logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 10 Mei 2006 SEMARANG
Line

Bermula dari Krempyeng di Bawah Pohon Johar

"Sampe pada taon 1865, ini satoe bagian dari aloon-aloon telah meroepaken sebagi satoe bagian dari pasar, djika pagi terdapet banjak orang jang sama djoealan berbagi-bagi barang kaperloean di itoe tempat, tetapi itoe poehoen-poehoen djohar jang terdapet di pinggiran djalanan, tetep belon dikasih laloe, maka oleh publiek dinamaken Pasar Djohar."

TULISAN jurnalis Harian Warna Warta Liem Thian Joe dalam buku Riwajat Semarang merupakan salah satu bahan rujukan yang kerap digunakan untuk menulis sejarah Pasar Johar. Ia demikian runtut memaparkan asal mula keberadaan pasar itu, dari sebuah pasar krempyeng menjadi pasar permanen.

Dalam tulisan itu, Liem menyebut tahun 1860 sebagai awal kemunculan pasar. Saat itu sejumlah orang menggelar dagangan di depan rumah penjara yang terdapat pada sisi timur alun-alun Semarang. Mereka melayani para keluarga tahanan yang duduk-duduk menunggu jam bezuk di bawah kerindangan pohon johar. Menurut Liem, barang dagangan yang dijual berupa hasil bumi seperti buah-buahan, jagung, ketela pohon, dan daun pisang.

Lantaran dianggap tak mengganggu lalu lintas, Pemerintah Stads Gemeente van Semarang (Pemerintah Kota Praja di bawah Pemerintahan Kolonial Belanda) membiarkannya. Petugas sapon Pasar Damaran yang berada di dekat tempat tersebut bahkan memungut retribusi kepada para pedagang. Dari deretan pohon yang ada di tempat itulah, nama Pasar Johar diberikan. Lama-kelamaan, Pasar krempyeng Johar menjadi besar, hingga memerlukan perluasan ruang.

Sebuah sumber resmi menyebutkan, pada 1865 terdapat 240 tempat dasaran-suatu jumlah yang cukup besar untuk ukuran waktu itu. Karena itu, untuk mengantisipasi perkembangannya, pemerintah membuka los penampung pedagang dengan biaya f 1.800 yang berhasil ditutup dari cukai para pedagang. Pada 1920, los-los ditambah lagi, sementara gedung penjara yang berada di dekatnya dibongkar.

Tahun 1931, Pemerintah Kota Praja berencana membangun sebuah pasar sentral modern untuk menggabungkan lima pasar yang sudah ada di sekitar kawasan itu, yakni Pasar Johar, Pedamaran, Benteng, Jurnatan, dan Pekojan. Johar dipilih sebagai lokasi pasar tersebut. Untuk itu, bangunan rumah penjara dirubuhkan dan pohon-pohon johar ditebang.

Pada 1933, Ir Thomas Karsten membuat usulan desain pasar sentral yang bentuk dasarnya menyerupai Pasar Jatingaleh. Rancangan dipublikasikan lewat harian De Javasche Courant dan Locale Technic.

Setelah beberapa kali revisi, rancangan disepakati dan pembangunannya dilaksanakan. Karsten merancang pasar sentral secara cermat, melalui kajian mendalam, termasuk iklim, cuaca serta perilaku penduduk setempat. Hasilnya, sebuah arsitektur yang luar biasa. Cahaya matahari (penerangan) bisa masuk ke dalam pasar tanpa mengakibatkan silau dan panas. Udara di dalam pun bisa bersirkulasi dengan lancar.

Terbesar dan Termodern

Bangunan Pasar Johar kala itu disebut-sebut sebagai yang termodern, terbesar, dan tercantik di Asia Tenggara. Pada 1955, pasar diperluas dan dibuat tingkat dua. Tahun 1960-an, bangunan tambahan dibuat di sekeliling dinding pasar. Hal itu menyebabkan tampilan arsitektur tidak serasi, dan sistem sirkulasi udara tidak lancar. Namun bangunan tambahan akhirnya dibongkar kembali. Pasar Johar lalu tumbuh menjadi pasar terbesar di Jawa Tengah.

Namun keunggulan pasar yang memiliki jangkauan pelayanan ekonomi regional itu mulai surut pada dekade 1970-an, saat perekonomian Semarang mencapai puncaknya.Potensi pasar itu mendorong sejumlah pemilik modal meraih keuntungan sesaat.

Pasar Johar makin sumpek setelah alun-alun disulap menjadi Hotel Metro, Pasar Yaik, dan Shopping Center Johar (SCJ) serta bekas kantor kabupaten disulap menjadi Pertokoan Kanjengan. Pembangunan Pasar Yaik yang semula diyakini sebagai upaya tepat untuk menampung luberan pedagang, kini terbukti semakin menyulitkan Pemerintah Kota. Namun menata pedagang tak harus dengan membongkar total bangunan induk Pasar Johar. (43m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA