| Selasa, 09 Mei 2006 | SALA |
Waspadai, Mei Puncak DBDSOLO - Dinas Kesehatan Kota (DKK) Surakarta memprediksi bulan Mei merupakan peak (puncak) kejadian penyakit demam berdarah dengue (DBD). Karena itu, warga Solo diminta mewaspadai penyebaran penyakit yang disebabkan nyamuk Aedes aegypti itu. Apalagi, tahun ini memasuki pola lima tahunan, yakni kejadian DBD selalu mengalami peningkatan. ''Memasuki bulan Mei, kami memperkirakan bakal terjadi peningkatan kasus DBD. Ini juga sesuai pola lima tahunan yang selama ini terjadi. Karena itu, kami minta warga Solo terus menggiatkan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN),'' kata Kepala DKK dokter Purnomo Dwi Putro, kemarin. Hingga April, jumlah kasus DBD di Solo mencapai 445. Dua orang penderita di antaranya meninggal dunia pada Maret dan April. Angka ini meningkat tajam dibanding kejadian selama 2005, yakni 273 kasus, delapan di antaranya meninggal dunia. ''Kejadian DBD hingga bulan berikutnya diprediksi terus meningkat. Sebab dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, kejadian meninggal dunia baru terjadi sekitar Juni hingga September. Namun kini, Maret sudah ada yang meninggal dunia. Jadi kemungkinan kejadian DBD bulan berikutnya akan lebih tinggi,'' jelas dia. Sebagai langkah antisipatif, DKK mengirimkan surat kepada Wali Kota Joko Widodo dan seluruh camat di lima kecamatan untuk menggiatkan gerakan PSN seminggu sekali, yakni menguras, menutup, dan mengubur media perkembangbiakan nyamuk. DKK juga membagikan 25 kg abate ke lima kecamatan. Terutama untuk daerah-daerah yang sering terabaikan, seperti tandon di terminal, masjid, dan panti asuhan. ''Kami juga melakukan fogging focus di 39 kelurahan yang dinyatakan sebagai sumber penularan.'' Pertanda DSS Warga diminta tidak menyepelekan bila memiliki anggota keluarga yang sakit panas, dan baru turun pada saat memasuki hari keempat atau kelima. Bisa jadi hal itu merupakan pertanda awal dengue shock syndrome (DSS). ''Dari penderita meninggal selama ini, biasanya berawal dari sakit panas. Meski sudah dirujuk ke RS, orang tua tidak mau membawanya. Alasannya, pada hari keempat panasnya turun. Padahal ini pertanda DSS, yang menyebabkan kematian.'' Berdasar pemeriksaan DKK, house index (kepadatan nyamuk) di Solo rata-rata 6,9% atau lebih tinggi dari standar normal 5%. Adapun kelurahan dengan house index tinggi, di antaranya Kadipiro 19,3%, Gilingan 13%, Jebres 11,5%, Tegalharjo 4,9%, Panularan 13,21%, Danukusuman 21%, Joyontakan 10,5% dan seluruh kelurahan di Kecamatan Pasar Kliwon mencapai lebih dari 5%, kecuali Kelurahan Kauman 5%. (G13-50d) |