logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 10 Mei 2006 WACANA
Line

Surat Pembaca

Sinetron Indonesia

Melihat sinetron TV, umumnya didominasi 3 tema yaitu cerita laga (silat) legenda seperti Brama Kumbara, Nyi Roro Kidul, kemudian sinetron bernuansa Islam seperti Hidayah, Rahasia Illahi dan ketiga sinetron bertema remaja.

Untuk sinetron ketiga, bersetting anak sekolah lengkap dengan atribut seragam dan suasana belajar mengajar. Cuma yang memprihatinkan tingkah polah pemainnya kadang tidak sesuai predikat pelajar seperti rambut gondrong, pakai anting-anting yang cowok, rambut dicat dan sebagainya.

Yang ditonjolkan bukan prestasi, tetapi tingkah polah remaja sekarang. Rebutan pacar, kadang ngerjai gurunya, rumah mewah, mobil mewah, malam ke diskotik.

Sangat disayangkan kalau sinetron remaja hanya judul dan pemainnya yang berbeda tapi polanya sama, padahal ditonton seluruh remaja di tanah air.

Akibatnya tingkah laku pemainnya ditiru oleh sebagian remaja yang lain. Semoga ada produser sinetron yang tidak hanya berpikir laku dijual ke TV, tapi unsur mendidik yang musti dikedepankan.

M Bagie Yahya

Noyontaan Gg VII/8, Pekalongan

***

Mentari, Tersenyumlah

Tanggal 20 April 2006 sekitar pukul 14.00 saya mengisi ulang kartu prabayar, tapi sungguh mengejutkan karena kartunya sudah tidak dapat dipakai lagi alias hangus. Batas akhir pengisian pulsa per tanggal 20, dan sesuai keterangan operator otomatis kartu dapat diisi ulang sampai dengan tanggal tersebut.

Saya bertanya ke sesama pengguna Mentari atau pun kartu lain, memang kalau isi ulang pertanggal mepet pun masih bisa dilakukan, bahkan pada tanggal terakhir batas pengisian pulsa meski pukul 21.00, Pengalaman saya dan teman pun biasanya aman-aman saja.

Saya langsung ke Galeri Indosat Pandanaran Semarang untuk mendapatkan informasi, tapi pelayanan petugasnya tidak pas.

Customer service memang memberi penjelasan dengan baik, tapi di bagian receptionist pelayanannya acuh, kurang bersahabat dan tidak senyum.

Gimana Mentari, dalam era persaingan kartu prabayar yang sangat ketat kenapa malah informasi dan servisnya tidak dioptimalkan. Sudah bagus memang gedungnya tapi akan lebih bagus lagi kalau ditambah dengan informasi dan servis yang OK serta senyum bersahabat.

Hajar Dwi W

Jl KS Tubun 21, Jepara

***

Pembayaran Pajak

Pada 17 Maret 2006 saya membayar tagihan pajak dari KPP Semarang Selatan. Dulu pembayaran bisa dilakukan di kantor Pos Pembantu terdekat dan sekaligus pada lembar SSP dibubuhi tanda terimanya. Sekarang pembayaran harus dilakukan di kantor Pos Besar (Johar Semarang).

Ketika saya ke kantor Pos Besar pukul 11.15, petugas loket tidak mau melayani karena loket tutup pukul 11.00 hingga esok harinya terpaksa kembali lagi. Setelah pembayaran diterima, diberikan tanda terima khusus, tidak seperti dulu pada lembar SSP distempel oleh kantor Pos tersebut.

Karena wajib pajak harus melaporkan bukti pembayaran ke kantor Pajak (bila terlambat kena denda), maka bukti pembayaran harus difotokopi (dulu tinggal menyerahkan lembar SSP yang sudah ada bukti stempel/cap tanda terima dari Pos).

Cara tersebut saya anggap menyulitkan dan juga merepotkan wajib pajak. Belum lagi mungkin jarak kantor Pos Besar dengan wajib pajak cukup jauh dan bisa terjadi sekali datang dapat dilayani. Berapa biaya transpor ke kantor Pos, ke KPP dan fotokopi tanda bukti yang harus diserahkan ke KPP?.

Semua itu tentu akan menambah beban bagi para wajib pajak. Apakah tidak ada cara lain yang lebih praktis sehingga tidak berkesan mencari enak/gampangnya sendiri. Sementara pihak wajib pajak merasa kesulitan.

Salman Abidin

Jl Tembalang Baru I/89, Semarang

***

Sales Telepon

Belum lama ini seorang sales pesawat telepon memperkenalkan produk telepon rumah yang canggih dengan fasilitas antara lain nomer pemanggil tampak di layar, kalender jam yang bisa juga untuk kalkulator. Harga yang ditawarkan Rp 600 ribu.

Kemudian beberapa waktu berikutnya datang lagi sales membawa produk serupa. Karena tertarik maka saya membeli satu, harga Rp 200 ribu dengan garansi dan bila rusak bisa hubungi PT Delta Expanding Group Jl. Ringroad Selatan 67A Yogyakarta telp 0274 714577 (7145977).

Dua minggu berikutnya pesawat tersebut rusak, tidak bisa untuk memanggil hanya menerima dan tanggal serta jam pun ikut lenyap dari layar. Saya hubungi perusahaan tersebut tetapi sulit, Apakah ini sebuah bentuk penipuan dan semoga orang lain tidak mengalami.

Budi Setiawan

Gg Mangga 2 Wonokriyo, Gombong

Ujian Sekolah Vs

Ujian Nasional

Sekolah kini disibukkan dengan kegiatan rutin akhir tahun pelajaran berupa Ujian Sekolah (US) dan Ujian Nasional (UN). Pelaksanaannya tak boleh hanya dipandang sebagai kegiatan rutin atau formalitas saja, tetapi lebih dilihat sebagai hajat sekolah yang perlu perenungan, perencanaan, pemikiran, pendanaan dan tenaga.

Sekolah bertekad mengantarkan para siswanya melaksanakan US/UN serta clinyatakan lulus, meski tidak semuanya berpretasi.

Adanya standar keiulusan UN yang dijadikan tolok ukur baik/buruknya mutu sekolah, menempatkan mata pelajaran (mapel) UN sebagai prioritas, seolah punya kedudukan lebih tinggi dibanding mapel lain.

Akibatnya segala thek kliwer kegiatan sekolah sepertinya terfokus pada mapel UN. Dengan terpenuhinya nilai standar minimal kelulusan UN dijamin siswanya lulus semua.

Dampaknya dapat dipastikan, banyak sekolah yang bila ada siswanya tidak lulus, pasti akibat nilai UN tidak memenuhi standar minimal.

Tidak jarang US betul-betul hanya sebagai formalitas karena dianggap kurang berbobot. Akibatnya sekolah lanjutan (dari SMP ke SLTA) dalam penerimaan siswa baru mengabaikan nilai US, kecuali hanya memberi bobot. Realita ini menempatkan UN sebagai suatu yang maha perlu karena dipandang penentu mutu sekolah.

Akibat Iain, tidak ada sekolah yang berani untuk tidak meluluskan siswanya karena mapel US/non-UN, sebab hasil nilai US telah diolah sedemikian rupa sehingga siswa lulus, meski sebenarnya secara logika tidak lulus.

Akibat lebih buruk lagi, siswa kurang begitu greget terhadap mapel non-UN yang jumlahnya justru lebih banyak, sehingga bila mereka luius pun tidak seperti yang diharapkan.

Mari menjadikan semua mapel berbobot dan betul-betul sebagai penentu keIulusan. Jangan dibodohi/dininabobokan siswa dengan nilai yang telah direkayasa demi gengsi dan mutu sekolah.

Sudaryatno SPd

Guru SMPN 2 Adimulyo, Kebumen

***

Hadiah Gratis

Orang tua saya 14 April 2006 menerima undangan berhadiah dalam amplop tertutup dari seorang SPG yang isinya mendapat hadiah langsung gratis dari PT Global Asia serta hadiah tambahan dari sponsor. Hadiah bisa diperoleh jika nomor pin yang ada di undangan cocok.

Ternyata di tokonya di Jl P Kemerdekaan tersebut banyak pengunjung yang juga menerima undangan sejenis. Dijelaskan hadiah tambahan bisa diperoleh melalui undian tertutup berbarengan dengan hadiah langsungnya. Hadiah tambahan dapat dibawa pulang setelah membayar 35% administrasi.

Hadiah tambahan berupa laptop Toshiba, komputer Pentium IV, seperangkat home theatre Sony, mesin cuci Electroluc, TV 14' . Undian tertutup yang saya ambil menyatakan berhak atas sebuah hair dryer dan hadiah tambahan berupa seperangkat home theatre.

Ternyata perangkat audio tersebut tanpa VCD/DVD, hanya ampli, seperangkat speaker. Sedang kualitas suara yang dihasilkan tidak sebaik yang saya bayangkan. Saya kecewa kepada perusahaan yang berpromosi dengan cara menyebut barang elektronik merek terkenal tetapi yang diserahkan barang berkualitas ecek-ecek.

Pembaca agar berhati-hati jika mendapat undian berhadiah, hadiah langsung gratis. Tidak ada salahnya jika meneliti, mencoba dulu produk yang ditawarkan, jangan sampai membeli kucing dalam karung.

Mahyoga Anindyawibowo C

Jl BeringinII/362 Berkoh, Klaten


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA