logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 10 Mei 2006 WACANA
Line

TAJUK RENCANA

Tetangga Ternyata Dokter Gadungan

- Dunia terasa makin sempit. Luas tanah tidak bertambah, hidup makin berimpitan dengan para tetangga. Meski berimpitan ataupun bersebelahan tembok, tetapi interaksi tak bisa dibangun setiap saat. Kadangkala seminggu, seorang tetangga tidak menyapa sebelahnya. Begitu sebaliknya. Bahkan, satu dan yang lain sering tidak akrab, apalagi kenal. Begitulah keadaan masyarakat kita sekarang ini yang telah banyak berubah. Berbeda dari dahulu, tetangga jauh, bahkan beda kampung, pun merasa saling mengenal.

- Ketika interaksi sosial gagal dibangun dengan rasa keakraban dan solidaritas, terasa ada sesuatu yang hilang. Lama-kelamaan keadaan seperti itu dianggap biasa saja dan terus berjalan sampai bentuknya akan seperti apa nanti, kita tak tahu. Keadaan masyarakat seperti itu adalah bentuk lain dari wajah masyarakat industri. Orang pergi dan pulang kerja, seperti orang-orang takut matahari. Berangkat pagi sebelum matahari terbit dan pulang setelah matahari terbenam.

- Ada konsekuensi dari keadaan ini, yakni berkurangnya kontrol lingkungan terhadap individu-individu dalam masyarakat. Setiap orang bergelut dengan persoalannya sendiri-sendiri dan akhirnya mereka juga secara optimal mengeksplorasi seluruh kekuatannya untuk mempertahankan kehidupan. Perhatian satu dengan yang lain bukan lagi menjadi isu utama, karena peralihan fokus tersebut. Dalam masyarakat seperti ini, kejutan demi kejutan, peristiwa demi peristiwa lahir, tetapi kemudian menjadi biasa lagi.

- Tidak mengherankan manakala kini sedang terjadi bahwa oh, ternyata tetangga kita adalah seorang teroris, ternyata tetangga kita bisa berdarah dingin untuk membantu persalinan yang tidak wajar, dan oh yang lain, termasuk ternyata tetangga kita adalah perampok besar atau pembunuh yang sadis. Sesaat tetangga terhenyak, setelah itu sebentar menjadi lupa lagi. Masyarakat menjadi mudah kaget, kemudian segera menyesuaikan dengan situasi tertentu. Jika penyesuaian itu gagal, lahirlah bentuk-bentuk perlawanan berupa penolakan, yang mungkin saja bisa anarkis.

- Bentuk masyarakat seperti sekarang ini, ditambah dengan tekanan kehidupan ekonomi yang makin berat, menjadikan banyak yang gagal atau frustrasi. Yang makin harus diperhatikan adalah saat mereka kemudian membentuk komunitas-komunitas tertentu yang eksklusif, karena merasa senasib. Sebaliknya, individu yang berada dalam situasi frustrasi berkepanjangan bisa saja melakukan kegiatan tidak sewajarnya, seperti yang terjadi terhadap kasus dokter gadungan itu. Apalagi, peran ''dokter'' itu menjadi eksis, karena ada ''pasar''.

- Inilah sebenarnya wajah dari masyarakat yang sakit. Yakni, ketika keburukan dan atau kesalahan bertemu dengan keburukan yang lain. Ada mata rantai yang sulit untuk diurai, yakni kehidupan masyarakat yang sakit melahirkan individu-individu yang juga sakit seperti itu. Saatnya kita berbenah, baik sebagai individu maupun komunitas. Masyarakat perlu dibangun dengan fondasi yang lebih kukuh dengan solidaritas, keakraban, kesantunan, dan tentu kasih sayang. Masyarakat perlu membangun kembali seluruh pranata sosial yang pernah ada dan dianggap baik agar kehidupan yang baik juga terjaga.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA