| Rabu, 10 Mei 2006 | SEMARANG |
Akankah Tetenger Kota Berubah?
GAGASAN Pemkot untuk melakukan pembongkaran Pasar Johar menuai penolakan. Sejumlah kalangan, mulai dari kalangan akademik, sejarawan, pakar tata kota, arsitek, aktivis pelestari heritage, anggota DPRD, pedagang hingga masyarakat umum menyampaikan pesan senada, "Selamatkan Johar!" Wartawan Suara Merdeka Achiar M Permana dan Rukardi mengumpulkan informasi terkait dengan rencana "penataan" Pasar Johar dan menurunkannya dalam dua tulisan. (43m) SEJAK rencana PT Java Development Propertindo (JDP) tentang penataan Pasar Johar terendus media akhir Maret lalu, berbagai respons muncul. Sebagian besar bernada menolak, sebagian lain bisa memahami dengan catatan. Ya, PT JDP akan kembali mengajukan proposal untuk renovasi total atas pasar legendaris itu. Jika diizinkan Pemkot, investor akan membongkar Pasar Johar dan menyulapnya menjadi pusat perbelanjaan modern berlantai lima. Proyek Pasar Johar Baru itu diperkirakan menelan dana Rp 2,5 triliun. "Zaman sudah berkembang, dan mau tidak mau, pasar juga harus mengikutinya. Pembongkaran Pasar Johar merupakan hal yang tidak bisa dielakkan, jika menginginkan pasar pengganti," tandas Komisaris PT JDP Joko Setiyanto. Rencana membongkar Pasar Johar pernah terungkap pada akhir tahun lalu. Namun segera lenyap tanpa kabar setelah berbagai kalangan ramai-ramai menolaknya. Dewan Pertimbangan Pembangunan Kota (DP2K), pada waktu itu langsung mengadakan pertemuan khusus untuk membahasnya. Hasilnya, lembaga yang dipimpin pakar tata kota Prof Ir Eko Budihardjo MSc itu merekomendasikan agar pembongkaran Pasar Johar dibatalkan. Joko menjelaskan, hal mendasar yang akan dilakukan adalah meninggikan lantai pasar. Hal itu dilakukan karena kondisi riil lantai dasar bangunan karya Ir Herman Thomas Karsten itu terus-menerus mengalami penurunan tanah sehingga sering tergenang rob. "Konsep bangunan yang kami ajukan sama sekali tidak meninggalkan bangunan lama. Bentuk aula eksibisi, misalnya, akan meniru habis-habisan karya Karsten. Mulai dari pilar cendawan sampai bentuk jendela, dibuat mirip dengan yang ada sekarang," ungkap Joko. Kalau sudah demikian, apakah tetenger kota itu akan segera berubah muka? Apakah generasi masa depan hanya akan melihat replika, bukannya Pasar Johar yang sebenarnya? Lampu hijau untuk pembongkaran itu datang dari Wali Kota Sukawi Sutarip. Dia mengatakan, rencana penataan Pasar Johar positif dilakukan sebagai bagian dari persiapan menghadapi era globalisasi. Bila proses pendataan telah selesai, penataan pasar itu bisa dilakukan awal tahun depan. "Pasar Johar pasti direnovasi sebagai bagian menghadapi era global. Namun perlu ditulis besar-besar, niat Pemkot bukan membongkar, melainkan menata pasar," papar Wali Kota. Suara Penolakan Beda maksud Pemkot, beda pula respons masyarakat. Seperti tahun lalu, DP2K kembali menyampaikan penolakan atas rencana pembongkaran Pasar Johar. Dalam kesempatan terpisah, kalangan arsitek, konsultan, dan pedagang menyampaikan hal senada. "Saya sudah bertemu dengan Pak Joko (Komisaris PT JDP), dan saya katakan, "Jangan sekali-kali membongkar Pasar Johar". Jika ingin tetap membangun mal, lebih baik cari saja daerah pinggiran kota. Sebaliknya, jika investor tetap akan membongkar, segenap unsur perguruan tinggi dan organisasi profesi akan bersatu padu menolaknya ," kata Eko Budihardjo. Ketua DPD Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jateng Ir Widya Wijayanti MURP-IAI juga secara tegas menyampaikan penolakannya. Menurut dia, bangunan yang dirancang arsitek Herman Thomas Karsten itu termasuk pusaka nasional, bahkan internasional. "Pemkot sebagai pemilik Pasar Johar semestinya berkewajiban merawat dan menata pedagang yang ada di dalamnya. Penataan seharusnya dilakukan dengan penataan kawasan, bukan dengan membongkar Pasar Johar," tegas Widya. Sementara itu, kalangan pedagang menganggap bangunan yang ada sekarang masih relatif memadai. Yang perlu dikedepankan adalah penataan agar tidak semrawut. Ketua Pedagang Pasar Johar (P3J) Theodorus Asis Prasetyono mengatakan, pedagang belum memerlukan gedung baru. Sebab masih banyak gedung di sekitar Pasar Johar yang saat ini dibiarkan tak terpakai. Mangkrak! Dalam pandangannya, kondisi fisik bangunan utama Pasar Johar masih relatif kokoh. Jika ada kerusakan pada sejumlah titik, menurut dia, bisa diperbaiki secara parsial, tanpa harus membongkar bangunan lama. Dia menjelaskan, P3J pernah mengajukan audiensi dengan Wali Kota Sukawi Sutarip untuk meminta kejelasan mengenai rencana pembongkaran Johar, tapi tak ada respons. Pernyataan senada disampaikan Ketua Forum Masyarakat Pedagang Semarang (FMPS) Agus Tiyanto. Dia mengatakan, pembongkaran total belum perlu dilakukan. Sebaliknya, Pemkot diharapkan merealisasikan penataan pasar tradisional terbesar Kota Semarang itu. "Rencana penataan belum direalisasikan, masa mau direnovasi total? Para pedagang sudah komit menolak pembongkaran Pasar Johar," tegasnya. (43m) |