logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 30 Mei 2006 NASIONAL
Line
bencana

Tragedi Gempa di Pantai Selatan (3)

Tertimpa Reruntuhan, Bayi 4 Bulan Selamat


MASIH DIRAWAT: Joned Jazir Abdullah tidur di lantai RSUD Dr Soeradji Tirtonegoro, Klaten. Bayi berusia empat bulan itu dirawat karena luka di kening akibat tertimpa reruntuhan rumah.(64a) SM/Merawati Sunantri

TUGINO (35), warga Dukuh Panggil, Desa Sawit, Kecamatan Gantiwarno, Klaten, sontak berlari kencang kembali ke rumahnya, ketika gempa dahsyat mengguncang Klaten dan sekitarnya, Sabtu (27/5) lalu. Dia batal menggarap lahan sawahnya sesaat setelah terjadi lindhu (gempa).

Namun begitu, saat tiba di rumah, deg, hatinya miris melihat tempat tinggalnya hancur berantakan. Lebih teriris lagi, ketika dia membayangkan empat orang yang dikasihinya tertimbun reruntuhan rumah. Ya, ibu, istri, dan dua anaknya masih berada di dalam rumah, ketika Tugino berangkat ke sawah pagi itu.

Tanpa berpikir panjang lagi, Tugino segera menyingkirkan kayu-kayu atap dan pecahan batako yang menimbun kamar anaknya. Sungguh suatu keajaiban. Dia menemukan Joned Jazir Abdullah, anak bungsunya yang masih berusia empat bulan, dalam keadaan hidup walau tubuhnya kotor sekali. Hanya di keningnya terdapat luka goresan yang cukup lebar. Dia memeluk dan menciumi bayi manis itu.

"Dia bisa selamat hanya karena pertolongan Allah. Saya benar-benar tidak menyangka, Joned bisa selamat walau tertimbun reruntuhan rumah yang berat," kata Tugino, ketika ditemui Suara Merdeka di RSUD Dokter Soeradji Tirtonegoro Klaten, kemarin.

Seusai menyelamatkan Joned, Tugino teringat Hindun Solehan (32), istrinya, dan Misbahhudin (3), anak keduanya. Ternyata, mereka tertimbun saat berada di dapur. Setelah ia berjuang keras menyingkirkan reruntuhan, akhirnya istri dan anaknya dapat terbebas.

Saat itu, Hindun yang sedang menuang air panas berlari masuk rumah ingin menolong Jazir. Tapi baru menjejakkan kakinya di tangga, rumah sudah roboh. Dia tertimpa pintu hingga punggungnya sakit dan tak bisa berdiri. Misbah kecil yang sedang tiduran di balai-balai dapur, dipeluk neneknya, Ny Pairo (60) yang berada di dapur membuat pecel. Misbah mengalami luka sobek di bagian kepala hingga mendapat 10 jahitan. Sementara itu neneknya mengalami luka cukup parah.

Heroik

Kisah Lasidi (48), warga Pendowohardjo, Sewon, Bantul, tak kalah heboh. Dia selamat walaupun empat jam lebih tertimbun tembok rumah tetangganya. Hanya, punggungnya masih sulit digerakkan lantaran tulang penyangganya retak, dan kini harus menjalani perawatan di emperan Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dokter Sardjito, Yogyakarta.

Tidak jauh dari tempatnya berbaring, anak bungsunya, Erik Asprila (10) tergolek. Bocah itu mengalami patah tulang di bagian kaki kanannya.

Pada saat terjadi gempa, cerita Lasidi, sebenarnya dia sudah berhasil lolos keluar rumah sambil membopong Erik Asprila (10), anak bungsunya. Namun naas bagi mereka berdua; belum sempat lari ke tanah lapang, tembok rumah tetangganya ambruk menimpanya.

Ketika tembok itu akan roboh, dia berusaha tiarap dan mendekap anaknya. Punggungnya dikorbankan untuk melindungi sang anak. Terkubur di antara reruntuhan, dia masih bisa bernapas, begitu juga anak di dekapannya. Namun entah mengapa, dia sama sekali tidak bisa bersuara atau berteriak.

"Saat itu saya mendengar suara orang-orang berlari dan berteriak, 'Awas, ada tsunami! Saya hanya bisa pasrah. Kalau pun akan mati, saya sudah ikhlas," katanya.

Tidak lama setelah terjadi gempa, menurutnya, warga digegerkan oleh isu tsunami. Akibatnya, mereka segera berlarian ke bukit-bukit tanpa menghiraukan para korban yang tertimpa reruntuhan material. Tak ketinggalan, istri dan anak Lasidi pun ikut-ikutan lari bersama puluhan warga lainnya ke bukit yang berjarak lima kilometer lebih.

"Saya tetap tertahan di dalam reruntuhan bangunan. Tapi lama-lama dada tarasa sesak dan sulit bernapas. Kalau dihitung, mungkin sekitar lima jam saya terkubur di bawah puing-puing," kenangnya.

Ketika masih tertimbun, Lasidi sempat mendengar istrinya memangil-manggil namanya. Lantaran masih sesak napas, dia tidak mampu mengeluarkan suara untuk membalas panggilan itu. Untung saja anak pertamanya mendekati reruntuhan yang tepat berada di halaman rumah itu. Dari anaknya itulah, keberadaan Lasidi diketahui oleh para tetangganya.

"Kami berusaha mengangkat bongkahan tembok dan mengevakuasi Lasidi bersama anaknya. Saat itu juga, kami memapah Lasidi untuk segera mengungsi karena warga lainnya sudah lari ke bukit," ungkap Ratijo, salah satu kerabat Lasidi.

Nenek dan Cucu

Syukur serupa juga dirasakan oleh Pania (35), warga Dusun Trimulyo, Desa Karangsemut, Kecamatan Jetis, Bantul. Walaupun rumahnya rata dengan tanah, orang tua, dua anak kembar, serta sanak saudaranya tak ada yang meninggal. Mereka hanya mengalami luka-luka.

Jiyan (60), ibu Pania, kini dirawat di RS Panembahan Senopati Bantul. Nenek itu dilarikan ke RS setelah tiga jarinya nyaris putus tertimpa reruntuhan tembok rumah. Ketika ditanya perihal bencana yang melanda, Pania sesaat menghela napas panjang. Beberapa saat kemudian, dari bibirnya meluncur rentetan cerita yang mengharukan.

Bagimana tidak perih, sesaat gempa pertama usai, dia melihat ibu dan seorang anaknya, Daniel Wijanarko (11), terkubur reruntuhan tembok rumah. Meski terkubur selama hampr dua jam lebih, nenek dan cucu itu ditemukan dalam keadaan selamat. Sementara itu dia, ayahnya Ahmad Waluyo (60), serta seorang anak lainnya, David Wijanarko (11), terhindar dari malapetaka setelah berhasil lari ke luar rumah.

Di rumah yang berdiri di pinggir Jalan Imogiri, Bantul, itu Pania, kedua orang tua, serta anak kembarnya, tinggal. Dengan semburat rona kesedihan, Pania menceritakan kepanikannya begitu mengetahui anak dan ibunya tertinggal di rumah yang sudah rata dengan tanah.

"Saya terus berteriak memanggil nama simbok dan Daniel. Saya hanya berani berteriak minta tolong; takut masuk rumah. Sebab waktu itu tanah masih bergerak, dan saya melihat rumah-rumah tetangga sudah roboh. Wah, pokoknya suasananya ngeri banget," kata Pania.

Di pinggir jalan yang menuju ke arah makam raja-raja Mataram itu, dia hanya berteriak seraya berdoa agar dua orang yang dicintainya selamat. Jika dihitung rentang waktu, ada dua jam lebih dia gundah gulana. Sempat terlintas di benaknya, ibu dan anaknya tewas tertimpa bangunan. Setelah gempa mereda, bersama kakak kandungnya yang tinggal di seberang jalan, Sukirno (45), Pania segera bersigegas masuk rumah.

Potongan kayu pondasi rumah, bongkahan tembok, dan barang-barang yang berserakan, mereka singkirkan. Sambil membongkar puing rumah yang sudah tak karuan, Pania dan Sukirno terus memanggil nama Jiyan dan Daniel. Dan hati Pania sempat ciut, ketika melihat anaknya yang bersekolah di SD Kowang Trimulyo itu hanya terlihat sebagian. Kepala Daniel menyembul dari puing-puing reruntuhan tembok dan kayu, sementara tubuh bagian pundak ke bawah tak terlihat.

Baru ketika tangis lirih Daniel terdengar, hati Pania sedikit lega. Dengan sekuat tenaga, Pania dan Sukirno segera menyingkirkan puing-puing. Begitu dikeluarkan, Daniel dibawa ke pinggir jalan. Bocah bertubuh kurus itu hanya mengalami luka lecet di kaki kirinya. (Tim SM-64a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA