| Rabu, 10 Mei 2006 | NASIONAL |
Polisi Buru Kurir "Dokter" HanungSEMARANG - Setelah memperoleh keterangan dari tersangka tindak aborsi, Agung Hanung Prabowo (35) soal keterlibatan orang lain dalam menjalankan praktiknya, polisi mulai memburu orang yang disebut sebagai kurir sang dokter. Dalam praktiknya, kurir itu diduga mempunyai peranan cukup penting. Pasalnya, ditengarai kurir itulah yang getol mencari pasien yang hendak melakukan aborsi. Diperoleh keterangan, setiap mendapatkan pasien, kurir mendapat bayaran Rp 200 ribu. "Kami masih akan mengembangkan penyelidikan. Dari keterangan sementara, memang ada pihak-pihak lain yang membantu tersangka dalam menjalankan praktiknya. Kami masih melacak orang yang dikatakan sebagai kurir tersangka," ungkap Wakasatreskrim Polwiltabes Semarang Kompol Drs Cornelis Wisnu Adji Pamungkas SIK didampingi Kanit Harda II AKP Gede Widiana, Selasa (9/5). Kendati menemui kendala dalam mengungkap keberadaan si kurir, polisi tetap berusaha menelisik lewat pengakuan tersangka maupun keterangan saksi. Dugaan keterlibatan kurir yang membantu menjalankan praktik aborsi, semakin kentara setelah polisi memeriksa seorang mantan pasien 'dokter' Hanung bernama SK (35). Dalam kesaksiannya, perempuan asal Kabupaten Kendal itu didatangi seorang yang mengaku bernama Suprat, usai berkonsultasi di sebuah kantor LSM yang berkecimpung di bidang kesehatan reproduksi di daerah Semarang Barat. "Waktu memperkenalkan diri, dia mengaku sebagai orang kepercayaan dokter kandungan. Dari Suprat itulah saya kemudian mengenal dokter Hanung," ujar SK saat ditemui seusai diperiksa di Mapolwiltabes Semarang, Senin (8/5). Selain memburu kurir tersangka, polisi juga melacak Teguh Darmawan yang dikenal sebagai dokter Agam yang juga dokter kandungan gadungan. Dari Agam, Hanung mengenal bagaimana cara melakukan aborsi saat menjadi kurir rekannya itu di Yogyakarta. Agam pernah dipenjara setelah pratiknya terbongkar beberapa tahun lalu. Telah Bebas Informasi sementara yang dikantongi penyidik, saat ini Agam telah menghirup udara bebas. Dia ditengarai kembali membuka praktik serupa di wilayah Kabupaten Semarang. "Besok (hari ini-Red), personel kami akan mengecek ke sana," tutur Wisnu Aji. Dalam mengungkap hingga tuntas kasus tersebut, polisi tak hanya menelusuri pasien dan kurir. Obat-obatan dan alat medis yang digunakan tersangka dalam melakukan praktik aborsi pun tak luput dari pantauan polisi. Beberapa apotek dan tempat yang disinyalir memperdagangkan alat-alat kesehatan, akan diperiksa. Bahkan para pemasok obat bius dan obat-obatan yang masuk daftar G (dilarang-Red) ke dokter gadungan yang membuka praktik di Jl Jembawan Raya 3 Kelurahan Kalibanteng, Kecamatan Semarang Barat itu, sejak beberapa hari terakhir telah ditelusuri. Di sisi lain, berdasar pengakuan sementara tersangka, obat-obatan diperoleh dari sejumlah toko obat, apotek, dan detailer. Karena itu, penyidikan akan diintensifkan ke arah para pemasok yang nama-namanya sudah dikantongi. Kini dalam pengembangan penyidikan, setelah memanggil seorang mantan pasien tersangka, polisi kembali memanggil delapan orang lain sebagai saksi yang diduga pernah meminta bantuan aborsi Hanung. Surat panggilan kepada delapan orang itu kemarin telah dilayangkan ke alamat yang bersangkutan. Dalam tahap awal, mereka dipanggil sebagai saksi dalam kasus aborsi ilegal. "Mereka kami jadwalkan datang hari Kamis besok (11/5). Keterangan para saksi akan kami kembangkan lagi," ujar Wakasatreskrim. Dia menambahkan, setelah praktik aborsi dokter kandungan gadungan terbongkar, banyak hal lain yang layak untuk ditelusuri dan menjadi bahan pengembangan penyidikan.(H21,D12-64m) |