| Rabu, 10 Mei 2006 | SEMARANG |
Kembangkan Bandungan, Gandeng Swasta''BEGITU melihat Bandungan kali pertama, saya merasa eman (sayang-Red) jika kawasan ini tidak ditata dengan baik, mengingat potensi alamnya tak kalah dengan daerah lain yang berhawa sejuk,'' kata Direktur PT Kendiva, Sugeng Purwanto. Pria asal Malang Jatim itu lalu menghubungkan keindahan alam kawasan wisata itu dengan sejumlah wisata di Batu, Songoriti, atau Selekta. Sugeng yang sejak 2002 mengelola New Bandungan Indah Diva Land (NBIDL), berusaha keras mengubah citra Bandungan yang semata-mata sebagai tempat untuk memenuhi nafsu birahi pria hidung belang. Berbagai perubahan wajah di area wisata PJKA tersebut dioperasi face-off sedemikian rupa. Dari kolam renang yang lama tak berfungsi diaktifkan kembali. Taman-taman disulap menjadi lebih asri. Dan yang baru saja dilakukannya, menjadikan kolam pemancingan sebagai Garden Cafe and Resto di malam hari. Jika Anda pernah ke tempat itu, bisa jadi akan terkesima melihat perubahannya. Di siang hari, pada beberapa pinggir kolam pancing tersedia tempat lesehan untuk menyantap hidangan dengan menu utama ikan gurami bakar. Begitu senja datang, citra suasana kolam tersebut sejenak lenyap. Lampu remang-remang, sejak sore disiapkan untuk sebuah pertunjukan musik live. Ya, sejak akhir April lalu, di area wisata tersebut telah dibuka Garden Cafe and Resto. ''Untuk sementara kami buka hanya pada hari Rabu, Jumat, dan Sabtu pukul 20.00 - 00.00,'' jelas Sugeng. Dalam pemilihan warna musik live, pria yang bolak-balik Malang-Bandungan setiap minggu itu, memiliki selera yang berbeda di pasaran. Pada Rabu malam, kafe tersebut menyajikan jenis musik dan lagu rege. Jumat malam dipilih warna musik oldest atau country dan khusus malam Minggu pihaknya menggelar konser musik top forties dan lagu yang sedang tren. Tidak takut ditinggal masyarakat yang mayoritas gemar dangdut? ''Untuk dangdut kami sajikan setiap ada momen khusus dan musik dangdut yang kami tampilkan harus berkelas,'' terangnya. Dalam romansa malam itu, pengunjung selain mengobrol dengan sesama teman dan kekasih, dapat menikmati hidangan musik. NBIDL juga menyediakan sajian menu makanan dan minuman menarik. ''Yang jelas, pelayanan kami utamakan seperti di hotel-hotel berbintang lima,'' papar Sugeng. Profesionalisme Bagaimana menata Bandungan agar lebih indah dan banyak dikunjungi? Menurut Sugeng, jawabnya Pemda harus menggandeng swasta. Pasalnya, jika swasta dilibatkan maka profesionalisme akan dijunjung tinggi tanpa ada kebocoran-kebocoran. ''Kami datang ke sini tidak sekadar profit (mencari untung-Red), tetapi bagaimana mengubah wisata ini menjadi berkesan. Kalau sekadar ingin untung, saya bisa buat karaoke dan diskotek. Namun apa jadinya? Peluang esek-eseknya akan malah besar di sana,'' ungkap Sugeng. Untuk dikenal orang, menurutnya sebuah wisata harus berani beda dari lainnya. Hasilnya cukup lumayan dalam setahun, kata Sugeng, ada sekitar seratus ribu pengunjung. (Rony Yuwono-16d) |