logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 09 Mei 2006 OLAHRAGA
Line

Swiss Andalkan Pemain Muda

DIBANDINGKAN kelezatan cokelatnya, pamor sepak bola Swiss memang kalah tenar. Negara yang menggunakan tiga bahasa resmi, Italia, Prancis dan Jerman itu, juga lebih tersohor berkat panorama alamnya yang indah. Maklum, prestasi tim nasional (timnas) yang berjuluk Nati ini kalah mencorong dari tetangganya, yakni Jerman (perbatasan utara), Prancis (barat), dan Italia (selatan).

Sejatinya, kiprah Swiss telah tertoreh lama dalam sejarah sepak bola dunia. Presiden FIFA Sepp Blatter pun berasal dari negara kecil di jantung Eropa tersebut. Mereka telah menjadi partisipan penyelenggaraan Piala Dunia kali kedua di Italia 1934. Saat itu, tim Nati mampu melaju hingga perempat final.

Prestasi serupa kembali terulang empat tahun berikutnya di Prancis. Swiss bahkan mengikuti jejak tetangganya tersebut dengan kebagian jatah sebagai tuan rumah Piala Dunia 1954. Lagi-lagi mereka hanya mampu mencapai perempat final.

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan masa suram timnas Swiss. Dari delapan kali penyelenggaraan ajang sepak bola terbesar sejagat di era itu, mereka hanya mampu lolos pada Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat (AS). Stephane Chapuisat cs melangkah hingga babak kedua sebelum disingkirkan Spanyol.

Kelolosan tim arahan Jakob "Kobi" Kuhn ke Jerman bagai adegan film thriller. Hakan Yakin cs harus melewati adangan Turki dalam laga play-off.

Philippe Senderos

Tim Swiss merupakan parade talenta pemain muda. Beberapa pilarnya merupakan bagian dari timnas yang menjuarai turnamen Piala Eropa U-17 tahun 2002. Ada bek Arsenal Philippe Senderos (21), gelandang Bayer Leverkusen Tranquillo Barnetta (20), gelandang Lazio Valon Behrami (21) dan striker NAC Breda, Johan Vonlanthen (20).

Vonlanthen adalah pencetak gol termuda dalam sejarah Piala Eropa pada Euro 2004. Bek sayap Philippe Degen (Borrusia Dortmund) juga masih berusia 23 tahun. Personel lain berada dalam usia keemasan. Sang kapten yang juga playmaker, Yakin (Young Boys), akan genap berumur 30 pada tahun depan. Demikian pula dengan gelandang bertahan Johann Vogel (AC Milan).

Pilar lain macam Ricardo Cabanas (Cologne), Raphael Wicky (Hamburg), Marco Streller (Cologne), Daniel Gygax (Lille) dan Alexander Frei (Rennes) rata-rata berusia 25 tahun. Dengan materi pemain seperti itu, Kuhn optimistis timnya mampu mencapai ronde knock-out.

Tergabung di Grup G bersama Prancis, Togo dan Korea Selatan, mantan pelatih timnas U-21 ini tak merasa khawatir. Dia percaya skuad muda yang dimilikinya mempunyai kekuatan fisik dan kualitas teknik prima. Namun dengan usia mereka yang masih muda, soal mental bisa menjadi problem bagi tim Nati. (Abduh Imanulhaq-31)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA