| Rabu, 10 Mei 2006 | SEMARANG |
Kasus Keracunan Makanan Masih TinggiSEMARANG - Kasus keracunan akibat makanan di Jateng masih tinggi. Keracunan itu sebagian besar karena masyarakat mengonsumsi makanan yang diolah secara tidak higienis. Dari data Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) di Semarang, pada 2005 lalu terjadi keracunan sebanyak 209 kasus. Selain itu, penyebabnya adalah jajanan anak sekolah yang mengandung bahan tambahan pangan (BTP) berlebihan atau mengandung bahan terlarang mencapai 58 persen dari 150 sampel yang diuji pada tahun yang sama. "Karena itulah, BPOM membuat analisis produk yang memiliki risiko tinggi terhadap konsumen. Secara periodik kami terus melakukan pengambilan sampel makanan," ungkap Kepala BPOM di Semarang, I Made Kawi Sukayada MM Apt, Selasa (9/5). Dia menyatakan hal itu di sela-sela pemantapan koordinasi tata hubungan kerja Badan POM dan lintas sektor yang digelar di Patra Convention Hotel. Koordinasi dengan Dinas Pertanian, Perikanan dan Kelautan, Peternakan, Perkebunan, BBMKP, dan Dinas Kesehatan Kota/Kabupaten, itu untuk mempermudah pengawasan produk obat maupun makanan. Menurut Made, di Jateng masih banyak ditemukan pangan olahan dan pangan yang belum terdaftar atau bersertifikasi. Produk pangan unggulan dari berbagai daerah pun masih cukup banyak yang menggunakan BTP. Dari 107 sampel yang diuji, 35 di antaranya masih menggunakan BTP berlebihan atau yang dilarang. BTP yang dilarang, namun sering digunakan pengusaha, adalah formalin, borax, rhodamin, dan metanil yellow. Sementara itu untuk bidang obat, pelanggaran di produksi tersebut masih cukup memprihatinkan. Dari pengambilan 2400 sampel pada 2005, 1,3 persen di antaranya merupakan obat palsu dan substandar. Yang lebih memprihatinkan, justru pelanggaran peredaran obat keras dilakukan tenaga medis dan sarana distribusi resmi. (H23-18a) |