| Rabu, 10 Mei 2006 | KEDU & DIY |
Wisata Sepi, Kera Bingung Cari MakanYOGYAKARTA - Meningkatnya aktivitas Merapi mengakibatkan kera-kera yang biasa berada di Kaliurang dan Kaliadem kebingungan mencari makan. Hewan tersebut biasanya bergantung kepada pengunjung yang memberi makanan. Kini, kera jenis ekor panjang itu mendekati rumah penduduk untuk mendapatkan makanan. ''Memang cukup banyak kera berkeliaran di sini, dan sudah akrab dengan pengunjung maupun penduduk. Mereka sudah terbiasa bergantung dan tidak bisa mencari makan sendiri. Akhirnya ketika wisata sepi, hewan-hewan itu turun mendekati rumah warga,'' ujar Gaga, seorang pedagang makanan di Kaliurang. Karena tidak ada pengunjung, menurut dia, masyarakat sekitar menyadari dan memberikan makanan kepada hewan tersebut. Penduduk merasa kasihan, selama ini mereka telah akrab dan terbiasa dengan kehidupan sekitar. Namun Gaga membantah, kalau turunnya kera-kera itu akibat meningkatnya aktivitas Merapi. Hal itu lebih banyak diakibatkan oleh sepinya pengunjung, sehingga kera-kera tersebut tak bisa mendapatkan jatah makanan. Sudah menjadi kebiasaan pula, kalau pengunjung sepi, kera-kera itu mencari makan ke rumah penduduk. Dia mengungkapkan, turunnya kera mengganggu aktivitas penduduk sekitar, namun mereka tak bisa berbuat banyak karena keduanya juga saling menguntungkan. Pada saat lokasi wisata ramai, pengunjung membeli makanan untuk diberikan kepada kera-kera, sehingga ada simbiosis mutualisme. Di Kaliadem Di lokasi wisata Kaliadem yang juga sangat berdekatan dengan puncak Merapi, kera-kera juga sudah mulai turun. Mereka biasanya berada agak jauh dari permukiman, namun beberapa hari terakhir ini sudah turun mendekati rumah-rumah penduduk. Binatang tersebut terlihat jelas dari sisi atas Kaliadem, dan bergelantungan di pinggir sungai Bebeng. Penduduk di Cangkringan juga membenarkan, kalau kera sudah mulai merambah perkebunan. Perkebunan sayur menjadi salah satu sasaran mereka; misalnya buah jipang yang sudah cukup besar, sebagian hilang dilalap kera. Begitu pula jambu kluthuk. ''Tapi ya biar saja, wong mereka tidak mengganggu, hanya mengambil makanan. Kasihan juga kalau sampai tak bisa makan, mereka juga makhluk hidup ciptaan Tuhan Yang Maha Esa,'' tutur Sukamto, warga Cangkringan. Kunjungan wisata di berbagai lokasi di lereng Merapi benar-benar sepi, sejak ada peringatan agar tidak memasuki kawasan tertentu, terutama yang rawan bencana. Jumlah pengunjung kini rata-rata hanya 100 orang tiap hari. ''Padahal biasanya, dalam sehari bisa memperoleh Rp 2,5 juta hasil karcis masuk ke lokasi Kaliurang,'' ungkap seorang penjaga TPR Kaliurang yang enggan ditulis namanya.(D19-39a) |