logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 09 Mei 2006 NASIONAL
Line

Banjir Seret Material di Lereng Merapi


TUMPENG PASIR: Masyarakat sisi barat lereng Merapi melakukan istighotsah dan tumpengan pasir di Ponpes Misbahudh Dholam, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, Senin (8/5). (30a)

BOROBUDUR - Hujan yang terjadi dalam tiga hari terakhir di sekitar Gunung Merapi, mengakibatkan material di lereng terbawa oleh banjir ke Kali Pabelan sepanjang kurang lebih delapan kilometer. Akibatnya, kali tersebut terkena limpahan material berupa pasir dan batu.

Hujan yang hampir terjadi setiap hari, mulai Sabtu (6/5) sampai dengan kemarin (8/5), menjadikan daerah aliran sungai (DAS) dipenuhi limpahan material pasir dan batu. Limpahan itu dimanfaatkan warga setempat untuk menambang pasir dan batu.

Wandi(40), salah seorang penambang pasir mengatakan, sudah tiga hari itu material di lereng Merapi terbawa oleh banjir. Banjir paling besar terjadi pada Sabtu (6/5) sore.

"Sabtu pekan lalu batu yang berdiameter lima puluh sentimeter terbawa bajir. Memang banjirnya tidak terlalu besar, namun arus yang mengalir dari lereng cukup kuat, sehingga mengakibatkan pasir dan batu di kali itu melimpah," katanya, kemarin.

Kali Pabelan merupakan pertemuan antara Kali Apu dan Kali Trising, yang semuanya berhulu di lereng Merapi. Menurut Wandi, aktivitas Merapi yang semakin meningkat akhir-akhir ini mengakibatkan material akibat guguran lava menumpuk di hulu sungai; sehingga ketika hujan deras dan banjir, material itu terseret ke kali.

Sementara itu ratusan orang di sisi barat lereng Merapi melakukan istighotsah dan tumpengan pasir di Pondok Pesantren Misbahudh Dholam, Kecamatan Srumbung, kemarin (8/5). Hadir dalam acara tersebut, putri Gus Dur, Yenny Wahid; GBPH Joyokusumo dari Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat, dan Gus Yusuf Chudlori pengasuh Ponpes API Tegalrejo.

Tumpeng Pasir

Tumpeng pasir merupakan gundukan pasir yang di atasnya diberi asap, dibuat serupa dengan panorama Gunung Merapi saat ini.

Tumpeng pasir itu, juga dihiasi pernak pernik yang terdiri atas sayuran, buah-buahan, dan hasil bumi lain, seperti tumpeng pada umunya.

Menurut ketua panitia, M Achadi, tumpengan pasir merupakan tradisi turun-temurun yang dimaksudkan untuk memohon keselamatan. Mengapa harus tumpeng pasir, bukan tumpeng nasi seperti pada umumnya; kata dia, pasir merupakan sumber penghidupan bagi masyarakat Srumbung.

"Srumbung terkenal dengan pasirnya yang berasal dari lereng Merapi. Tumpeng itu merupakan simbol dari kehidupan masyarakat Srumbung yang sebagian bergantung kepada pasir. Karena saat ini alam yang menjadi sumber penghidupan baru mengalami kritis, setidaknya kami ikhtiar untuk keselamatan bersama," tandasnya.

Sebelum melakukan ritual tumpeng pasir, acara didahului dengan pembacaan Kidung Rumeksa Ing Wengi ciptaan Sunan Kalijaga. Bersamaan dengan pembacaan kidung itu, tiga orang melakukan tapa pendhem di samping tumpeng pasir. Mereka mengenakan pakaian layaknya para santri Sunan Kalijaga, lengkap dengan tasbih di genggaman tangannya.

Sementara itu dalam tausiah, Gus Yusuf menyatakan, istighotsah kali ini meneruskan tradisi yang dilakukan para sesepuh kiai lereng Merapi. Dengan harapan, warga di lereng Merapi dijauhkan dari bencana.

Sinar Api

Dari hari ke hari setelah munculnya kubah lava 2006, aktivitas Gunung Merapi (2.968 m dpl) terus mengalami peningkatan. Selain jumlah guguran lava pijar yang teramati dari Pos Pengamatan Kaliurang meningkat, jumlah sinar api dari puncak gunung itu -yang teramati dari pos pengamatan lainnya- juga bertambah. Status masih dipertahankan pada Siaga Merapi.

Peningkatan intensif aktivitas Gunung Merapi itu, kemarin (8/5) dibenarkan oleh Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung, Jawa Barat, Ir Yousana P Siagian. Katanya didampingi Kepala BPPTK Yogyakarta, Dr Ratdomopurbo, peningkatan terlihat dari berbagai indikator. Antara lain dari jumlah guguran lava pijar, volume guguran lava pijar, dan cepatnya pertumbuhan kubah lava 2006.

Guguran lava pijar selama 24 jam pada 7 Mei yang teramati dari Pos Pengamatan Kaliurang, tercatat 47 kali. Jumlah itu lebih banyak dibanding sehari sebelumnya (6/5) dari pos yang sama, yang baru 18 kali. Adapun dalam waktu enam jam kemarin (00.00-06.00) sudah terjadi 20 kali. Sementara itu, semua guguran lava pijar masih tertahan (mengisi) di pelataran kawah Gendol dengan jarak luncur 150 meter.

Walau masih sama seperti hari sebelumnya, peningkatan juga terlihat dari pengamatan jumlah sinar api dari puncak. Dari pos Babadan, dilaporkan kemarin bisa mengamati sinar api sebanyak 13 kali, pos Ngepos 10 kali, Jrakah dua kali, dan dari pos Selo sembilan kali. Berturut-turut dua hari sebelumnya, dari keempat pos itu baru bisa teramati 10 kali dan empat kali sinar api.

Kemunculan bau belerang sebagai dampak meningkatnya aktivitas Gunung Merapi di Dukuh Songgobumi, Desa Mriyan, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali, dirasa semakin menyengat.

Bahkan beberapa warga dilaporkan menjadi pusing, sehingga untuk sementara tidak bisa melakukan aktivitas sehari-hari.

Ketua Tim Siaga Bencana Alam Gunung Merapi, dokter Syamsu M Komar SpB ketika dimintai konfirmasi Senin kemarin mengatakan, idealnya warga yang menghirup bau belerang harus segera diungsikan. Sebab bila terus dibiarkan, akan terganggu kesehatan. Namun untuk sementara ini, Puskesmas setempat sudah turun ke lapangan guna melakukan pengobatan atau penanganan kepada warga yang terkena dampak bau belerang.

''Hasil rapat koordinasi dengan dinas terkait, petugas dari Puskesmas diminta untuk menanggulangi dampak bau belerang tersebut,'' katanya.

Salah seorang warga Dukuh Songgobumi, Sukasno (50) mengatakan, kemunculan bau belerang sudah hampir satu pekan, dan biasanya pada malam hari. Bau belerang itu muncul dari arah lereng Gunung Merapi. Warga yang bermukim di sekitar kawasan gunung terkena dampaknya; kepala menjadi pusing dan sebagian sesak napas.

Hingga kemarin, BPPTK belum menaikkan status Merapi menjadi Awas. Status Awas ditandai dengan perubahan yang signifikan di puncak Merapi dan intensitas gempa yang tinggi. Pada fase tersebut, kemungkinan muncul awan panas. (sho,P58,shj,F5-67,64a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA