| Rabu, 10 Mei 2006 | NASIONAL |
Melatih Shalat secara Khusyuk (2-Habis)''O..., Begitu To Caranya"SEJAK awal pelatihan, Ustad Abu Sangkan sudah menegaskan tak akan mendefinisikan apa itu shalat khusyuk. Dia hanya memfasilitasi para peserta sampai pada pengetahuan cara menggapainya. Teori dan konsepsi tetap diberikan, tetapi yang paling ditunggu peserta tentu saja adalah bagaimana praktiknya. Menurut Abu Sangkan, agama mengajarkan barang siapa mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya. Orang harus tahu dulu siapa dia, yang bisa mengendalikan badan, otak, dan juga hatinya. Dalam shalat inilah orang harus dengan sadar mencari "aku" atau jati dirinya. ''Jika sudah menyadari dirinya adalah roh yang bisa mengendalikan badan, otak, dan hati, silatun (perasaan nyambung) dengan Allah akan semakin mudah,'' tandas dia. Lalu bagaimana cara mengenali diri sendiri? Dalam praktik para peserta dipandu secara bertahap. Latihan yang pertama adalah mencari diri dengan merasakan kaki masing-masing. Kemudian rasa itu dibawa menelusur ke badan bagian atas, ke kemaluan berhenti. Kemudian naik lagi ke dada, lalu ke rahang. Rasakan diri kita keluar dari mulut, sehingga yang dirasakan adalah perasaan luas tak terbatas. Pada tahapan ini, kita bisa "melihat" atau "merasakan" badan, hati, dan pikiran merupakan "alat" yang bisa kita kendalikan. Ketika dilanjutkan dalam latihan shalat satu rakaat, reaksi dan rasa yang diterima oleh masing-masing berbeda. Untuk mempersiapkan shalat, peserta diminta merelakskan badan. ''Seperti yang dilakukan anak kecil yang ketika berdiri tidak usah pakai jaim (jaga image) segala,'' tandas Abu. Anak kecil pun ketika berjalan sangat relaks, sehingga ketika jatuh dia nglumpruk. Ini tentu berbeda dari orang dewasa sangat cepat bereaksi sehingga ketika jatuh cenderung ada tulang yang sakit. Posisi kedua tangan peserta diminta menggantung dengan santai di samping badan, bahu turun, lalu mulai merasakan "aku" di atas badan, pikiran, dan hatinya. Ketika perasaan luas itu sudah tergapai, Abu Sangkan menyuarakan takbiratul ihram "Allahu akbar.....". Reaksi Hebat Reaksi mendengar nama Allah itu sungguh hebat. Ada peserta yang langsung menangis, ada juga yang jatuh tersungkur, dan bersujud. Saya sendiri merasakan ada hawa dingin dan damai yang meresap ke dalam hati. Perasaan menjadi semakin luas dan tenteram. Tanpa terasa, hati diliputi keharuan dan air mata pun mulai meleleh. Makin lama tangis pun makin menjadi. Saya memang tidak bisa ikut rukuk atau sujud, tetapi hanya berdiri sambil sesenggukan. Bedanya dengan cara shalat yang selama ini dilakukan ternyata adalah bahwa rasa haru itu timbul dengan sendirinya. Biasanya pikiran masih me-recall hal-hal yang membuat suasana takjub atau haru. Kali ini perasaan luas dan menghadap Allah itulah yang dengan sendirinya menimbulkan rasa haru serta tenteram. Dada serasa menjadi semakin luas. Menurut Abu Sangkan, sebaiknya kita membiarkan reaksi apa yang didapat. ''Masing-masing akan berbeda penerimaannya. Itu tergantung seberapa ikhlas kita membuka diri untuk silatun dengan Allah,'' katanya. Dia menambahkan, seseorang tidak perlu ngotot menggapai khusyuk. Yang diperlukan justru kerelaan ketika menghadap Sang Khalik. ''Kalau perlu, jika tak bisa khusyuk, kita bilang ya Allah saya kok tak bisa khusyuk. Maka berilah khusyuk kepadaku,'' tambahnya. Menurut dia, sebenarnya manusia tak akan bisa khusyuk selamanya. Namun Allah yang akan memberikan rasa khusyuk itu. ''Kita tinggal meminta''. Ketika seorang peserta menanyakan kok kadang nyambung kadang hilang, Abu menyatakan hal itu wajar. ''Biarkan saja. Memang shalat pun harus dilatih terus, supaya didapatkan perasaan nyambung terus-menerus. Kalian ini maunya enak, ikut pelatihan dua hari terus bisa nyambung sama Allah. Saya saja dua puluh tahun mencarinya,'' tandas dia dengan guyon yang disambut tawa peserta. Selain merelakskan badan, shalat juga diharuskan menempatkan tubuh pada posisi yang tepat saat melakukan gerakan. Ketika rukuk, kedua tangan memegang lutut sampai terasa ada peregangan di betis. Tubuh juga dijaga jangan sampai jatuh ke depan. Ketika sujud, rasakan bahwa badan kita adalah bagian dari tanah. Hanya tinggal aku yang sedang menyembah Allah. Harus juga memahami bacaan suratnya. Pelatihan dua hari saja memang tidak mungkin langsung memberikan hasil optimal. Sebab menggapai shalat khusyuk nyatanya perlu terus berlatih. Namun paling, tidak para peserta pelatihan sudah sampai pada kesimpulan, ''O... , begitu to caranya ''. (Bagas Pratomo-41m) |