| Kamis, 11 Mei 2006 | EKONOMI |
Bisnis Leasing di Solo Hadapi Masa Sulit (1)Meski Sepi, Tetap Tambah Tenaga KerjaBISNIS apa pun sekarang ini menghadapi pasar yang lesu. Tak terkecuali bisnis leasing kendaraan bermotor. Kota Solo merupakan kota incaran bisnis ini. Jumlah peredaran uang di kota ini nyaris menyamai Semarang sehingga menjadi daya tarik bagi para pelaku bisnis leasing. Pada tahun 1990-an, usaha leasing yang beroperasi di Kota Bengawan dapat dihitung dengan jari. Saat itu jumlahnya kurang dari sepuluh. Sekarang jumlahnya mencapai 40 perusahaan. Semua perusahaan tersebut pusatnya di Jakarta. Pada masa 1990-an persaingan usaha leasing di kota ini tak begitu terasa. Sekarang, persaingan benar-benar ketat. Susahnya, dalam persaingan ketat begini, jumlah nasabah secara keseluruhan tak sebanyak dulu. Menurunnya daya beli dan naiknya suku bunga perbankan, membuat persaingan untuk menggaet nasabah semakin tidak mudah. Kalau pun mendapat nasabah, kadang sebuah perusahaan leasing harus benar-benar kritis, selektif, apakah nasabah itu termasuk orang jujur dan punya kemampuan untuk membayar kredit yang dikucurkan. Naiknya bunga kredit leasing dari antara 8% - 10% per tahun (untuk mobil baru) pada masa sebelum kenaikan harga BBM Oktober 2005, menjadi antara 11% - 13% per tahun pada masa sekarang semakin menurunkan minat calon nasabah untuk mengajukan kredit. Perusahaan pun juga tak semudah saat itu dalam menyalurkan pinjaman, karena ekonomi memang sedang sulit. Resiko bisnis leasing di masa sekarang benar-benar tinggi. Di satu sisi nasabah sulit dicari, di sisi lain perusahaan kadang ragu jika kedatangan nasabah yang akan minta kredit. Namun anehnya, dalam kondisi serba susah begini, banyak perusahaan leasing yang menambah jumlah karyawannya. Jika merekrut karyawan lagi, apakah tidak malah parah ? Bukankah dengan menambah karyawan berarti menambah pula pengeluaran untuk gaji dan biaya operasional. ''Dengan menambah jumlah karyawan, ternyata justru kami dapat menambah pemasukan pendapatan. Pemasukan itu sangat penting untuk cash flow,''ujar Yustinus Arif Gunadjaja, Brand Manager PT Suzuki Finance Indonesia Solo. Bagian Penagihan Penambahan jumlah karyawan dilakukan di Bagian Penagihan (Divisi Collection). Semula jumlah tenaga lapangan yang mendatangi rumah-rumah nasabah di PT Suzuki Finance Indonesia Solo ini tujuh orang. Beberapa bulan terakhir, jumlah itu hampir menjadi dua kali lipat. ''Saya tambah tenaga penagihan enam orang, sehingga sekarang jumlahnya menjadi tiga belas,''katanya. Ia mengakui dengan menambah jumlah tenaga, berarti biaya operasional perusahaan meningkat. Tetapi dari segi pemasukan pendapatan, juga mengalami peningkaan cukup signifikan. ''Yang jelas keuntungan kami menjadi berkurang,''katanya. Cara ini terpaksa ditempuh agar perusahaan tidak mengalami kerugian. Kalau tidak ada upaya seperti ini, kerugian akan terjadi cukup besar, karena pada masa sulit seperti sekarang melakukan penagihan juga tidak mudah. Hal tersebut juga diakui Brand Manager PT Equity Finance Solo, G Sukardiana. Untuk melakukan penagihan saat sekarang, kata lelaki kelahiran Padang ini memang diperlukan keuletan dan kegigihan serta kesabaran. Menurut dia, kalau penangih tidak ulet, gigih dan sabar, sulit mendapatkan uang. Meski tenaga Divisi Penagihan sudah bekerja maksimal, kadang hasilnya juga belum memuaskan. Mereka tak berhasil menagih uang, tak berhasil pula membawa kembali barang yang dikredit. Perusahaan terpaksa menggunakan tenaga eksternal. ''Tambah lagi biaya cukup besar,''katanya. Ia menyatakan heran menghadapi nasabah-nasabah yang nakal. ''Mereka tidak menyadari bahwa punya kewajiban membayar utang. Mestinya tidak usah ditagih, harus bayar,''katanya. Ia kesal dengan nasabah yang tak punya rasa tanggung jawab. Kadang ada nasabah, tak bisa bayar angsuran, malah barangnya digadaikan. ''Ini bagaimana. Di mana rasa tanggungjawabnya ? Repotnya yang menggadai itu kok ya mau. Kami kadang harus mengeluarkan biaya tinggi untuk mengambil kembali mobil atau motor kami,''katanya. (Subakti A Sidik-59) |