| Rabu, 10 Mei 2006 | KEDU & DIY |
Yogya Kurang PromosiYOGYAKARTA - Sebenarnya Kota Yogyakarta mempunyai banyak potensi yang luar biasa, namun masih belum optimal diberdayakan, khususnya untuk dijadikan komoditas pariwisata sehingga tampaknya Yogyakarta dari dahulu biasa-biasa saja. ''Terasa kurang serius dalam mempromosikan Yogyakarta,'' ujar pengurus Dekranasda DIY, Hamzah Hendro Sutikno, yang sekaligus pemimpin Mirota Batik dan Kerajinan Yogyakarta, Selasa (9/5). Hal itu dia kemukakan seusai melakukan kunjungan 10 hari ke berbagai kota di China yang dibandingkan dengan keadaan Yogyakarta selama ini yang tampaknya tidak mengalami kemajuan yang berarti dalam kepariwisataan. Menurut Hamzah, perkembangan di beberapa kota di China memang luar biasa, terutama dalam memberdayakan dan menjual potensinya. Contohnya Kota Beijing dan Kota Shanghai, beberapa tahun lalu jika dibandingkan dengan kondisi sekarang keadaannya sudah jauh mengalami kemajuan. Di sana semakin banyak tempat yang saat ini dikunjungi wisatawan dan semakin banyak pula potensi bermunculan dan dipasarkan oleh kalangan travel agent. Padahal sebenarnya sederhana saja, hanya pintar-pintar untuk mempromosikan kemudian dengan serius menggarapnya sebagai komoditas andalan. Sementara itu untuk Yogyakarta, lanjut Hamzah, sejak dahulu kala sudah memiliki modal dan potensi yang tidak dimiliki daerah lain. Yaitu keberadaan kawasan sekitar Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dengan lorong-lorong dan kampung-kampung khas yang ada di sekitarnya. Sebenarnya hal itu merupakan peluang untuk dijual, apalagi dilengkapi dengan segala pernik-pernik yang memiliki nilai jual yang tinggi karena nama Yogyakarta sebenarnya sudah marketable. Dia juga mencontohkan, misalnya areal parkir Ngabean untuk wisatawan yang akan berkunjung ke keraton sebenarnya bisa dimaksimalkan. Dalam hal ini, untuk angkutan dari taman parkir Ngabean menuju Keraton bisa memberdayakan andong, becak, ataupun angkutan yang lain yang disediakan khusus untuk wisatawan. ''Dengan cara seperti itu, wisatawan akan mendapat pengalaman tersendiri, menikmati kendaraan tradisional sambil menikmati pemandangan sepanjang jalan ke Keraton,'' tambah Hamzah. (P12-39n) |