logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 09 Mei 2006 SALA
Line

Biaya Hidup Tinggi, Semua Pengungsi Pulang

BOYOLALI - Setelah bertahan sekitar satu bulan di lokasi pengungsian, Bungalow, Desa Samiran, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, para pengungsi akhirnya memutuskan pulang ke rumah masing-masing.

Mereka mengaku tidak kerasan dan selalu memikirkan hewan ternaknya. Para pengungsi tersebut berasal dari Desa Tlogolole dan Klakah, Kecamatan Selo.

Berdasarkan data yang dihimpun, jumlah pengungsi yang berada di Bungalow semula 174 orang. Mereka mengungsi sejak 19 April atas imbauan pemerintah berkait meningkatnya status Gunung Merapi. Secara bertahap mereka memutuskan pulang. Puncaknya Minggu (7/5), mereka meninggalkan Bungalow. Dengan demikian, lokasi pengungsian saat ini dalam keadaan sepi, tak ada satu pun pengungsi yang tinggal.

Pulangnya seluruh pengungsi tersebut disesalkan berbagai kalangan, karena aktivitas Gunung Merapi terus meningkat. Bahkan sejak tiga hari lalu, muncul titik api diam yang bisa dilihat secara jelas dari Dukuh Stabelan, Desa Tlogolele, Kecamatan Selo. Selain itu, kubah lava sudah meleleh kendati ke arah Klaten.

''Mestinya dalam kondisi seperti ini warga justru mengungsi untuk menghindari ancaman Gunung Merapi. Kalau memilih pulang dengan alasan tidak kerasan, kurang bisa diterima. Keselamatan mestinya diutamakan,'' tutur Ketua Tim SAR Kabupaten Boyolali, Kurniawan.

Jenuh

Salah seorang pengungsi Wito (75) menuturkan, hidup di lokasi pengungsian satu sampai dua hari masih kerasan. Namun semakin lama jenuh dan selalu terbayang hewan ternaknya. Sejak ditinggal mengungsi tidak ada yang memelihara. Bila dibiarkan akan mati, sehingga mereka bakal kehilangan penghasilan.

Kepala Desa Tlogolele, Budi Harsono mengatakan, alasan kepulangan warga dari pengungsian disebabkan tingginya biaya hidup di lokasi pengungsian. Hampir setiap hari anak-anak mereka minta jajanan, sehingga biaya hidup lebih tinggi dibanding di desa.

Kepala Kantor Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas), Drs Albert Gintaryo mengatakan, kepulangan seluruh pengungsi membuat Pemkab mengambil langkah antisipatif lainnya.

Yakni, membuat tempat pengungsian sementara (TPS) di dekat permukiman mereka. Dengan demikian, bila gunung dalam kondisi membahayakan, mereka diminta berada di TPS. (shj-67d)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA