| Selasa, 09 Mei 2006 | NASIONAL |
Sepak Terjang Dokter Kandungan Gadungan (1)Dari Getok Tular, Namanya Jadi Tenar
Terbongkarnya praktik aborsi dokter kandungan gadungan sangat mengagetkan. Wartawan Suara Merdeka Fahmi Z Mardizansyah, Riyono Toepra, dan Roosalina, menelusuri dan menuliskannya berseri, mulai hari. KALAU saja SK (35) tidak menghubungi telepon genggam milik Agung Hanung Prabowo (35) Sabtu (6/5) siang, mungkin perempuan yang tinggal di Perumahan Kaliwungu Indah, Kendal itu tak bakal repot keluar masuk Mapolwiltabes Semarang. Mungkin pula, dia saat ini bisa melenggang ke mana dia suka tanpa dihinggapi rasa waswas. Namun, SK kini harus mengadapi beragam pertanyaan dari penyidik Unit Harta Benda (Harda) II Polwiltabes Semarang. Pasalnya, saat menghubungi, telepon genggam milik sang dokter kandungan gadungan sudah disita polisi. Petugas yang mengetahui telepon berdering, segera menyautnya. Terjadilah dialog antara SK dan polisi yang mengaku sebagai ''Pak dokter''. "Dok gimana ini, sampai sekarang saya kok masih mengalami pendarahan. Saya harus bagaimana?" ujar SK lewat telepon genggam. Polisi yang menerima pertanyaan tersebut semula sempat gelagapan. Namun itu sebenarnya bagai gayung bersambut. Segeralah telepon bernada pengaduan itu langsung ditanggapi dengan cara memancing beberapa pertanyaan untuk mengorek keterangan siapa jati diri sang penelepon yang sebenarnya. "Lho dokter lupa yang sama saya ya. Saya, SK, pasien dokter yang aborsi sebulan lalu. Saya tinggal di Kendal. Apa saya harus ke rumah dokter?" "Oo.. tidak usah saya kasih alamat lengkap kamu saja. Nanti saya ke rumah kamu," seloroh petugas. Usai mencatat alamat si pasien, jadilah pada Minggu (7/5) beberapa personel Unit Harda II Satreskrim menyambangi rumah SK. Betapa kagetnya dia begitu mendapati yang datang bukan ''Pak Dokter'' yang ditunggu-tunggu, melainkan sejumlah personel polisi. Setelah itu, polisi segera meminta SK dan pasangannya Mar (38) ikut ke kantor polisi untuk dimintai keterangannya. Puluhan Pasien Ya, SK merupakan satu dari puluhan pasien dokter gadungan yang tega melakukan aborsi janin yang dikandungnya. Itu merupakan hasil buah cintanya dengan Mar. Dari pengakuan Hanung (panggilan sang dokter kandungan gadungan-Red), selain SK ada 49 pasien lain yang dia tangani. Sebagian besar pasiennya itu dari kalangan pelajar, mahasiswi, dan karyawati. Namun ada juga pasangan selingkuh yang tak ingin sang orok menghirup udara dunia. Di hadapan penyidik di Mapolwiltabes Semarang Senin (8/5), SK mengaku kali pertama bertandang ke tempat praktik "dokter Hanung" di Jl Jembawan Raya No 3 RT 02 RW 01, Kelurahan Kalibanteng, Semarang Barat, dua bulan silam. Saat itu, kata dia, kandungannya berusia 4 bulan. Berkat tangan Hanung, janin dalam kandungan bisa diaborsi. Kendati sempat mengalami pendarahan cukup serius, SK bergeming. Dia tetap menurut setiap kalimat yang diucapkan sang dokter gadungan berdarah dingin itu. Kemarin, setelah menjalani serangkaian pemeriksaan di Mapolwiltabes, SK akhirnya dilarikan ke RSUP Dokter Kariadi. Kini untuk sementara waktu, dia harus beristirahat di rumah sakit lantaran pendarahan akibat aborsi yang dilakukan sang dokter gadungan kambuh lagi dan sudah mengancam jiwanya. "Dari penuturan SK saat kami periksa, dia mengenal tersangka (Hanung-Red) dari informasi temannya," tutur Wakasatreskrim Kompol Drs Cornelis Wisnu Adji Pamungkas SIK didamping Kanit Harda AKP Gede Widiana. Rupanya, kata dia, sebagian besar pasien Hanung tak mengenal banyak sepak terjang dokter yang pernah menjadi kurir pencari pasien "dokter" Agam sewaktu di Yogyakarta. Agam adalah dokter gadungan yang ditangkap polisi pada 2005 di Yogyakarta, lantaran melakukan praktik serupa. Lewat Agam pula, Hanung mengetahui cara-cara praktis melakukan aborsi. Jadi Terkenal Dokter Hanung menjadi terkenal di kalangan pasangan muda-mudi. Ketika kedapatan hamil di luar nikah, para pasangan muda itu mencari Hanung. Apalagi kalau bukan untuk aborsi. Untuk tiap pasien, dipatok tarif Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta. Kalau hanya beli obat-obatan untuk tiga kali minum, dia meminta Rp 750 ribu. Obat-obatan itu dibeli dari sejumlah apotek toko obat dan dipasok dari sejumlah detailer. Nama Hanung terus melambung lewat getok tular. Antara lain lewat kabar selentingan, sang dokter itu diyakini sebagai salah satu dokter cukup mahir dalam melakukan aborsi. Di sisi lain, lantaran buka praktik terselubung, nama dokter Hanung hanya dikenal beberapa kalangan. Bahkan tetangga kanan kirinya tak banyak tahu. Ini diketahui dari penuturan Ny Ana (45) yang tinggal selisih dua rumah dengan tersangka. "Saya puluhan tahun bertetangga dengan Pak Sumarso (ayah Hanung-Red), tapi tak pernah mendengar ada tempat praktik dokter di daerah kami. Saya justru baru tahu kemarin setelah baca koran dan melihat ada puluhan polisi datang ke rumah Hanung," ujar dia. Menurut dia, Hanung tinggal di salah satu ruangan yang terpisah dari rumah induk. Dia sudah dilarang orang tuanya masuk ke rumah induk. Sebab orang tua sudah kesal atas perilaku Hanung yang sering merugikan nama baik keluarga. Sepak terjangnya mulai dicurigai sejumlah warga. Itu setelah sering datang sejumlah orang yang menanyakan rumah dokter Hanung. Ny Pardiono (45) misalnya. Sebagai tetangga yang tinggal bersebelahan dengan keluarga Hanung, dia tahu persis tamu yang berkunjung. Meski sempat curiga, dia tak berani menanyakan. Selain takut, dia juga tak punya cukup bukti.(64m) | ||||