logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 09 Mei 2006 NASIONAL
Line

Diwasiati Nomor Telepon

  • Suami-Istri yang Bakar Diri

 Saeful Turipah SM/Bayu Setiawan

DUKA masih menyelimuti keluarga Turipah (36) dan Saeful Bahri (52), warga Desa Klampis, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Brebes, korban bakar diri. Hingga siang kemarin, mereka masih mempersiapkan proses pemakaman. Anak korban, Mulyani (10), terlihat terpukul atas peristiwa memilukan tersebut.

Sepeninggal kedua orang tuanya, anak yang masih duduk di bangku kelas 4 SDN 02 Klampis, Kecamatan Jatibarang, itu mengaku kebingungan untuk bertahan hidup.

"Inyong saiki pan melu sapa? Bapak karo ibu wis laka ( Saya sekarang harus ikut dengan siapa? Bapak dan ibu sudah meninggal-red)," kata Mulyani sembari tertunduk, seolah masih terngiang oleh kejadian yang menimpa kedua orang tuanya.

Sebagaimana diberitakan Minggu (7/5), Turipah dan Saeful Bahri nekat mengakhiri hidup dengan membakar tubuhnya menggunakan bensin. Kejadian itu berlangsung sekitar pukul 12:15 di kediaman mereka, RT 10 RW 03, dan menggemparkan warga sekitar. Kedua tubuh korban ditemukan sudah menjadi mayat di dalam kamar yang terkunci.

Menurut rencana, pemakaman kedua korban akan dilakukan sore hari di tempat pemakaman umum desa, berjarak sekitar 500 meter dari rumah korban. Keluarga masih menunggu jenazah yang berada di RSUD Brebes.

Mulyani yang dikenal sebagai gadis lincah dan mudah bergaul itu, mendadak jadi pendiam. Kini, dia hanya ditinggali dua nomor telepon, yakni 021-74631843 dan 021-7667579. Selain itu, dia juga dititipi uang oleh ayahnya sebesar Rp 400.000.

"Jika terjadi sesuatu, bapak menyuruh saya telepon kepada kedua adiknya di Jakarta. Saya sudah menghubungi kedua nomor itu. Ternyata nomor tersebut milik paman Etnin dan Etnan. Mereka bilang, kejadian itu akan dikabarkan ke saudara-saudara bapak di Jakarta," ujarnya.

Lebih lanjut Mulyani mengatakan, ayahnya berpesan agar uang yang diberikan itu diserahkan kepada Juli (30), pedagang makanan yang berada di dekat rumahnya. Sebab, dirinya sering berutang kepada pedagang tersebut.

Untuk sementara waktu, Mulyani tinggal bersama bibinya, Mudiroh (40), warga Desa Klampis, Kecamatan Jatibarang. Semua kebutuhan hidupnya dipenuhi oleh bibinya.

"Saya sih inginnya tinggal bersama bibi, agar bisa melanjutkan sekolah di desa. Namun, terserah saudara bapak yang ada di Jakarta," terangnya.

Secara terpisah, Romli, kepala Desa Klampis, mengatakan, sebenarnya sebelum peristiwa itu, Turipah sempat mengutarakan keinginanya untuk bercerai dengan suaminya karena alasan ekonomi. Namun Saeful merasa keberatan, sehingga dia mengurungkan niat.

"Turipah beberapa kali mengutarakan keinginannya untuk cerai," katanya. (Bayu Setiawan-64a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA