| Selasa, 09 Mei 2006 | OLAHRAGA |
Saatnya Rachman Unifikasi Gelar IBF & WBOSEBAGAI juara dunia IBF (Federasi Tinju Internasional) kelas terbang mini (47,6 kg) Muhamad Rachman (34) tampil percaya diri dan motivasi menggebu saat mengalahkan Omar ''Lubito'' Soto (1 IBF) dari Meksiko di Stadion Indoor Tenis Senayan, Jakarta, Sabtu malam lalu. Dan yang luar biasa, ia mampu mengkanvaskan penantang tangguh berusia delapan tahun lebih muda di ronde keenam dari 12 ronde yang dijadwalkan. Lantas apa kunci kemenangan petinju asal Sasana Akas Probolinggo itu? Saya menilai pengendalian emosi yang baik dari Rachman yang menjadi kunci kemenangannya. Tak gampang mengendalikan emosi untuk bisa memukul KO lawan secepatnya. Di ronde kedua, sebenarnya hook kanan keras Rachman telah menggoncangkan kepala Soto, yang mempunyai rekor ampuh 14 kali memang (10 dengan KO)-2-1. Namun Rachman tak segera mengejar dan menerkamnya. Pasalnya, menurut pengamatan saya, dia belum tahu benar kekuatan pukulan Soto yang cukup maut daya ledak pukulannya. Bayaran Rp 180 Juta Sepertinya Rachman sengaja memberikan ronde keempat untuk Soto. Rachman mencoba mendekat dengan pertahanan atas kokoh tanpa memukul, sehingga Soto dengan leluasa melontarkan jab-straight maupun hook kirinya yang sangat keras. Di awal ronde keenam, sebenarnya belum ada tanda-tanda Soto akan terjungkal ke kanvas. Dalam suatu barter pukulan keras jarak rapat, sebuah hook kanan keras Rachman menghantam telak rahang Soto, membuat lawannya sempoyongan. Secepat kilat, Rachman menyusulkan dengan hook kirinya yang mampu dihindari Soto. Namun desingan hook kanan berikutnya yang dilepaskan dengan sekuat tenaga menghantam rahang kiri Soto, membuatnya tersungkur di kanvas. Soto mencoba bangkit dengan kondisi mabuk pukulan (punch drunk) pada hitungan kedelapan, dan wasit menghentikan pertandingan untuk kemenangan TKO Rachman. Kemenangan TKO atas Soto, sekaligus menepis keraguan dirinya. Sebelumnya banyak yang menuding kemenangan atas Daniel Reyez (merebut juara dunia IBF), berkat pertolongan promotor Aseng Sugiarto (Desember 2004). Kemudian di upaya mempertahankan gelar yang pertama, ia juga tampil kurang meyakinkan, berakhir dengan technical draw ronde ke-3 melawan petinju tua Fahlan Sakkerin (40 tahun) dari Thailand. Ketika melawan Soto, Rachman hanya mendapat honor minim 20.000 dolar AS (Rp 180 juta). Kalau Rachman memilih penyatuan gelar dunia IBF dan WBO melawan Ivan Calderon (juara WBO) dari Puerto Rico, ia bisa mendapatkan bayaran lebih tinggi lagi, 100.000 dolar AS (Rp 900 juta). (Paulus Noor Mulia-28) |