oleh banyak pihak ternyata berubah menjadi tontonan yang menarik karena letusan Merapi menampilkan panorama alam yang begitu indah.

Setiap guguran lava yang berbentuk muntahan api bisa dilihat dari kejauhan dengan alat canggih dan menjadi daya tarik wisata tersendiri. Di saat rasa khawatir mulai hilang, tiba-tiba manusia dikejutkan dengan gempa bumi berkekuatan 5,9 skala richter yang meluluhlantakkan daerah Yogyakarta dan Klaten, dan lainnya. Ini adalah bagian dari misteri Ilahi. Kalau sebelumnya sudah diketahui manusia akan adanya gempa bumi, itu bukan misteri namanya. Semua misteri itu adalah bagian dari Keagungan-Nya.

Bencana yang sulit dideteksi adalah bagian dari tanda kebesaran Allah. Jika bencana alam itu bagian dari kebesaran Allah, lalu apa saripati yang bisa diambil oleh manusia sebagai shohibul musibah?

Meyakini Kebesaran-Nya

Pertama, manusia akhir-akhir ini merasa besar dan benar sehingga memperkecil Allah dan manusia lainnya. Bentuknya manusia menganggap orang lain kecil, lebih suka menyalahkan orang lain dan menimpakan kesalahan pada orang lain. Sulit menemukan manusia yang mau melakukan otokritik terhadap dirinya sendiri, berani mengakui kesalahan, meminta maaf dan bersedia menerima risiko hukum maupun sosial akibat perbuatannya.

Akibatnya, orang lain serba salah dan dirinya serba benar. Bahkan di hadapan Allah saja manusia merasa paling benar dan merasa lebih besar. Padahal semua yang diklaimnya itu adalah pakaian Allah.Di kalangan pemimpin agama sendiri sering masih suka berebut kebenaran dan mengakui paling benar padahal sebenarnya tidak melakukan sedikit pun dari kebenaran itu.

Kalau pimpinan agama sudah saling rebutan merasa benar, lalu siapa sebenarnya yang menjalankan kebenaran itu. Kebenaran hanya dijadikan bahan rebutan tetapi sebenarnya tidak dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Di kalangan pejabat negara, masih adakah di kalangan ini pemimpin yang mau bangun malam, bersujud atau berdoa di tengah malam untuk memohonkan ampun orang-orang yang dipimpinnya, memintakan kepada Allah agar hati para rakyatnya diberi ketenteraman, memintakan kecukupan dan keberkahan bagi yang kekurangan pangan, memintakan dilapangkan bagi yang sedih dan sumpek hidupnya, memintakan agar rakyatnya bisa hidup rukun, tentram, aman- sejahtera dan hidup saling menyinta, hormat -menghormati?

Atau bahkan sebaliknya yakni yang ada hanyalah penguasa yang hanya menghitung-hitungan fee proyek, membikin program atas nama rakyat tetapi sebenarnya mengeksploitasi rakyat, memanfaatkan bencana untuk meningkatkan popularitas dan keuntungan finansial. Jawaban dari sekian pertanyaan itu tidak diperlukan, tetapi kalau pemimpinnya saja sudah jauh dari Allah bagaimana rakyat yang dipimpinnya akan selamat?

Pemimpin di mata Yang Kuasa adalah barang garansi atau jaminannya, jika barang jaminannya saja sudah tidak disukai Allah, bagaimana yang digaransi bisa aman? Inilah masalah mendasar yang harus direnungkan para pejabat Negara.

Pertanyaan kita apakah tidak mungkin, bumi yang dihuni oleh orang yang tidak tahu diri itu kemudian juga terinspirasi untuk ikut demo agar diizinkan untuk menggerak-gerakkan tubuhnya karena terlalu lelah dan panas oleh perilaku manusia?

Jadi bukan manusia saja yang bisa demo. Bumi tidak tinggal sendirian, punya tetangga seperti laut, gunung dan langit. Nampaknya gunung, bumi, laut dan udara mulai kompak untuk demo agar penghuninya tidak sombong dan tahu diri. Yang belum ikut-ikutan terprovokasi nampaknya langit. Planet yang satu ini masih terlihat tenang dan belum melakukan protes pada manusia.

Tapi jangan dientengkan diamnya langit, kalau sudah mau bergeliat, bisa hancur semua isi dunia. Jika semua yang keberatan dengan perilaku manusia itu demo secara bersamaan, mungkin manusia akan sulit untuk berteduh.

Kedua, cobaan demi cobaan, bencana demi bencana adalah ujian dari Allah. Menurut kaum sufi sebaik-baik orang yang dicoba adalah yang semakin dekat dan semakin cinta kepada yang menguji. Jika bangsa ini mau dijadikan emas 24 karat maka harus tahan akan gemblengan demi gemblengan. Tetapi kalau ingin jadi sampah maka tidak perlu diuji, cukup dibuang di tempat-tempat pembuangan sampah. Siapa tahu setelah bangsa ini terpuruk dan saatnya tiba akan menjadi bangsa yang diperhitungkan di kemudian hari.

Untuk menjadi bangsa yang diperhitungkan haruslah diuji terlebih dahulu, apakah lulus atau tidak. Jika lulus, penulis yakin bangsa ini akan menjadi lebih besar dari yang sekarang. Karena itu disamping rasa sedih dan pedih harus memiliki cita-cita, harapan dan permohonan kepada Allah agar nasib bangsa di kemudian hari lebih

baik dari yang sekarang. Semakin sedih suatu kaum sebaiknya semakin mendekat kepada Allah dan ingat di saat-saat keputus asaan tiba, maka waktu itu pulalah Allah akan mengabulkan semua permohonan manusia.

Manusia perlu dibikin sedih dan perih karena Allah akan dekat dengan orang-orang yang berhati pedih dan perih. Doa-doa kaum yang pedih dan sedih itulah yang akan dikabulkan oleh Allah bukan doa yang dilakukan berjubel-jubel, dengan beramai-ramai, mengeraskan suara dan dengan perasaan sukaria. Orang yang hidup dengan penuh kegembiraan dan glamour akan sulit diterima doanya. Karena itu saat ini merupakan moment yang tepat untuk menginsafi akan ke-Agungan-Nya.

Ketiga, semua bencana atau musibah itu media pendidikan kepada manusia agar meyakini dan menyadari sampai mendarah daging akan konsep inna lillahi wa inna ilaihi rajiun ( semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah). Kata-kata itu bukan hanya dibaca pada saat mendengar berita duka/kematian saja tetapi itu konsep asasi dan luas sekali maknanya.

Kalau kita menyadari semua (diri kita, anak-istri, harta, tahta, langit , bumi dan isinya) adalah milik Allah mengapa kita merasa bersedih kalau sesuatu itu diambil oleh pemiliknya? Bukankah manusia itu hanya ketitipan saja, kalau yang menitipkan mau mengambilnya, mau apa manusia? Oleh karena itu manusia tidak perlu rakus-rakus mengeruk harta orang lain, menguras isi bumi dan mengorupsi uang rakyat. Sebab percuma susah-susah mengumpulkan kalau Allah menginginkan untuk diambil, sekejap saja bisa hilang.

Manusia sebenarnya cukup untuk meyakini dan membuktikan keagungan-Nya saja. Dunia adalah saving untuk akhirat. Sebab sebaik-baik jiwa yang kembali adalah yang kembali dengan jiwa yang tenang. Jiwa yang tenang adalah yang menyadari sepenuhnya akan Keagungan-Nya.

Orang yang pada dirinya sudah mendarah daging akan kebesaran Allah hidupnya tidak akan sedih, tidak akan dirundung duka dengan bencana. Sebaliknya akan bersenang hati kalau masih terus dicoba. Itu artinya Allah masih sayang dan akan dinaikkan tingkat.

Sebaliknya orang yang tidak bisa mengenal dan menyakini kebesaran-Nya akan sedih dan berat hati setiap ada musibah. (11)

- Jabir Alfaruqi, direktur Lembaga Studi Agama dan Pembangunan (LSAP)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA