logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 09 Mei 2006 NASIONAL
Line

Melatih Shalat secara Khusyuk (1)

''Aku"-lah yang Mengendalikan Otak dan Hati


TEKUN: Peserta pelatihan shalat khusyuk tekun mengikuti ceramah yang diberikan Ustad Abu Sangkan.

"SHALAT khusyuk? Wah susah. Setiap kali shalat, justru pikiran kita ke mana-mana. Ingat pekerjaan, masakan, atau apalah lainnya". Itu kata seorang teman, yang juga menambahkan saat shalat malahan bisa ingat barang-barang yang tadinya lupa menaruh.

Problem itulah, yang dibahas oleh ustad Abu Sangkan dalam "Seminar dan Pelatihan Shalat Khusyuk" selama dua hari, yang diselenggarakan oleh Lembkota Semarang di Hotel Grasia, akhir pekan lalu.

Menurut Abu, sebenarnya di bawah sadar otak kita terasa ada beban ketika harus shalat. "Makanya, bagi sebagian orang, saat paling nikmat shalat adalah saat attahiyat akhir. Pikirannya akan bilang, ah sudah mau selesai," katanya yang disambut tawa 120 peserta.

Pikiran bahwa shalat khusyuk sangat sulit untuk bisa diraih orang awam, juga akan menutup kemungkinan melakukan itu. Otak cenderung merespons dengan bosan segala sesuatu yang dilakukan berulang-ulang.

"Padahal, sejak kecil kita cuma diajarkan shalat ya seperti itu. Nah kalau pada suatu saat bisa menikmati shalat, pada kesempatan lain mungkin tak bisa. Karena otak sulit mengulang hal yang sama," katanya.

Sebagai contoh, jika kita menonton film drama yang menyedihkan. Saat pertama kali menonton, mungkin otak kita akan merespons dan menggetarkan hati kita dengan keharuan. Kemudian mata akan menitikkan air mata. "Tetapi coba kalau kita menonton film itu berulang-ulang, lama-lama akan biasa dan bosan," katanya.

Pengalaman pribadi beberapa peserta selama ini, shalat memang dengan cara me-recall apa yang tersimpan dari otaknya. Dalam upaya untuk khusyuk, pikiran memanggil kembali pengalaman-pengalaman yang menggetarkan jiwa. Misalnya saja suasana saat kali pertama melihat Kakbah, atau ziarah ke makam Rasulullah. "Itulah yang disebut sebagai spiritual artifisial," kata Abu.

Namun, cara tersebut sebetulnya tidak menghasilkan kekhusyukan, karena sebenarnya otak kita juga berpikir untuk menghadirkan keharuan ketika sedang shalat.

Who Am I?

Diungkapan oleh Ustad Abu Sangkan, banyak orang berupaya keras untuk mendapatkan rasa khusyuk ketika shalat. "Dengan me-recall sesuatu yang menggetarkan hati, atau mengernyitkan dahi ketika berusaha melafalkan dengan sungguh-sungguh setiap bacaan," katanya.

Abu menegaskan, shalat khusyuk justru bisa diperoleh dengan persiapan badan yang relaks. Dengan begitu, seluruh syaraf tubuh menjadi kendur dan tenang. Kemudian, dibarengi dengan kesadaran mengenai jatidiri kita.

"Who I am? Siapakah aku sebenarnya? Karena sebenarnya aku yang sejati adalah roh. Badan, otak, dan bahkan hati kita hanyalah alat," katanya. Jadi, ketika badan ini sakit, atau hati ini sedih, roh tidak merasakan.

Kesadaran bahwa aku adalah roh, membuat kita tahu bahwa badan dan otak itu "aku"-lah yang mengendalikan. Hati pun masih merupakan "sesuatu". Rekaman dalam hati itu seperti kita menonton bioskop. Di dalamnya ada rasa sedih, senang, benci, dan lain-lain. "Jadi kalau tak mau terseret rasa itu, ya merem jangan menonton. Atau tinggalkan gedung bioskop," tutur Abu.

Demikian juga ketika akan shalat, jika kita tak ingin terseret dengan suasana hati, tinggalkan apa yang sedang dirasakan hati. Nah, karena roh itu bisa mengendalikan, maka ia bisa memerintahkan badan, otak, dan hati untuk tunduk ketika kita sedang shalat.

"Aku" itulah yang nantinya akan menghadap ke Allah SWT. Pada suasana seperti itulah, suasana khusyuk tersebut akan teraih, karena sebenarnya rohlah yang shalat. Badan, otak, dan hati, kita hanya mengikuti gerakan roh.

Selain mengupas teori, para peserta pelatihan juga dilatih praktik menggapai shalat khusyuk. Apa saja yang harus dilakukan? Apa saja yang bakal dirasakan? (Bagas Pratomo-41a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA