logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 09 Mei 2006 NASIONAL
Line

Masa Kritis hingga Sepekan


 Soeharto SM/dok

JAKARTA - Setelah menjalani operasi usus, kondisi mantan Presiden Soeharto sudah mulai stabil seiring dengan peningkatan fungsi vital tubuh. Kendati demikian, masa kritis diperkirakan masih berlangsung hingga sepekan mendatang.

''Setelah pembedahan, sudah tidak terjadi lagi pendarahan baru. Saat ini, kadar hemoglobin (Hb) Soeharto sudah 10,3 gr %,'' kata Ketua Tim Dokter Kepresidenan, Brigjen dokter Mardjo Soebiandono di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta, Senin kemarin.

Dia mengatakan, dalam operasi yang dilakukan terhadap mantan presiden Soeharto, tim dokter kepresidenan memotong usus besar sebelah kiri sepanjang 40 cm untuk menghentikan pendarahan. ''Karena Pak Harto sudah sepuh, masa kritisnya akan lebih lama, yakni bisa antara 5-7 hari lagi, dan saat ini masih dalam perawatan intensif,'' tambahnya.

Menurut Soebianono, Soeharto dirawat secara intensif, sehingga belum diperbolehkan menerima tamu.

''Itu dimaksudkan untuk mencegah terjadinya infeksi. Di satu sisi, hal itu diperlukan untuk mempercepat pemulihan kesehatan,'' tambahnya.

Pascaoperasi pun, Soeharto harus dirawat ekstra hati-hati. Untuk itu, Soeharto dirawat di ruang intensif hingga sembuh. Tim dokter yang menangani pascaoperasi, juga terdiri atas multidisiplin, seperti dokter bedah, jantung, ginjal, syaraf, dan dokter spesialis lainnya.

''Itu dilakukan, karena ada komplikasi penyakit yang diderita,'' katanya.

Soebandono menambahkan, alat-alat yang masih melekat di tubuh Soeharto adalah alat pemacu jantung, pernapasan oksigen, serta transfusi darah.

Operasi usus besar terhadap mantan Presiden Soeharto sendiri berlangsung Minggu tengah malam sejak pukul 21:00 selama tiga jam. Tim dokter kepresidenan mendiagnosa telah terjadi perdarahan di usus sebelah kiri, sehingga bagian yang mengalami perdarahan tersebut harus dipotong dan dibuang untuk kemudian disambung kembali.

Di tempat terpisah, Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh yang dicegat sebelum mengikuti rapat kabinet di Kantor Presiden menolak berandai-andai apakah setelah sembuh dari operasinya Soeharto akan kembali diperiksa. Yang penting saat ini adalah, yang bersangkutan sehat terlebih dulu.

''Saya tidak akan berandai-andai, apakah setelah sembuh Pak Harto akan diperiksa. Sekarang saya tak bicara itu dulu. Nanti orang menganggapnya apa. Sekarang bicaranya mendoakan, supaya dia cepat sembuh. Kalau sembuh, kita cerita lain,'' tandasnya.

Menyangkut biaya perawatan kesehatan yang bersangkutan, sebagai mantan presiden semuanya sudah dicukupi dari uang negara. Menjawab apakah tim yang memeriksa Soeharto sekarang adalah tim independen yang dimaksudkan untuk menilai layak-tidaknya mantan pemimpin Orde Baru itu diperiksa kejaksaan, Rahman menjelaskan bahwa yang berkompeten memastikan hal itu adalah dokter ahli syaraf.

''Otak itu kemampuan saraf. Kalau dokter kan lebih kepada fisik,'' tuturnya.

Kirim Surat

Sementara itu, usai menjenguk Soeharto, Wakil Ketua DPR, Zaenal Ma'arif telah mengirim surat kepada Jaksa Agung agar membatalkan rencana pemeriksaan terhadap mantan penguasa Orde Baru itu. Alasannya, saat ini kondisi kesehatan Soeharto sangat memburuk.

Dikatakan, saat ini Soeharto sudah memasuki usia 85 tahun, sehingga harus diyakini bahwa pemulihan kesehatannya sangat kecil.

''Bahkan Pak Harto berpotensi menderita penyakit tua lainnya,'' kata Zaenal dalam suratnya itu.

Selain itu, lanjutnya, banyaknya tokoh dunia yang mengunjungi dan mendoakan kesehatan Soeharto. Hal itu harus dipahami sebagai bentuk penghargaan mereka kepada mantan presiden itu.

''Atas dasar hal tersebut, demi rasa kemanusiaan dan dalam rangka menghormati serta menghargai jasanya sebagai mantan presiden, hendaknya saudara Jaksa Agung membatalkan upaya pemeriksaan ulang mantan Presiden Soeharto,'' tegasnya.

Hal itu, tidak berarti mengurangi penghargaan atas langkah hukum yang seharusnya ditempuh dalam proses tuntutan pidana terhadap mantan presiden tersebut.

''Sebagai manusia, tentu ada kurang dan lebihnya. Tetapi demi penghargaan atas jasa-jasanya, sekali lagi secara pribadi maupun sebagai anggota DPR, saya meminta agar upaya pemeriksaan dihentikan,'' tandas Zaenal.

Dia juga mengatakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) harus memerintahkan jaksa agung untuk menjenguk Soeharto dalam lima hari ke depan supaya mengerti keadaan.

Pada saat menjenguk ke dalam, Zaenal hanya berbicara dengan pihak keluarga, kendati Soeharto dalam keadaan sadar. ''Tadi saya hanya berbicara dengan Titiek dan Mamiek serta keluarga lain,'' ujarnya.

Ketua Komisi I DPR (bidang pertahanan), Theo L Sambuaga juga mengatakan, negara bisa menghentikan perkara Soeharto tersebut dengan pertimbangan kemanusiaan dan jasa-jasanya sebagai mantan presiden.

''Hal itu dapat dilakukan tanpa mengabaikan kesamaan setiap warga negara di muka hukum. Tetapi mengingat kondisi yang bersangkutan, pertimbangan kemanusiaan bisa diambil pemerintah, dan itu justru untuk memberi kepastian,'' katanya.

Secara terpisah, Ketua Komisi III DPR (bidang hukum), Trimedya Panjaitan meminta adanya kejelasan secara medis terlebih dahulu. Penjelasan dokter belum cukup, dan bukan sekadar second opinion.

''Sampai sekarang, belum ada akses ke publik. Misalnya melibatkan anggota legislatif, pers, dan lainnya. Itu diperlukan untuk meyakinkan bangsa bahwa Soeharto itu sakit secara permanen,'' katanya.

Sementara itu mantan Presiden RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengatakan, masalah Soeharto harus dilihat secara menyeluruh. Selain masalah kejahatan yang pernah dilakukan, juga dihargai jasa-jasanya.

''Selain kejahatan, harus dilihat juga Pak Harto itu berjasa terhadap negara dan bangsa,'' ujarnya.(H27,H28, A20,di-49a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA