| Rabu, 10 Mei 2006 | OLAHRAGA |
Ukraina, Ancaman Baru dari EropaKEGAGALAN adalah sukses yang tertunda. Peribahasa ini sangat tepat disematkan pada tim nasional (timnas) Ukraina. Dalam dua kali usahanya lolos ke putaran final Piala Dunia, mereka selalu gagal pada laga play-off. Baru pada upaya ketiga langkah Andriy "Sheva" Shevchenko cs tak teradang. Ukraina melaju ke Jerman sebagai wakil kedua dari Zona Eropa. Tiket pertama milik Jerman yang otomatis lolos sebagai tuan rumah. Dengan dua laga kualifikasi masih tersisa di Grup II, pasukan Oleg Blokhin telah memastikan satu jatah peserta putaran final. Pesta sekitar 48 juta penduduk negara pecahan Uni Soviet ini hampir tertunda. Soalnya, pada laga kesepuluh di awal September itu Sheva cs ditahan imbang Georgia 1-1. Beruntung, pesaing terdekat Turki dan Denmark juga berbagi angka 2-2. Rakyat Ukraina tak perlu menunggu pertandingan terakhir melawan Turki dan Albania untuk berpesta pora. Raihan 24 poin timnas berjuluk Zbirna itu tak mungkin terkejar lagi. Ribuan penduduk pun tumpah-ruah di jalanan ibu kota Kyiv dan kota-kota besar lain seperti Dnipropetrovsk, Donetsk dan Odesa. Tak sulit untuk memahami besarnya luapan kegembiraan di negara yang merdeka tahun 1991 tersebut. Pada kualifikasi Piala Dunia 1998, mereka secara dramatis disingkirkan Kroasia dalam play-off. Kisah berikutnya kembali terulang pada play-off Piala Dunia 2002. Kala itu mereka disisihkan Jerman. Faktor Sheva Pamor Ukraina sebagai kekuatan baru sepak bola Eropa memang belum mengesankan. Publik bahkan jauh lebih akrab dengan nama sang kapten yang bermain di AC Milan, Sheva. Pemain terbaik Eropa 2004 itu tak sekadar bomber haus gol yang diandalkan Blokhin. Kepemimpinan dan pengaruhnya sangat dihormati. Bisa dibilang, sosok Sheva dan Blokhin adalah dua figur yang paling berperan dalam prestasi Ukraina. Blokhin adalah mantan penyerang terbaik era kejayaan Uni Soviet. Dia tercatat 114 kali membela timnas dan menyumbang 42 gol. UEFA kemudian menobatkannya sebagai pemain terbaik Eropa 1975. Pria berusia 53 tahun ini adalah arsitek bertangan dingin di balik keberhasilan Sheva cs. Ketika ditunjuk sebagai pelatih pada September 2003, Blokhin mengambil langkah brilian dengan memanggil pemain veteran Vladislav Vaschuk dan Serhiy Rebrov. Dua pemain senior itu disiapkannya untuk menggenapi kekuatan Zbirna yang bertumpu pada talenta-talenta muda. Perpaduan bakat dan pengalaman itu terbukti sukses. Namun Blokhin pernah mundur pada awal 2005 karena terbentur larangan rangkap jabatan sebagai pelatih sekaligus anggota parlemen. Pengadilan akhirnya memutuskan dia boleh melatih timnas dan tetap sebagai anggota parlemen. Rata-rata awak pasukan Zbirna bermain di liga lokal. Mereka merupakan pilar dari tiga klub terbesar di Ukraina, yakni Shakhtar Donetsk, Dynamo Kyiv dan Dnipropetrovsk. Kondisi ini memudahkan Blokhin karena mereka bisa dipanggil kapan pun. Selain itu, kesolidan dan kekompakannya mudah terjalin. Uniknya, para penggedor lini depan justru merupakan personel "legiun asing". Selain Sheva, ada striker Andrej Voronin (Bayer Leverkusen) dan Oleg Venglinsky (AEK Athena). Dengan kekuatannya, Ukraina mengancam peluang tim lain di Grup H, Spanyol, Tunisia dan Arab Saudi. (Abduh Imanulhaq-31) |