| Rabu, 10 Mei 2006 | EKONOMI |
Suku Bunga BI Akhirnya TurunJAKARTA-Bank Indonesia (BI) akhirnya menurunkan tingkat bunga BI rate 25 basis poin menjadi 12,5 persen, setelah naik enam kali sejak Agustus 2005. Langkah ini terkait membaiknya makro perekonomian yang ditandai dengan turunnya tingkat inflasi dan menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. ''Dewan gubernur BI secara menyeluruh sepakat menurunkan BI rate 25 basis poin menjadi 12,5 persen,'' papar Gubernur BI Burhanuddin Abdullah seusai mengikuti Pembukaan Kongres Perbanas di Gedung JCC Jakarta, Selasa (9/5). Penurunan BI rate, kata dia merupakan yang kali pertama setelah mengalami enam kali kenaikan sejak Agustus 2005, menyusul naiknya tingkat inflasi, harga BBM dan anjloknya nilai tukar rupiah. Menurut dia, kebijakan penurunan BI rate ditempuh setelah mempertimbangkan perkembangan moneter, nilai tukar rupiah, inflasi bulanan dalam beberapa bulan terakhir, serta melihat sistem keuangan dan stabilitas makro ekonomi yang terjaga cukup baik. ''Dengan BI rate di level 12,5 persen, BI tetap mempertahankan kebijakan moneter yang cenderung ketat,'' imbuhnya. Namun dia mengingatkan, dengan BI rate 12,5 persen, interest rate differential (perbedaan tingkat bunga BI rate dengan tingkat bunga The Fed) masih cukup lebar. '' Apalagi ada dugaan The Fed akan menaikkan suku bunganya 25 basis poin menjadi lima persen. Jadi perbedaannya masih cukup lebar,'' tuturnya. Dengan selisih suku bunga yang cukup besar, dia mengaku optimistis masih bisa mengundang aliran modal masuk ke Indonesia melalui instrumen jangka pendek. ''Masuknya instrumen jangka pendek itu, diharapkan dapat berubah menjadi instrumen jangka panjang,'' harapnya. Bertahap Ditanya apakah penurunan itu merupakan sinyal BI Rate akan turun terus di masa mendatang, Burhanuddin mengatakan, akan melihat perkembangan dari waktu ke waktu. ''BI akan tetap berhati-hati dalam kebijakan moneter, karena ada beberapa risiko, seperti kenaikan harga minyak dunia,'' jelasnya. Apabila melihat kecenderungan jangka panjang, maka pada 2006 diperkirakan inflasi sekitar delapan persen dengan range atas bawah satu persen dan mungkin berada di bawah 8 persen. '' Bila itu terjadi, masih ada ruang untuk secara bertahap dan hati-hati menurunkan suku bunga,'' ungkapnya lagi tanpa menjelaskan lebih detail berapa persen BI rate kembali akan turun hingga akhir tahun. Dia menjelaskan hasil evaluasi Rapat Dewan Gubernur terhadap perkembangan ekonomi dan perbankan hingga April 2006. Menurut dia, stabilitas makro ekonomi pada April 2006 masih berlanjut yang tercermin dari perkembangan nilai tukar rupiah, inflasi, dan kondisi moneter secara umum. Nilai tukar rupiah, cenderung menguat, bahkan di bawah optimisme perkiraan triwulan kedua 2006 sebesar Rp 9.200-Rp 10.000 per dolar AS. (bn-33) |