| Rabu, 10 Mei 2006 | PANTURA |
Ratusan Ha Tambak Penduduk Hilang Terkena AbrasiTEGAL- Abrasi yang selama ini terjadi di pantai utara, khususnya di wilayah Muarareja, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal, telah menghancurkan sekitar 300 ha lahan tambak milik nelayan. Selain itu, abrasi juga menghancurkan sebagian perumahan penduduk di wilayah tersebut. Abrasi terjadi hampir mencapai panjang tiga kilometer. Menurut salah seorang nelayan di Muarareja, Suhadi (60), abrasi mengikis daratan di pinggir pantai. Hal itu terjadi karena pohon bakau yang berfungsi sebagai penangkal arus air laut hilang ditebang. Suhadi mengatakan, dahulu di pinggir pantai tersebut terdapat ratusan hektare lahan tambak dan tanaman melati. Dia mengaku memiliki empat petak tambak dan kini semuanya hilang. Selain itu, di pinggir pantai tersebut awalnya juga terdapat tujuh rumah penduduk. Namun karena abrasi terus mengikis daratan di pantai, rumah penduduk yang ada di sana pun tidak dapat diselamatkan. Menurutnya, selama ini pemerintah telah membangunkan breakwater (pemecah gelombang) di sekitar pantai yang berfungsi menangkal arus air laut. Namun, dia menilai tidak berfungsi optimal. Sebab, breakwater tidak dibangun secara horisontal mengikuti panjang pantai, tetapi dibangun secara vertikal. Akibatnya, air laut tetap mengikis daratan. Belum Optimal Suhadi berharap kepada pemerintah untuk membangun breakwater sesuai dengan kondisi pantai. Hal itu agar tercipta optimalisasi fungsi breakwater sebagai penahan arus air laut. Dengan demikian, dampak buruk dari abrasi dapat dikurangi. Sementara itu, Ketua Forum Pemberdayaan Masyarakat Pantai (FPMP) Kota Tegal, Edi Waluyo mengatakan, ancaman abrasi yang terjadi di sepanjang pantai Kota Tegal tidak boleh diabaikan. Persoalan tersebut harus mendapatkan penanganan serius, karena bisa membahayakan ekosistem dan permukiman penduduk. Menurutnya, apabila kondisi tersebut dibiarkan terus-menerus, dalam 10 tahun ke depan wilayah pantai Muarareja rusak dan hilang. Akibatnya, ekosistem yang ada di sana juga akan punah. Edi mengakui, selama ini sudah ada upaya dari pemerintah untuk mengatasi permasalahan itu. Namun, dia melihat langkah tersebut belum optimal, seperti pembangunan breakwater yang belum memberikan banyak manfaat serta penanaman pohon bakau yang tidak dipelihara dengan serius. Karena itu, dia menilai penanganan abrasi dipantai utara harus melibatkan tim ahli dan seluruh masyarakat, terutama warga pesisir pantai. Dengan kata lain, harus dilakukan penelitian yang dalam mengenai sifat pantai dan ekosistem di sana. Dengan demikian, upaya penanganan yang dilakukan dapat optimal. (H17-52s) |