logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 10 Mei 2006 WACANA
Line

TAJUK RENCANA

Kunjungan Ahmadinejad dan Celah Diplomasi Nuklir

- Kunjungan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad ke Indonesia sejak Selasa kemarin, harus betul-betul dimanfaatkan oleh pemerintah dan rakyat Indonesia untuk memainkan peran di tengah ketegangan isu nuklir. Memang dibanding dengan agenda Amerika Serikat dan negara-negara Barat, disadari sulitlah bagi kita menjadi penengah yang menentukan. Tetapi paling tidak, akan muncul nuansa khusus yang menjadi pertimbangan. Posisi Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, sudah pasti tidak dipandang sebelah mata, baik oleh AS maupun Iran. Masalahnya, bagaimana positioning kita dalam isu ini?

- Memaksimalkan setiap celah diplomatik. Itulah yang kira-kira patut diketengahkan oleh Pemerintah Indonesia seperti yang diupayakan banyak negara, misalnya Rusia dan China. Setelah Presiden George W Bush tiba-tiba menyatakan lebih menyukai ikhtiar diplomatik kendati tidak menghapus opsi serangan militer ke Iran, kini menyusul sedikit langkah maju yang dibuat Ahmadinejad. Dia mengirim surat kepada Persiden Bush, berisi tawaran mengenai "solusi baru" untuk kemungkinan mengatasi perbedaan di antara kedua negara tersebut. Juga untuk keluar dari masalah internasional dan situasi dunia yang sangat rentan sekarang.

- Terlepas apakah surat tersebut membuka peluang perundingan langsung antara Iran dan AS seperti yang terus didorong oleh Sekjen Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) Koffi Annan, bagaimanapun perkembangan ini merupakan kemajuan. Bahkan surat tersebut merupakan yang pertama dari seorang Presiden Iran kepada Presiden AS sejak tahun 1979 atau setelah kedua negara itu memutuskan hubungan diplomatik. Pada saat itu, kelompok garis keras di Teheran menyerbu dan menduduki Kedutaan Besar AS dan menyandera 55 warga Amerika selama 444 hari, sebagai salah satu pernik pascatumbangnya Shah Iran Reza Pahlevi.

- Masih terlalu jauh untuk berspekulasi, apakah surat itu akan menggerakkan peluang ke arah perundingan bilateral. Masalah AS - Iran sangatlah kompleks. Secara ideologis, telanjur terentang jarak sehingga percik sekecil apa pun yang mewarnai hubungan kedua negara itu, selalu menumbuhkan kecurigaan dan ketegangan. Rakyat Iran membalas menyebut Amerika sebagai "syaithon kabir" (setan besar) karena negeri para mullah tersebut dikelompokkan dalam deretan "poros kejahatan" bersama Korea Utara dan Kuba. Bahkan isu nuklir sekarang ini pun disebut-sebut tidak terlepas dari konstruksi hubungan kedua negara.

- Di balik ketegangan hubungan AS - Iran, sebenarnya mencuat masalah ketidakadilan. Semua tidak terlepas dari keterlibatan Amerika dalam peta geopolitik Timur Tengah. Terdapat faktor-faktor psikopolitik yang berpusar pada Israel. Keberpihakan nyata Washington kepada Israel dalam konfliknya dengan Palestina, tidak pernah bisa dikoreksi oleh kekuatan mana pun, termasuk PBB. Ketidakadilan inilah yang menyulut bentuk-bentuk perlawanan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Celakanya, Amerika tidak pernah mau berintrospeksi bahwa kebijakan luar negerinyalah yang memicu aneka perlawanan, termasuk dari Iran.

- Perang harus dicegah dengan berbagai cara. Selain berkait dengan kepentingan politik-ekonomi, kedatangan Ahmadinejad ke Indonesia patut ditempatkan dalam konteks pencegahan perang, andai AS dan sekutunya tetap memilih "solusi" kebuntuan politik tersebut. Akan banyak tragedi yang muncul - tragedi fisik, ekonomi, dan kemanusiaan. Perlawanan akan berkobar di mana-mana. Kehancuran pun tergambar di depan mata. Kini saatnya Iran meyakinkan dunia bahwa proyek nuklirnya benar-benar bertujuan kemaslahatan. Sebaliknya, Amerika tidak sekadar mencari-cari alasan untuk memuaskan nafsu hawkish-nya.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA