| Rabu, 10 Mei 2006 | NASIONAL |
Mustain, 25 Tahun Narik BecakLIMA anggota keluarga Mustain (56), diam membisu di teras Puskesmas I Welahan. Mereka terpaku menanti jenazah Mustain yang masih dalam penanganan tim medis. Mustain, tukang becak asal Desa/Kecamatan Mijen RT 1 RW 1 meninggal dunia, sebagai korban penembakan peluru nyasar yang dilepaskan perampok Toko Mas Leo di kawasan Pasar Welahan, Selasa (9/5) pukul 15.30. Muzayin, paman korban mengatakan, hingga tadi malam, Pupon (45) istri korban masih shock di rumah. ''Setelah mendengar kabar kematian suaminya saat bekerja,'' ungkap dia. Kejadian itu sungguh mengagetkan sekaligus memukul keluarga korban. Mustain, laki-laki lugu itu adalah tumpuan keluarga, terutama dalam ekonomi. Istrinya sama sekali tak bekerja, sementara dua dari tiga anaknya masih dalam tanggungan korban. Anak-anak korban adalah Muhaimin, Wahidah, dan Muslimin. Wahidah telah mandiri sementara dua saudaranya masih satu rumah dengan orang tuanya. Sudah 25 tahun Mustain menjadi tukang becak dan mangkal di Jl Jalur Toko Mas, kawasan Pasar Welahan. Penghasilannya tak menentu. Seharian bekerja mulai pagi hingga petang hari, kadang memperoleh Rp 20.000-Rp 25.000. ''Dia adalah orang tua yang sangat bertanggung jawab terhadap keluarga, meski penghasilannya pas-pasan,'' tutur Sakrim (51), adik ipar korban yang belasan tahun juga sebagai tukang becak dan sama-sama satu pangkalan dengan Mustain. Beberapa waktu lalu, keluarga Mustain menjadi satu dari ratusan warga Desa Mijen yang menerima dana bantuan langsung tunai (BLT) kompensasi pengurangan subsidi bahan bakar minyak (BBM). Kini belum ada jalan keluar siapa yang kelak menggantikan posisi Mustain sebagai tumpuan keluarga. ''Anak-anaknya masih belajar bekerja. Mereka jelas terpukul dengan peristiwa ini,'' lanjut Sakrim. Hingga tadi malam, becak tua bercat biru lusuh milik Mustain masih menjadi saksi bisu kematian sang pemilik yang tertembus peluru perampok. Mustain sama sekali tak berhubungan dengan aksi perampokan itu. Ia hanya duduk termangu di atas becaknya, menanti penumpang, berharap menambah penghasilan untuk di bawa pulang petang hari. Harapan Mustain di sore yang cerah itu berakhir dengan kematian. Dia meregang nyawa di atas becak tuanya. Peluru yang diarahkan perampok ke salah seorang penjaga toko, justru bersarang di leher bapak yang tengah mengais rezeki untuk keluarga itu. (Muhammadun Sanomae-64m) |