logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 10 Mei 2006 NASIONAL
Line

Sepak Terjang Dokter Kandungan Gadungan (2)

Ada Kurir Khusus untuk Jaring Pasien


SM/Fahmi ZM DIKAWAL PETUGAS: Tersangka dokter kandungan gadungan, Agung Hanung Prabowo (baju tahanan) dikawal petugas Polwiltabes Semarang ke tahanan seusai menjalani pemeriksaan, Selasa (9/5).(30)

PRAKTIK aborsi dokter kandungan gadungan Agung Hanung Prabowo (35) memang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Namun bukan berarti pasien yang berhasil dijaring sedikit. Buktinya dalam pengakuan di hadapan penyidik, dia berhasil menggaet 50 pasien.

Keberhasilan menjaring pasien sebanyak itu tentu menjadi pertanyaan tersendiri bagi penyidik Unit Harta Benda (Harda) II Satreskrim Polwiltabes Semarang. Dalam pengembangan penyidikan terhadap dokter gadungan yang kini berstatus sebagai tersangka, pasien sebanyak itu diperoleh bukan hanya dari getok tular sejumlah bekas pasien yang berhasil diaborsi.

Melainkan, secara diam-diam, sang dokter gadungan yang membuka praktik ilegal di Jl Jembawan Raya 3 Kelurahan Kalibanteng, Kecamatan Semarang Barat itu mengaku memiliki tiga kurir. Lebih tepatnya, pesuruh yang bertugas memburu pasien.

Pengakuan pria drop out semester V sebuah akademi akutansi di Yogyakarta tersebut, membuat jajaran reserse kriminal segera menerapkan strategi lain untuk menguak lebih dalam praktik aborsi yang selama ini dilakukan.

''Hanung (panggilan akrab dokter kandungan gadungan Agung Hanung Prabowo-Red), sudah menyebutkan nama kurirnya. Kita akan memanggil kurir yang dimaksud untuk dimintai keterangan,'' papar Wakasatreskrim Polwiltabes Semarang Kompol Drs Cornelis Wisnu Adji Pamungkas SIK melalui Kanit Harda II Satreskrim AKP I Gede Widiana.

Kurir yang dimiliki sang dokter gadungan itu memiliki mobilitas cukup bagus. Dia punya kenalan di kalangan mahasiswi yang sering mendapat julukan ''ayam kampus'', juga karyawati yang punya kerja sambilan sebagai wanita panggilan.

Jangan heran, begitu ada wanita yang terjebak pergaulan bebas dan akhirnya hamil, sang kurir dengan mudah menemukannya. Karena wanita yang hamil di luar nikah, pada umumnya kerap berhubungan dengan wanita ''nakal'' yang menjadi mitra kerja sang kurir.

Tips Menggiurkan

Menurut Hanung, tiap kali kurir mendapatkan pasien, dia selalu memberikan tips yang menggiurkan. Mulai dari Rp 200.000 hingga Rp 300.000/pasien. Tergantung dari tarif yang disepakati pasien untuk biaya aborsi.

Setiap kali melakukan aborsi, dia mematok tarif bervariasi. Dari Rp 1,5 juta sampai tertinggi Rp 2 juta. Sedangkan untuk obat-obatan tertentu, satu kali resep yang diberikan Rp 250.000. Pada umumnya harga obat yang diberikan ke pasien mencapai Rp 750.000.

Setelah mendapatkan sasaran empuk, dia dan kurirnya menentukan waktu tepat untuk melakukan aborsi. Biasanya waktu yang dipilih tiga hingga satu minggu. Sebab, persediaan obat-obatan seperti obat bius untuk mengurangi rasa sakit dan untuk menghentikan pendarahan, sangat terbatas.

Tenggang waktu yang telah ditetapkan, biasanya digunakan sang dokter gadungan itu untuk ''berbelanja'' obat bius dan obat-obatan lain. Obat itu sering dibeli di sejumlah apotek, toko obat, atau detailer. ''Obatnya mahal. Karena saya beli lewat jalur tidak resmi,'' ungkap Hanung tanpa mau menjelaskan berapa harga obat yang dibelinya.

Mengenai tempat aborsi yang dipilih, adalah sebuah ruangan yang biasa digunakan sebagai tempat tidurnya. Ruangannya tidak cukup lebar hanya sekitar 3,5 m x 4 m dan tidak seperti layaknya ruang praktik dokter ahli kandungan yang lain.

Selain sedikit pengap dan kurang bersih, bagi yang kali pertama masuk tentu akan disambut bau sedikit anyir. Itu dialami sejumlah personel Harda II Satreskrim Polwiltabes Semarang saat menggerebek. Mereka langsung dihadapkan bau tidak sedap yang ternyata berasal dari peralatan untuk aborsi yang belum dicuci bersih.

Yakni gunting, pisau operasi, jarum suntik, penjapit untuk menarik janin, dan pispot. Sumber bau juga berasal dari ember atau baskom untuk menaruh janin dan menampung darah pasien yang diaborsi. Di ruangan itu pula, dari hasil keterangan tersangka dan sejumlah bukti, beberapa pasiennya "digarap".

Sebelum aborsi, dengan dalih agar cepat kontraksi, beberapa pasien disuruh melakukan hubungan intim dengannya. Lebih gila lagi, Hanung merekam adegan tersebut dengan telepon genggamnya. Tak hanya adegan hubungan intim, Hanung juga merekam adegan saat melakukan aborsi. Dari telepon genggam itulah polisi menemukan bukti baru sepak terjang sang dokter gadungan. Ada beberapa nama perempuan yang tersimpan di dalam telepon genggamnya, lengkap dengan gambar persetubuhan tersebut.

Anehnya, ruangan yang tidak sehat itu juga menjadi kamar tidur sang dokter kandungan gadungan, setiap hari. ''Dua hari lalu, memang saya baru saja mengaborsi seorang mahasiswi. Kandungannya berusia sekitar dua bulan 15 hari,'' ujar Hanung. Dia mengatakan, sudah terbiasa dengan kondisi bau seperti itu. Karena tidak ada tempat lain di rumah orang tuanya yang bisa digunakan untuk melakukan praktik aborsi.

Aborsi di Hotel

Melihat kondisi ruangan yang seperti itu, tentu tidak semua pasien mau diaborsi di tempat tersebut. ''Ya kalau mau bayar mahal, bisa juga aborsi di sebuah kamar hotel,'' tutur Hanung lirih.

Pengakuan itu pun merupakan perkembangan baru bagi penyidik reserse kriminal. Karena kini bukan sebatas untuk menguak siapa saja yang menjadi pasien sang dokter tersebut. Melainkan penyidik harus mulai mengendus asal-usul obat bius, keberadaan kurir sang dokter gadungan, dan kamar-kamar tempat penginapan seperti hotel, losmen, cottage, dan vila yang disinyalir dijadikan tempat untuk aborsi.

Memang hingga kini belum diungkapkan secara jelas, tempat penginapan yang dimaksud. Apakah berlokasi di dalam atau di luar Kota Semarang. Namun terlepas dari itu semua, aborsi yang mengambil tempat di sejumlah penginapan itu, kini telah menjadi perhatian tersendiri jajaran reserse kriminal untuk mengungkapnya.

Bahkan perkembangan terakhir, praktik serupa sebenarnya tidak hanya dilakukan oleh Hanung. Dalam pengakuannya di hadapan penyidik, dia mengetahui sejumlah orang yang bisa dimintai tolong melakukan pekerjaan seperti dirinya. Siapa sajakah nama-nama yang dimaksud, penyidik yang terus mengejar pengakuan sang dokter gadungan, tetap merahasiakannya.(Riyono Toepra, Fahmi ZM, Roosalina-64m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA