| Rabu, 10 Mei 2006 | KEDU & DIY |
Gua Seplawan, Berpeluang Dikenal DuniaOleh: Tonny Tri PrasetyoSAYA tertarik membaca berita di salah satu media regional berkaitan dengan akan meletusnya Gunung Merapi. Disebutkan, puluhan turis dari Eropa, sebagian besar dari Prancis, mulai memesan tempat di biro-biro wisata yang khusus menawarkan volcano tourism (wisata gunung berapi), untuk melihat-lihat Gunung Merapi di Kaliurang. Kabar mengenai meningkatnya aktivitas Gunung Merapi itu kini telah mendunia. Mengapa gunung yang dalam proses meletus menarik banyak wisatawan untuk sekadar menyaksikan dan mengabadikan peristiwa langka tersebut? Ini dikarenakan potensi daya pikat alam yang sangat luar biasa, sehingga dapat menyedot banyak devisa ke kocek masyarakat setempat. Sebagai seorang pengamat dalam bidang managemen pariwisata, saya ingin menyoroti potensi daya pikat alam yang layak mendunia. Gua Seplawan yang terletak di Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing, dengan jarak 20 km ke arah timur dari pusat Kota Purworejo dengan ketinggian 700 m di atas permukaan laut, juga layak untuk mendunia, karena memiliki ciri khusus ornamen yang terdapat di dalam gua, antara lain stalaktit, stalakmit, flow stone, helekit, soda straw, grouver dam dan dinding-dinding beronamen seperti bentuk kerangka ikan. Keadaan sekitar gua ini indah dan mengesankan, karena banyak ditumbuhi flora yang meliputi lumut, paku-pakuan dan di sekitarnya banyak ditumbuhi hutan pinus yang lebat. Di samping itu, di sekitar gua terdapat beberapa pendopo pandang yang dapat digunakan oleh para pengunjung untuk menikmati pemandangan alam yang memikat. Dari sini dapat dilihat hamparan laut selatan yang berupa garis pantai yang sangat eksotik. Mati Suri Gua Seplawan mempunyai panjang 700 m dengan cabang-cabang goa sekitar 150-300 m dan berdiameter 15 m. Gua alam ini makin terkenal setelah ditemukannya arca emas Dewa Syiwa dan Dewi Pawestri seberat 1,5 kg pada 28 Agustus 1979 yang sekarang disimpan di Museum Nasional Jakarta. Fasilitas gua alam sebagai tempat wisata ini juga sudah memadai, hal ini tampak dengan disediakannya sarana MCK, taman dan arena perkemahan. Dengan potensi alam yang luar biasa ini, mengapa Gua Seplawan sampai saat ini mati suri? Pada pertengahan bulan Desember 2005, saya mengajak beberapa teman dari manca negara (Jepang, Australia, Filipina dan India) mengunjungi Gua Seplawan. Mereka sangat terkagum dan memberi komentar, ''It is a fantastic cave''. Potensi Gua Seplawan yang indah ini sangat disayangkan belum banyak dikenal oleh wisatawan asing. Mestinya tempat wisata itu menjanjikan pemasukan devisa yang luar biasa bagi pemda setempat dan masyarakat sekitar, bila dikelola secara profesional. Mencermati kasus Merapi yang menarik banyak wisatawan manca negara, Gua Seplawan harus dijadikan objek bagi turis asing yang dapat dikemas menjadi paket wisata yang cantik, eksotik dan menawan. Pemerintah daerah setempat harus segera berbenah untuk menjual Gua Seplawan kepada dunia atau mendorong tumbuhnya iklim usaha pariwisata kepada pihak swasta dengan memberikan fasilitas untuk tumbuh kembangnya usaha kepariwisataan daerah. Posisi Kabupaten Purworejo yang dekat dengan Daerah Istimewa Yogyakarta (65 km) adalah sangat menguntungkan. Pemda bisa bekerja sama dengan pihak usaha wisata swasta untuk mendatangkan turis asing. Pemda sekadar memfasilitasi, seperti memberikan tempat untuk mempresentasikan objek wisata alam Kabupaten Purworejo, khususnya Gua Seplawan. Dengan optimisme yang tinggi, Gua Seplawan layak kita jual. Selain Gua Seplawan, sebagai pelengkap paket wisata daerah lainnya adalah pantai Jatimalang, dan paket kesenian daerah lain seperti tari Ndolalak, Jatilan, dan tak kalah menariknya para turis tersebut bisa disuguhi prosesi upacara adat manten Jawa. Andai Pemda bisa mengemas paket wisata daerah dengan kemasan yang cantik, tentunya akan membangunkan potensi ekonomi masyarakat daerah setempat. Contohnya, akan banyak bermunculan penginapan, rumah makan di daerah wisata setempat, tumbuhnya kerajinan daerah setempat, berkembangnya kemampuan berbahasa internasional oleh warga setempat, dan masih banyak aktivitas masyarakat setempat yang timbul dengan adanya turis manca negara. Seandainya hal itu menjadi kenyataan, tentunya kita juga harus dapat menjaga keamanan dan kenyamanan para turis asing tersebut, sehingga mereka serasa tinggal di negara sendiri dan bebas menikmati potensi alam Indonesia yang luar biasa indahnya. (24) -Drs Tonny Tri Prasetyo AMP, Asisten Direktur 1 Politeknik Sawunggalih Aji, Kutoarjo. |