logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 10 Mei 2006 SEMARANG
Line

Fatal, Bawa Pasien ke RS saat Kritis

  • Pemahaman Masyarakat Masih Rendah

MRANGGEN - Pemahaman masalah kesehatan oleh sebagian masyarakat di pinggiran kota dewasa ini masih rendah, sehingga perlu upaya berbagai pihak untuk meningkatkan pemahaman dan pemberdayaan kesehatan masyarakat.

Masyarakat di sekitar Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, misalnya, kadang tidak peduli dengan kondisi kesehatan dan lingkungan serta menganggap sakit sebagai sesuatu yang biasa.

''Biasanya kalau batuk atau pilek, mereka mengatasi dengan obat-obatan yang dibeli di pasaran. Tapi, jika tidak kunjung sembuh, baru dibawa ke rumah sakit. Padahal, dalam beberapa kasus, batuk atau pilek itu bisa fatal,'' tutur Wakil Direktur Rumah Sakit Umum Pelita Anugerah (RSUPA), dokter Lukman Widyasaputra, kepada Suara Merdeka, kemarin.

Masyarakat, kata dia, perlu memahami penanganan secara dini terhadap gejala-gejala sakit agar dapat diantisipasi sejak awal. Lukman pun mengingatkan, para tenaga medis di daerah ini jangan mengabaikan keselamatan jiwa pasien. Sebab, mereka tahu risiko tersebut.

''Mereka kadang baru merujuk atau membawa ke rumah sakit saat mereka merasa tidak mampu lagi menangani. Padahal, ketika dibawa ke rumah sakit kondisinya sudah parah dan kritis, sehingga bisa fatal'' terangnya.

Dia mencontohkan, tenaga medis yang membantu ibu melahirkan enggan membawa ke rumah sakit. Padahal, sejak awal, mereka harusnya mengerti dalam kasus-kasus tertentu tidak mungkin ditangani bidan atau di poliklinik. Cara-cara seperti itu dinilai sangat membahayakan jiwa pasien.

''Setelah merasa gagal melahirkan normal dan butuh tindakan operasi, baru kemudian dibawa ke rumah sakit terdekat. Tindakan tersebut membahayakan pasien,'' ungkapnya.

Untuk itu, Lukman mengingatkan kepada masyarakat di daerah perbatasan tersebut, agar para tenaga medis, puskesmas, dan poliklinik perlu memperhatikan kasus-kasus seperti itu. Jika melihat tanda-tanda awal yang mengkhawatirkan, segera dibawa ke rumah sakit, tidak perlu menunggu lebih lama.

Biaya Terjangkau

Dia mengakui, keengganan membawa ke rumah sakit biasanya karena alasan biaya. Selama masih bisa ditangani bidan tidak perlu dibawa ke rumah sakit atau dokter. ''Ada kesan rumah sakit itu mahal, padahal kami juga mempunyai fungsi sosial untuk membantu sesama,'' katanya. Dia menyadari sebagai satu-satunya rumah sakit di daerah perbatasan, Pelita Anugerah menjadi tumpuan masyarakat sekitar. Untuk itu, pihaknya mengupayakan membantu masyarakat miskin melalui fasilitas yang diberikan pemerintah, Jamsostek atau askes keluarga miskin, yang sekarang sedang dalam proses.

Selain menerapkan biaya terjangkau, pihaknya memberikan pelayanan memadai terhadap pasien dan memanfaatkan profit untuk pengembangan rumah sakit di masa datang. ''Sekarang masyarakat memberi kepercayaan pada kami. Jumlah kunjungan meningkat dan bahkan penuh,'' jelasnya.

Hasil itu tidak mungkin dicapai dengan mudah. Pihaknya secara rutin mengedukasi masalah kesehatan kepada masyarakat sekitar melalui pertemuan rutin warga atau arisan. Selain itu, kunjungan ke tempat praktik dokter, bidan, puskesmas, dan tokoh masyarakat dilakukan secara intensif. (lin-16h)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA