logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 09 Mei 2006 KEDU & DIY
Line

Banyak Kambing Bantuan Mati

PURWOREJO - Kambing bantuan Gubernur Jateng ternyata banyak yang tak ada dan mati. Berkenaan dengan itu, Komisi B DPRD Purworejo melakukan dengar pendapat dengan beberapa dinas terkait, Sabtu (6/5).

Acara dengar pendapat di ruang Komisi B itu diikuti Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Drs Pram Prasetya Achmad MM, Kepala Dinas Kesejahteraan Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat (DKSPM) Ir Roes Wardjito, serta Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Ir Akhmad Fauzi MA.

Ketua Komisi B, Sutarno, saat mengawali acara itu menyatakan ingin tahu soal bantuan ternak kambing dan alat-alat pertanian. ''Jangan terulang seperti bantuan sapi yang kini sudah tidak ada sama sekali,'' katanya.

Lebih lanjut dia menyatakan menerima kabar bahwa kambing bantuan Gubernur Jateng untuk warga Purwodadi kini sudah tidak ada. ''Kenapa bantuan kambing itu tidak diberikan kepada warga Gebang atau Kaligesing saja yang sudah berpengalaman berternak. Sejauh mana kondisi kambing di Purwodadi,'' kata dia mempertanyakan.

Kepala DKSPM, Ir Roes Wardjito, dalam kesempatan itu memaparkan bahwa bantuan dari APBD I tahun 2004 dan 2005 tidak dalam bentuk uang tetapi berupa kambing. Arah bantuan tersebut diberikan kepada warga fakir miskin.

Pemberdayaan

Dikatakan, arah pemberian bantuan itu dalam rangka pemberdayaan kelompok masyarakat untuk mengembangkan rasa kepedulian sosial. Berkenaan dengan itu, sejak awal dia sudah melibatkan Dinas Pertanian dan Peternakan, baik dalam hal kesehatan hewan maupun pembinaannya.

Dipilihnya Purwodadi, menurut Roes Wardjito, karena di kecamatan itu yang dianggap perlu diberdayakan. Sebab berdasarkan data yang dia miliki, di sana banyak keluarga miskin. ''Kalau sekarang banyak yang dijual dan mati memang demikian kenyataannya,'' katanya.

Dipaparkan, di Desa Tegalkuning (Kecamatan Banyuurip) dari 247 ekor kambing sekarang tinggal 239 ekor. Sedangkan bantuan empat ekor sapi sekarang masih ada. Di Triwarno (Banyuurip) dari bantuan 350 ekor kambing sekarang berkembang menjadi 359 ekor.

Sementara di Seborokrapyak (Banyuurip) dari bantuan 350 ekor saat ini tinggal 130 ekor. ''Di sana banyak yang ditukar dan dijual karena sakit,'' katanya.

Paling parah terjadi di Bajangrejo (Banyuurip). Sebab dari bantuan sebanyak 350 ekor ternyata yang dilaporkan mati sebanyak 85 ekor. Dan sampai bulan Oktober lalu tinggal tersisa 77 ekor.

Sementara itu, di Desa Kalimeneng (Kemiri) dari 60 ekor kini bertambah sepuluh ekor. Di Kaliurip (Kemiri) dari 60 ekor sudah bertambah 17 ekor. Di Kedungpomahan Kulon (Kemiri) dari bantuan 60 ekor kini bertambah 15 ekor.

Petugas DKSPM, Sudarno, dalam kesempatan itu menyatakan, banyaknya ternak yang mati diduga karena stres. Sementara itu, mengenai banyaknya kambing yang ditukar atau dijual, menurut dia, sejak awal memang sudah ada lampu hijau. Yakni, apabila setelah enam bulan sampai satu tahun tidak ada perkembangan, maka bisa ditukar. (yon-24)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA