| Jumat, 02 Juni 2006 | SEMARANG |
Biaya Pengobatan Dikembalikan 100%SEMARANG - RS Banyumanik, yang telanjur menarik biaya dari pasien korban gempa bumi tektonik di Jateng dan DIY, sepakat akan mengembalikannya 100%, tanpa potongan. Manajer Tata Usaha dan Personalia RS, Drs Amat Sobirin, mengatakan hal itu terkait dengan pungutan terhadap dua pasien asal Desa Surean, Jetis, Bantul, Ny Sukinem Prawiro (62) dan Agil Ramadhan (14), sebesar Rp 838.000. "Hari ini (kemarin-red), kami sepakat akan mengganti biaya perawatan dua pasien yang sempat dirawat di tempat kami. Kalau perlu, kami siap mengantarkannya kepada keluarga pasien, tanpa ada potongan," papar dia di ruang kerjanya, Kamis (1/6). Bahkan, untuk dua pasien pasangan suami istri, Sumiharjono (55) dan Sudiasih (52), asal Desa Krapyak, Sewon, Bantul, yang kini masih dirawat di RS Banyumanik, akan menggratiskan seluruh biaya perawatan. "Sesuai instruksi Gubernur melalui Dinas Kesehatan, kami tidak akan memungut biaya dari dua pasien gempa tersebut," lanjut dia. Dipungutnya biaya terhadap pasien dikarenakan ketidaktahuan pihaknya. Surat pemberitahuan pembebasan biaya perawatan korban gempa baru diterima Rabu (31/5), setelah ada pertemuan pihak manajemen seluruh rumah sakit se-Kota Semarang di kantor Dinkes Jateng. "Suratnya baru Rabu lalu, tetapi pasien asal Jetis sudah keluar dari RS Banyumanik sehari sebelumnya. Jadi, sama sekali tidak ada kesengajaan dari kami," ungkap dia. RS St Elisabeth justru mengaku bingung dengan surat edaran dari Dinkes Jateng. Meski tertulis harus membebaskan biaya perawatan korban gempa, tetapi pada kalimat tambahan di bawahnya justru menyatakan biaya ganti rugi harus sesuai dengan standar biaya asuransi kesehatan keluarga miskin (Askeskin). "Padahal, Elisabeth belum melakukan kerja sama dengan Askes. Jadi, perlu kami klarifikasi lebih lanjut. Baru setelah ada kejelasan, akan kami bicarakan bagaimana pelaksanaannya," tutur dokter B Sugiyanto, Dirut RS St Elisabeth. Sementara itu, jumlah pasien yang menjalani rawat inap di Rumah Sakit Dokter Kariadi (RSDK) sebanyak 17 orang. Dua orang pasien meninggal dunia, keduanya adalah wanita asal Yogyakarta. Satu orang dari korban meninggal tersebut mengalami patah tulang leher, tulang belakang, dan dalam kondisi hamil. Adapun satunya lagi karena mengalami trauma abdomen dan toraks. Menurut spesialis kejiwaan, dokter Ismed Yusuf SpKJ, perlu segera dilakukan pendampingan terhadap para korban. "Melalui pendampingan, trauma yang mereka alami akan teratasi.'' Trauma sesaat setelah kejadian, ungkap dia, lebih mudah ditangani dibandingkan yang muncul enam bulan setelah kejadian. (dky,lin-62h) |