| Rabu, 10 Mei 2006 | SEMARANG |
KPUD Temukan Petugas Nakal
SALATIGA - Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kota Salatiga menemukan seorang petugas KPPS nakal. Dia diketahui mengubah hasil perhitungan saat hendak dikirimkan ke information technology (IT) KPUD lewat pesan singkat atau SMS, Minggu (7/5). Diduga, petugas KPPS tersebut mengirimkan hasil perhitungan di sebuah tempat pemungutan suara (TPS) yang menguntungkan salah satu calon wali kota (cawalkot). Hal itu diungkapkan anggota KPUD, Bambang Adi Nugraha SH kepada Suara Merdeka, kemarin. Menurutnya, KPUD akhirnya tidak memasukkan hasil perhitungan tersebut karena setelah dicocokkan dengan formulir pengisian hasil perhitungan di TPS berbeda. KPUD juga menemukan seorang anggota KPPS nakal yang telah mempergunakan kartu telepon (sim card) pengiriman untuk menelepon. ''Akibatnya, hasil perhitungan tidak dapat dikirimkan karena pulsa yang berjumlah Rp 15 ribu sudah habis, sementara pengisiannya hanya dapat dilakukan oleh IT,'' ujar Bambang tanpa menyebutkan lokasi TPS yang dimaksud. Adapun di tujuh TPS lainnya diketahui hasil perhitungan tidak dapat dikirimkan ke KPUD melalui SMS karena petugas KPPS yang ditugasi mengirimkan tidak dapat mempergunakan perangkat yang disediakan. Mungkin, kata Bambang, ketika pembekalan beberapa waktu lalu dia tidak memahami cara pemakainya. Bambang menjelaskan, secara keseluruhan hanya sembilan TPS yang bermasalah dari keseluruhan 297 TPS dalam pengiriman hasil perhitungan menggunakan SMS tersebut. Namun, permasalahan tersebut tidak memengaruhi hasil perhitungan yang telah dilakukan oleh IT KPUD, karena hanya sebagian kecil. ''Adapun petugas nakal tersebut tidak dikenai sanksi, karena tidak ada aturannya. Toh perhitungan cepat bukan menjadi dasar penentuan pemenang, tetapi perhitungan manual yang masih dilakukan,'' terangnya Sebuah Modem Dijelaskannya, kelemahan lainnya dalam perhitungan cepat itu adalah KPUD hanya menggunakan sebuah modem, padahal idealnya untuk setiap kecamatan sebaiknya ada satu modem, sehingga totalnya adalah empat modem. Adanya empat modem, tentunya pengiriman dan penerimaan IT akan semakin cepat, tetapi konsekuensinya biaya akan semakin mahal. Secara keseluruhan, kata dia, sistem IT untuk membantu melakukan perhitungan cepat berjalan seperti yang diharapkan, sehingga dapat mempercepat penginformasian hasil penghitungan. Sehingga, sistem sejenis hasil kerja sama dengan Fakultas Tekni Informatika (FTI) UKSW itu dapat dipergunakan oleh daerah lain yang akan melaksanakan pilkada Meski demikian Bambang mengingatkan, bahwa hasil sebenarnya peritungan yang dipakai untuk mengetahui siapa cawalkot yang menang dalam Pilkada Salatiga ditentukan melalui perhitungan manual. Adapun keputusannya akan disampaikan dalam rapat pleno KPUD pada 15 Mei. (H2-16a) |