logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 11 Mei 2006 OLAHRAGA
Line

Persiapan Istimewa Tunisia

SOAL persiapan menyongsong putaran final Piala Dunia 2006, kontestan lain bisa berkaca kepada Tunisia. Upaya wakil dari Afrika menguji strategi tim dan materi pemainnya itu cukup istimewa. Sebagai ajang pemanasan bagi tim nasional (timnas) mereka yang berjuluk Les Aigles de Carthage alias "Elang dari Carthago", Federasi Sepak Bola Tunisia (FTF) menggelar turnamen segi empat di Tunis, 30 Mei-2 Juni nanti.

Peserta turnamen itu sebenarnya tak bisa disebut istimewa. Selain Tunisia sendiri, ada Belarusia, Libya, dan Uruguay. Tim undangan ini bukan kesebelasan mentereng dari segi penampilan dan prestasi. Namun keistimewaannya, konon ketiga tim tersebut memiliki tipikal serupa dengan tiga lawan Tunisia pada penyisihan grup mendatang.

Di Jerman, Tunisia tergabung di Grup H bersama Spanyol, Ukraina, dan Arab Saudi. Semua tim yang menghuni grup ini tak dapat dibilang ringan. Hal inilah yang menjadi dasar FTF menghadirkan tim yang bergaya sama sebagai penjajakan.

Masih belum cukup, Elang dari Carthago berencana untuk memainkan laga uji coba lagi. Hatem Trabelsi dkk telah dijadwalkan menjajal Jerman pada 5 Juni dan Kuwait dua hari berikutnya. Pendeknya, Pelatih Roger Lemerre ingin pasukannya mencapai puncak penampilan saat laga pertama melawan Arab Saudi 14 Juni nanti.

Tunisia bukan muka baru di putaran final Piala Dunia. Mereka lolos kali pertama pada tahun 1978 di Argentina. Mereka sempat membuat kejutan dengan menaklukkan Meksiko 3-1 dan menahan imbang Jerman 0-0. Sayang, mereka jatuh dipukul Polandia 0-1 hingga tak mampu melaju ke babak kedua.

Negeri yang terletak di Afrika Utara itu kembali lolos ke putaran final Piala Dunia 1998 di Prancis dan 2002 di Korea-Jepang. Hasilnya sama, mereka tetap tak mampu melewati penyisihan grup. Kiprah buruk itulah yang mesti ditepis Lemerre.

Andalkan Kekompakan

Pelatih asal Prancis inilah yang mengantarkan Trabelsi cs menjuarai Piala Afrika 2004. Hanya, gelar bergengsi kali pertama itu diraih saat Tunisia menjadi tuan rumah. Elang dari Carthago gagal mempertahankan gelarnya di Mesir, awal Februari lalu. Mereka tersingkir di perempat final Piala Afrika 2006.

Kendati demikian, Lemerre justru mendapat hikmah dengan kegagalan anak-anak asuhnya.

Menurut mantan arsitek tim Prancis di Piala Dunia 2002 itu, para pemainnya memperoleh tempaan mental. Kegagalan tersebut dinilanya sangat berguna untuk meningkatkan motivasi dan semangat juang Trabelsi cs di Jerman.

Keunggulan Tunisia tak terletak pada pemain-pemain bintangnya. Mereka memang memiliki beberapa pemain yang merumput di klub-klub Eropa macam Trabelsi (Ajax Amsterdam), Karim Saidi (Feyenoord), Radhi Jaidi (Bolton Wanderers), Mehdi Nafti (Birmingham City) atau Hamed Namouchi (Glasgow Rangers). Namun pasukan Lemerre lebih cemerlang karena kekompakan dan kesolidannya.

Para "legiun asing" tak merasa lebih tinggi dibandingkan rekannya yang lain. Hasilnya, permainan mereka padu dan stabil. Lemerre juga mengandalkan dua pemainnya yang berdarah Brasil, bek Jose Clayton (El Qatari) dan striker Francileudo dos Santos (Toulouse). Kualitas teknik dan visi permainan mereka akan sangat membantu di Piala Dunia. (Abduh Imanulhaq-40)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA